Telah ku ketuk pintumu berkali-kali.
Diketukan pertama ada harapan cinta akan menyapa dititik embun pertama. Menumbuhkan harapan kamu berdiri dibaliknya sambil menatap ditepian jendela bahwa aku lah yang sedang kamu tunggu.
Diketukan kedua ada sepasukan kupu-kupu melayang rendah mencipta degup. Sambil sesekali mengukur rindu dengan jengkal, dan kemudian bertanya pada diri, apakah rindu akan berhenti ketika mati?
Diketukan ketiga ada kamu dan aku dibatas pintu kaca. Seperti kenangan lewat garis tipis gerimis yang kita terobos sama-sama. Kenangan yang sama seperti suara jangkrik dimalammu.
Kenangan yang sengaja terbuka seperti suara cicak di dindingmu.
Kenangan yang ingin aku bagi seperti suara hening ditidurmu.
Kalau detik yang aku maksud sedang jalan berdampingan dengan detik yang dunia maksud, aku mau detik ini juga menghadirkan kau di sini, menghabiskan malam berdua.
Maka ku ketuk lagi pintumu.
Kudengar suara knop terputar. Dan ada kamu disitu. Dengan ciri khas senyummu yang sudah aku kenal.
Aku cukup mengenal senyummu ketika bahagia seperti aku mengenal senyummy ketika canggung. Senyumnya kali ini jelas sekali bercerita, bahwa ia bahagia.
Usahaku mengetuk pintumu berkali-kali bukan lagi perkara sia-sia. Kali ini kamu mencipta ruang untuk ku singgahi. Memberi tabung hati untuk ku simpan sebagai bekal diperjalanan nanti.
Ketika aku hendak masuk ke ruanganmu. Kamu membanting pintu dan berkata.
"Maaf, kamu salah alamat"
10/07/2016
Nb : kadang mengetuk pintu berkali-kali bisa menjadi pekerjaan yang sia-sia. Terutama jika pintunya sengaja terkunci rapat dan mencipta jarak.