Sunday, October 22, 2017

she



Dia wanita

Ada jejak senja di rona pipinya.
Berbalut jingga di gaunnya.
Senyumnya terekah dalam warna merah di bibirnya.
Dan malam ikut serta melembutkan rambutnya yang beruntai-untai.

Dia wanita

Berjalan dalam langkah ringan di kakinya.
Namun sembunyi-sembunyi menyimpan beban di kedua bahunya.
Sedangkan matanya tetap teduh,

Senyumnya rikuh,mencipta gagu di mulutmu.

Dia wanita

Sebuah rumah sunyi,
ruangan berventilasi yang selalu ada untukmu bertukar udara.
Tangannya jendela,senyumnya pintu,pelukannya sofa berlengan yang membuatmu nyaman.
Sebuah kompilasi karya tentang cinta dan kehidupan tergantung di dindingnya.

Sebuah rumah yang membuatmu ingin cepat pulang.
Untuk memeluknya dan mencium aroma khas di bajunya.


Dan ia adalah kata pertama dalam semesta bahasa yang kita mengerti bersama, yang terucap dari mulut mungil anak-anaknya.

Ia hanya seorang wanita,
Yang selalu menyimpanmu di peringkat pertama di sudutnya.

Dan mungkin ia hanya ada di posisi terbelakang di sudutmu.

Dunianya kecil, suaranya lemah berbisik, sampai kadang-kadang kau pun tak terusik. Kehadirannya tak terasa, namun ia selalu ada menemanimu melewati hari tua sampai ia tak bernyawa.

Sampai satu ketika kamu tersadar,
Ketika ruangan menjadi terlalu sunyi dan kamar pun ikut berdebu.
Bahwa itulah perpisahan paling sunyi yang pernah kau alami.



Note :
Jangan takut kau tak cantik wahai wanita hanya karena kau tak pernah dipuji akan kecantikanmu. Karena cantik itu selalu punya batas kadaluarsa. Namun panggilanmu sebagai ibu akan selamanya ada.

Menulis ini disela-sela kepanasan menunggu hujan saat itu.



Thursday, October 19, 2017

Fragmen

Mereka bilang cinta itu tidak pernah sederhana,

Perlu berkali – kali terjatuh, berlari kemudian jatuh lagi di setiap perjalanan rasa yang menghampiri dan cinta hanya seperti udara yang begitu mudah dihirup dan dihembuskan oleh siapa saja sesuka hati tanpa perlu menjaganya dengan hati – hati.

Mereka bilang cinta itu melelahkan,
Seperti menemukan kupu – kupu palsu terjebak di perutmu yang kemudian meledak dan membuat luka di situ yang tidak membuatmu bahagia seutuhnya.  Membuatmu menunggu entah apa dan siapa, sementara dia bermain – main di darmagamu, berlari kecil di waktu senja, menggodamu dan kemudian pergi lagi.

Seharusnya kamu tidak peduli lagi, tapi kamu tidak tahu caranya. Kamu kira kamu akan baik – baik saja. Namun kamu meresahkan kesendirian dan tak mampu mengubah caramu bernafas sedangkan aroma tubuhnya terhirup dalam – dalam bersama wangi hujan yang membuatmu sesak oleh kenangan.

Mereka bilang rindu itu membuang  waktu,
Bahkan ketika virusnya menjalar dan merusak kekebalanmu, kamu masih mencoba untuk berada di titik rindu itu. Seperti berjalan dari satu stasiun ke stasiun lainnya untuk membeli karcis agar memudahkanmu masuk ke dalam pusat rindu. Namun dari sekian stasiun yan kamu datangi, tak ada satu pun yang menjual karcisnya untukmu. Sedangkan kereta rindu itu pergi tanpamu dan tak mungkin kembali dan di tengah – tengah gerbong waktu, ia malah sembunyi dalam imaji.

Mungkin cinta tidak lagi sederhana.
Karena membuatmu berjalan perlahan menjelajahi kota sendirian. Meskipun kamu pejalan tangguh, dan tak pernah mengeluh tentang seberapa jauh jarak yang sudah kamu tempuh. Nyatanya di tengah – tengah perjalanan itu nafasmu habis dan kamu kelelahan.

Namun di sela – sela itu semua, bukankah hati selalu tahu yang terbaik untukmu? Seperti suatu ketika kamu tak kuasa mengontrol degup tiap bertemu dengannya. Karena rindu tidak bisa terukur dalam jengkal tangan. Sementara cinta tidak selalu gegap gempita oleh bentuk alismu, merahnya bibirmu, tebalnya bedakmu, dan putihnya kulitmu.  Cantik saja tidak akan cukup untuk membuat semesta bergetar dalam dirimu. Sedangkan kamu sudah begitu menggigil pada rindu yang membungkus bulirmu sendiri. Dan itu membuatmu resah.

“Dan apakah rindu akan berhenti saat mati? Karena cinta tidak lagi sederhana! Karena meski aku minum berbotol – botol pil penghapus kenangan, ia masih menetap disini dengan aman!” katamu di satu malam menuju pagi.

Yang ku tahu, cinta selalu sederhana

Seperti gerimis yang menghantarkan hari dan membawakanmu setangkai rindu karena rindu yang paling berat pun perlu waktu. Dan di saat yang tepat,  cinta akan menyelinap masuk di hatimu diam – diam dalam kesederhanaanya bersama sekumpulan pertemuan  dan harapan yang menggantung di mimpi abu – abu.

Betapa cinta itu sederhana,

Sesederhana seorang suami yang mengangkat galon untuk mengganti air di dispenser, sementara istrinya menunggu sambil tersenyum dengan gelas kosong di tangannya.

Sesederhana seorang istri yang marah karena suaminya pulang malam tanpa kabar dan lupa makan.

Sesederhana siklusnya dimana keduanya saling menerima dan memaafkan, saling berbagi kekuatan dan mengangkat beban bersamaan.

Jadi mari ku genggam tanganmu, namun tidak terlalu erat. Karena pada saatnya, aku harus belajar membiarkanmu berjalan mencari akhir, sementara aku akan berdiri di sampingmu disetiap jejak perjalanan itu dan membantumu menyelaraskan perjalanan dengan sisa waktuku yang akan terhenti di titiknya sendiri.

Tidakkah cinta itu sangat sederhana?




Lembayung Laut Biru

                                                          Ada nama yang tidak sekadar dipanggil -- ia diseru. Dipanggil bukan hanya oleh sua...