Mereka bilang cinta itu tidak pernah sederhana,
Perlu berkali – kali terjatuh, berlari kemudian jatuh lagi
di setiap perjalanan rasa yang menghampiri dan cinta hanya seperti udara yang
begitu mudah dihirup dan dihembuskan oleh siapa saja sesuka hati tanpa perlu
menjaganya dengan hati – hati.
Mereka bilang cinta itu melelahkan,
Seperti menemukan kupu – kupu palsu terjebak di perutmu yang
kemudian meledak dan membuat luka di situ yang tidak membuatmu bahagia
seutuhnya. Membuatmu menunggu entah apa
dan siapa, sementara dia bermain – main di darmagamu, berlari kecil di waktu
senja, menggodamu dan kemudian pergi lagi.
Seharusnya kamu tidak peduli lagi, tapi kamu tidak tahu
caranya. Kamu kira kamu akan baik – baik saja. Namun kamu meresahkan
kesendirian dan tak mampu mengubah caramu bernafas sedangkan aroma tubuhnya
terhirup dalam – dalam bersama wangi hujan yang membuatmu sesak oleh kenangan.
Mereka bilang rindu itu membuang waktu,
Bahkan ketika virusnya menjalar dan merusak kekebalanmu,
kamu masih mencoba untuk berada di titik rindu itu. Seperti berjalan dari satu
stasiun ke stasiun lainnya untuk membeli karcis agar memudahkanmu masuk ke
dalam pusat rindu. Namun dari sekian stasiun yan kamu datangi, tak ada satu pun
yang menjual karcisnya untukmu. Sedangkan kereta rindu itu pergi tanpamu dan
tak mungkin kembali dan di tengah – tengah gerbong waktu, ia malah sembunyi
dalam imaji.
Mungkin cinta tidak lagi sederhana.
Karena membuatmu berjalan perlahan menjelajahi kota
sendirian. Meskipun kamu pejalan tangguh, dan tak pernah mengeluh tentang
seberapa jauh jarak yang sudah kamu tempuh. Nyatanya di tengah – tengah perjalanan
itu nafasmu habis dan kamu kelelahan.
Namun di sela – sela itu semua, bukankah hati selalu tahu
yang terbaik untukmu? Seperti suatu ketika kamu tak kuasa mengontrol degup tiap
bertemu dengannya. Karena rindu tidak bisa terukur dalam jengkal tangan. Sementara
cinta tidak selalu gegap gempita oleh bentuk alismu, merahnya bibirmu, tebalnya
bedakmu, dan putihnya kulitmu. Cantik saja
tidak akan cukup untuk membuat semesta bergetar dalam dirimu. Sedangkan kamu
sudah begitu menggigil pada rindu yang membungkus bulirmu sendiri. Dan itu
membuatmu resah.
“Dan apakah rindu akan berhenti saat mati? Karena cinta
tidak lagi sederhana! Karena meski aku minum berbotol – botol pil penghapus
kenangan, ia masih menetap disini dengan aman!” katamu di satu malam menuju
pagi.
Yang ku tahu, cinta selalu sederhana
Seperti gerimis yang menghantarkan hari dan membawakanmu
setangkai rindu karena rindu yang paling berat pun perlu waktu. Dan di saat
yang tepat, cinta akan menyelinap masuk
di hatimu diam – diam dalam kesederhanaanya bersama sekumpulan pertemuan dan harapan yang menggantung di mimpi abu –
abu.
Betapa cinta itu sederhana,
Sesederhana seorang suami yang mengangkat galon untuk
mengganti air di dispenser, sementara istrinya menunggu sambil tersenyum dengan
gelas kosong di tangannya.
Sesederhana seorang istri yang marah karena suaminya pulang
malam tanpa kabar dan lupa makan.
Sesederhana siklusnya dimana keduanya saling menerima dan
memaafkan, saling berbagi kekuatan dan mengangkat beban bersamaan.
Jadi mari ku genggam tanganmu, namun tidak terlalu erat.
Karena pada saatnya, aku harus belajar membiarkanmu berjalan mencari akhir,
sementara aku akan berdiri di sampingmu disetiap jejak perjalanan itu dan
membantumu menyelaraskan perjalanan dengan sisa waktuku yang akan terhenti di
titiknya sendiri.
Tidakkah cinta itu sangat sederhana?