Part 1
Sampai di rumah, langsung masuk kamar, kemudian mandi berpakaian, makan, dan kembali ke kamar. Itu adalah ritualku saat di rumah. Tidak banyak yang bisa aku kerjakan paling-paling disodorkan dengan pertanyaan-pertanyaan menjebak dari ayah dan ibu. Terkadang aku menghabiskan malam hanya di kamar. Jika benar-benar ingin, aku akan duduk-duduk sendirian di beranda depan atau di ayunan yang terletak di pinggir taman. Cuma duduk-duduk sambil minum kopi kadang sendirian, namun aku tidak pernah merasa sepi selama aku masih bisa memeluk diri sendiri. Aku jarang mengobrol dengan orang rumah,karena obrolan kami hanya seputar pekerjaan, pendidikan sampai kita mati kebosanan.
Malam hari, ketika ingin mengambil air minum, aku melihat ibu berada di dapur. Tampak ia sedang duduk melamun, entah karena kelelahan atau sedang memikirkan sesuatu. Ia duduk sambil menatap lemari makanan dengan pandangan tidak fokus.
Ibu. Panggilku dengan lembut. Ibu menoleh.
Ibu sedang apa? tanyaku hati-hati.
Ibu berdiri dan langsung berpura-pura menyibukkan diri dengan merapikan sendok dan garpu.
Baru cuci piring, ada apa Laut? tanya ibu dengan nada yang sama hati-hatinya seperti aku. Aku tersenyum.
Ibu sakit? muka ibu pucat. Jawabku.
Ah masa? Kecapekan kali ya. Ibu meyakinkanku sambil meraba keningnya sendiri.
Aku tersenyum lagi.
Istirahat bu, jangan kecapekan dan banyak pikiran. Kalau ada pikiran lebih baik di share dengan orang yang tepat. Nggak melulu harus orangtua, anak juga bisa jadi pendengar yang baik kok. Aku berkata sambil menyodorkan ibu segelas air dingin. Berharap dengan dinginnya air bisa meluruhkan semua hal yang dirasa di hatinya. Kali ini ibu yang tersenyum. Ia menatapku dengan pandangan lembut, anak perempuanku sudah dewasa! Bisik ibu dalam hati.
Ibu sebenarnya capek Laut. Kadang ibu merasa kalah,merasa apa yang sudah ibu usahakan untuk keluarga tidak terlihat. Ibu tahu apa yang dilakukan ayah sekarang. Bukan hanya rapat di gedung rektorat, atau sibuk menyusun anggaran awal semester. Kamu juga tahu, tapi demi anak-anak ibu, ibu bertahan. Makanya ibu berharap besar sama kamu untuk tidak terlalu sering ngelawan ayah. Ibu cuma nggak mau kamu kenapa-kenapa. Di situasi kayak gini, mending ikutin aja mau ayah.
Aku terdiam lama. Ada peperangan dalam diriku dan entah siapa yang akan menang. Antara keinginanku untuk melawan dan kewajibanku untuk menurut kepada keinginan orangtua. Aku minum dari gelasku lagi sekedar untuk membuatku sibuk.
Ibu tahu kamu nggak mau. Tapi bukan berarti ibu diam aja. Ibu juga lagi usaha nyadarin ayah supaya balik seperti dulu. Tapi perlu waktu yang panjang. Kamu mau kan buat itu untuk ibu?
Pertanyaan yang menjebak! Pikirku. Tapi aku punya daya apa toh hidupku sudah ditentukan dari awal aku mengecap udara. Aku mencoba mengutarakan satu-satunya hal yang kupikir bisa aku katakan, hanya supaya hati yang terasa berat ini sedikit hilang.
Sejak awal memang Laut nggak punya daya untuk melawan bu. Nggak ada peperangan yang harus dimenangkan. Karena selama ini Laut lebih banyak kalah daripada menang. Laut nggak mau terperangkap lagi, menutupi sesuatu yang semua orang tahu. Laut juga capek! Laut nggak minta banyak, cuma ingin dimengerti, ingin didengar yang sama sekali nggak Laut dapat dimana-mana. Sialnya kata-kata yang ingin ku katakan itu hanya mampu bersuara di dinding hati. Aku tidak pernah punya kesempatan untuk menyampaikannya.
Laut? Kok diam? tanya ibu hati-hati.
Aku menghela nafas panjang. Minum lagi agar getar suara menahan emosi tidak terdengar oleh ibu.
Iya bu, Laut coba buat ngerti. Asal ibu dan ayah juga ngertiin Laut. ucapku dengan suara yang ditenang-tenangkan. Hanya itu yang mampu aku utarakan.
Insya Allah sedikit-sedikit ayah pasti berubah. Banyak doa dan ikhlas ya Laut! kali ini mata ibu mulai berkaca-kaca. Kalau sudah begini jelas aku lah yang harus mengalah. Aku paling tidak bisa melihat ibu menangis. Walaupun ibu jarang memperlihatkannya di depan siapapun, namun aku tahu beban ibu lebih berat dari apa yang yang menjadi bebanku. Untuk menjadi keluarga harmonis adalah tetap menahan beban salah satu anggota agar tetap bertahan. Mendukung satu-satunya pengharapan ketika tidak ada satupun yang merasa setuju dengan kita, keluarga lah yang tetap ada. Kata-kata penghiburan yang aku ucapkan untuk diriku sendiri minimal aku tidak sendiri. Beban ini memang sudah jadi tanggung-jawab yang harus aku bawa pergi kemana-mana. Ku rasa bukan aku saja, karena ibu pun demikian. Jadi mengalah sedikit lagi bukanlah hal yang sulit bukan?
Ku tahan air mata yang hampir jatuh. Aku pun harus sekuat ibu, jangan membuatnya susah lagi. Ku tanamkan pikiran itu dalam-dalam. Ibu menatapku lagi seolah ingin membaca pikiranku. Mencoba merasakan apa yang tengah kurasakan dihati.
Kamu nggak apa-apa Laut? nada khawatir terpeta disitu.
Nggak apa-apa bu. Laut masuk kamar dulu ya bu, ada tugas dari dosen. Ibu tidur saja, ayah nggak usah ditunggu. Kak Wira sama Kak Kartini kan sudah pulang. Lagian ayah bawa kunci, ibu istirahat ya. Kataku cepat seolah ingin segera selesai dengan materi percakapan yang melelahkan seperti ini.
Ya sudah,tidurnya jangan malam-malam. ucap ibu menyudahi percakapan kami. Dan aku berbalik kearah kamar.
Ku tutup pintu kamar rapat-rapat. Ku kunci. Dan mulai menangis tanpa suara.
Aku lelah ya Tuhan! tangisku miris.
Aku tersungkur dibawah kakiku sendiri. Kelelahan ini bukan kelelahan biasa. Kelelahan yang tidak ada ujungnya, seperti berjalan atau berlari tapi tidak pernah sampai digaris finish. Aku lelah!
Disela-sela aku yang baru saja terlelap karena kelelahan sehabis menangis, terdengar suara gaduh dalam rumah. Suara barang melayang. Suara piring atau gelas pecah disertai orang yang sedang marah-marah. Aku terjaga seketika itu juga. Aku bangkit dari tempat tidur dengan tubuh yang tidak bisa menyembunyikan getarannya. Aku gemetar. Ku beranikan diri membuka pintu kamar, ku lihat ayah yang setengah mambuk tengah bicara sendiri sambil melempar seluruh barang yang ada didepannya.
SIALAN SEMUANYA. KURANG AJAR SEMUANYA!SUDAH SAYA KASIH MAKAN,TAPI TIDAK TAHU TERIMA KASIH. Teriak ayah keras.
Kali ini ayah marah pada siapa lagi? Aku mengintip lagi. Ayah bergerak semopoyongan menuju arah dapur. Mengambil banyak piring dan gelas lagi untuk ia pecahkan. Tidak ada seorang pun yang keluar dari tempatnya. Semua ketakutan,terlebih kakak laki-lakiku kak Wira sedang tidak ada di rumah. Tidak banyak yang bisa kami lakukan selain diam dan ketakutan.
MAKANYA SAYA CARI WANITA LAIN GARA-GARA INI. SIALAN SEMUA! ayah berkata dengan nada khas orang yang tengah mabuk.
Aku kembali ke kamar, kemudian menutupnya dan menguncinya rapat. Segera saja ku ambil selularku dan mengirim pesan pada ibu. Aku sudah hafal kebiasaan ibu yang sering meletakkan selularnya disamping telinganya.
Ibu, kunci pintu. Jangan keluar ayah lagi mabuk.
Message sent.
Terdengar bunyi ringtone ibu dikejauhan. Dan aku tahu bahwa ibu sudah mengunci pintunya terlebih dahulu, bahkan sebelum aku mengirimkan pesan ini terbukti ayah menggedor pintu kamar yang berarti pintu telah ibu kunci dengan serapat-rapatnya.
HEH! BUKA PINTU! SUAMI PULANG MALAH KUNCI PINTU
Hening. Tidak ada jawaban dari ibu.
BUKA PINTU TOLOL!! Hardik ayah keras.
Suasana tetap hening.
OKE. SAYA PERGI LAGI!SIALAN EMANG, SENENG KALAU SAYA NGGAK PULANG!
ayah teriak lagi diiringi suara gebrakan pintu. Masih menggerutu keras, ia membuka gerbang dan pergi dengan mobil. Deru suara knalpot mobil yang mulai menjauh menandakan sudah aman untuk keluar dari kamar. Tidak lama kemudian terdengar suara kunci yang terbuka. Ibu yang masih mengenakan mukena keluar perlahan. Ada sembab diujung matanya.
Biar Laut yang kunci pintu bu, Ibu didalam rumah saja ya. Aku berujar sambil berjalan ke depan rumah untuk mengunci pintu gerbang dimana ayah meninggalkannya terbuka lebar. Ibu mengikutiku dari belakang. Aku kunci pintu gerbang. Berbalik dan merangkul ibu diantara bahunya. Gemetar tubuhnya masih terasa disana.
Kami berdua masuk ke dalam rumah, dan terduduk diam di sofa ruang keluarga. Kak Kartini yang baru saja tersadar dengan suara gaduh keluar dari kamarnya setelahnya.
Si ayah mabuk lagi ya? tanya kak Kartini sambil membentulkan rambutnya yang kusut.
Tadi aku denger suara mobil keluar. Ayah pergi dari rumah bu? tanyanya lagi. Yang mampu ibu lakukan hanyalah anggukan lemah tanda membenarkan. Setelah mendapat kebenaran itu, kak Kartini ikut terduduk kaku. Kami bertiga diam dalam sunyi, bercengkrama dengan pikiran kami masing-masing.
Aku berdiri, mengambilkan dua gelas air. Satu kuserahkan kepada ibu yang masih duduk terhenyak dikursi sofa, satu lagi kuserahkan kepada kak Kartini. Seketika itu pula rasa kantuk dan lelah hilang. Hanya ada rasa cemas yang bergabung rasa ketakutan. Kami buntu.
Setelah ku pastikan semua meminum air yang kuserahkan tadi. Aku bicara.
Bu,sebaiknya ibu istirahat. Sudah jam 1.00 dini hari bu, kita semua perlu istirahat. Kak Kartini juga,besok kan kerja.
Diam sesaat, Ibu menghembuskan nafas berat. Kak Kartini menatapku seakan ingin mendapatkan transferan tenaga untuk bangkit dari tempat duduk. Semua shock namun tidak bisa melakukan apa-apa.
Ya sudah kita semua istirahat ya. Jangan lupa doa sama Allah.biar kita diberi kesabaran. Ibu membuka suara.
Pecahan barang-barangnya besok saja dibereskan. Kalian tidur ya. Ibu bicara kembali.
Kali ini aku yang terdiam. Ada nada pilu yang tersembunyi disitu.
Maafkan aku ibu,Laut belum punya daya melakukan sesuatu. Hatiku berbicara.
Diawali ibu yang beranjak menuju kamarnya,disus,disusul kak Kartini. Setelah keduanya menutup dan mengunci pintunya, tinggal aku duduk sendirian. Aku melihat ke segala arah. Rumah begitu berantakan. Perabotan yang biasanya tertata rapi diatas meja tergolek lemah dilantai. Beberapa diantaranya pecah, seperti piring serta lauk-pauk makanan yang sengaja disajikan untuk ayah sepulang kerjanya tumpah ruah diatas lantai. Gelas-gelas, ornamen kecil yang biasanya tersimpan disudut ruang makan. Bingkai foto besar yang tergantung didinding ruang keluarga pun ikut jatuh. Sebagian kacanya pecah dan sompal. Aku berdiri, kemudian mengambil foto berukuran besar yang pecah. Aku ambil sapu dan mulai bekerja merapikan pecahan kaca yang berserakkan dilantai. Ada yang retak didadaku. Sesuatu yang lebih parah dari pada patah hati. Lebih kelam dari kehilangan pacar. Bisakah kita berpura-pura tidak pernah terjadi apa-apa? gumamku lirih sambil menatap foto keluarga yang pecah belah. Tuhan memang sengaja menciptakan jarak yang sulit untuk ditempuh. Namun ketika kita bisa melewatinya, jarak yang jauh itu terasa lebih dekat dan meringankan. Aku sedang menunggu hal itu, namun bukan hanya aku. Ibu pun menunggu. Namun menunggu itu adalah hal yang meresahkan. Tapi aku berkeyakinan pada akhirnya menunggu merupakan tahapan yang menguatkan. Sesuatu yang benar-benar kita tunggu akan terasa membukakan jalan ketika ia tiba-tiba hadir siap atau pun tidak.
Aku memandang segala ruangan sambil berkeliling. Setidaknya kaca-kaca yang tadi pecah sudah kusingkirkan. Tidak ada kaki-kaki yang akan terluka. Begitupun hati kami, tidak akan ada pecahan apapun yang akan melukai. Tuhan melihat kami berusaha, dan usaha kami akan terbayar pada akhirnya. Aku percaya.
Begitu segalanya selesai kurapikan, aku kembali ke kamar. Jam 02.32 dini hari. Kelelahan luar biasa menderaku. Aku limbung. Kepalaku sakit. Mungkin terlalu lelah, pikirku. Segera saja aku berbaring dan menarik selimut. Sebelum tertidur imajinasiku hadir membisikkan syair puisi Rendra.
Mengingat ibu, aku melihat janji baik kehidupan.
Mendengar suara ibu, aku percaya akan kebaikan hati manusia.
Melihat photo ibu, aku mewarisi naluri kejadian alam semesta.
Tuhan, setidaknya bahagiakan ibuku. Doaku sebelum akhirnya tertidur pulas.
To be continued