Monday, November 5, 2012

Lights

Ada banyak cahaya yang tersembunyi.
Di dalam mata yang menyimpan banyak warna ada cahaya.
Ada cahaya dalam senja.
Ada cahaya dalam diri kita.
Ada cahaya di atas awan.
Bahkan ada cahaya ketika jelaga.
Ada cahaya di atas malam.
Bukan sekedar cahaya yang terang lewat lampu neon diatas kamar.
Bukan juga cahaya yang cuma bisa kita nyalakan dari mekanisme listrik.
Ada cahaya lain yang berasal dari jiwa.
 Yang perlu kita lakukan adalah membuka diri kita, untuk menerima segala cahaya disetiap penjuru. menuju cahaya. Cahaya dari segala cahaya.




Tuesday, October 2, 2012

Destiny! Here we are! (Part 2)







Kembali, pada sebuah waktu dimana kita belum saling mengenal. Mungkin kita sudah kenalan sejak dulu, namun tidak benar-benar kenal seperti sekarang. Kamu yang terkenal flamboyan, penyuka alam, lagu hardcore dan pop indie, si friendly yang tidak jarang jadi flirty (hihi. Peace!), si penulis, si heart breaker dan apapun yang jadi titlemu ketika itu. Sedangkan aku! Hmmmm…. Tunggu,tunggu. Aku memang kebalikan dari itu semua namun sepertinya kamu tidak begitu mengenalku seperti aku yang sudah kenal kamu duluan bahkan sebelum kamu benar-benar mau kenal aku. Aku ingat dulu waktu pertama kali kita ketemu diselasar kampus dan kamu masih dengan mantan pacarmu yang cantik itu, kita berjalan berlawanan arah. Kamu bergandengan dengan mantanmu itu, dan aku berjalan dibelakang kawan-kawanku. Kita berpas-pasan. Menyapa sekedarnya. Dan sudah.
Kita tidak benar-benar tahu apapun tentang masa depan yang mendekatkan. Kita sibuk dengan pikiran dan perasaan kita masing-masing waktu itu. Tidak terpikir bahwa suatu hari kita akan diberi kesempatan untuk menjadi teman seumur hidup sampai kita mati. Aku kenal kamu waktu itu sekedar hanya keharusan dan aku tidak begitu suka kamu yang terlihat selalu berantakan dengan segala title yang sudah terlekat erat di keningmu itu.
Hari ini adalah kesekian kalinya aku membuka kembali potongan-potongan memori dan mencari satu penghubung diantara itu semua kemudian menceritakannya disini agar tanpa banyak usaha, kamu bisa langsung menghadirkan semua potongan-potongan kenangan itu tanpa ter-interupsi oleh pikiran-pikiran lain seperti hutang atau bunyi sms tagihan hutang lain misalnya. Cerita ini adalah sesuatu, dan sebutlah sesuatu itu adalah mimpi. Aku ingat mimpiku dulu. Aku pernah bertemu denganmu di mimpi. Namun entah dimana aku lupa. Aku bermimpi kita bertemu di rumah, kemudian di kampus dan terakhir disebuah taman bermain. Memang tidak jelas baik penggambarannya bahkan dari wajahmu saja sengaja Tuhan buramkan untuk menghadirkan kemisteriusan destini. Aku ingat tiga kali berturut-turut bermimpi yang sama. Meski sampai sekarang tidak pernah ingat detailnya, namun ada satu hal yang paling aku ingat yaitu perasaan yang nyaman dan aku merasakannya sampai tiga kali ketika mimpi itu hadir. Bahkan perasaan nyaman itu ikut hadir waktu kita akhirnya bertemu lagi. Karena itulah aku selalu suka angka- 3. Aku anggap angka ini sempurna. Selalu membawa kepada sesuatu yang baik. Meski tidak men-dewa-kan angka atau nomor, namun aku percaya setelah tiga kali bermimpi yang sama bahwa ada ‘Sesuatu’ yang sengaja dihadirkan Tuhan sebagai clue. Disini aku membawamu kepada teka-teki kehidupan. Membawamu kepada kemisteriusan destini. Menghantarkanmu kepada petunjuk-petunjuk yang saling berkorelasi dengan segala hal yang terjadi di hidup kita bahkan sebelum kita tahu. Tak ada yang bisa memecahkan misteri tersebut selain diri kita sendiri. Dan aku bercerita untuk membuktikannya. Boleh percaya, boleh juga tidak.
Kamu percaya ada banyak ruang di hati yang sengaja diciptakan?  Fungsinya adalah ketika satu ruang hati berantakan, akan ada ruangan lainnya yang menunggu diisi. Boleh jadi sejak ketiga kalinya aku bermimpi, aku sudah siap-siap membuat ruang terbesar dan berkapling terluas di hati. Siapa sangka, kalau ruangan itu akhirnya terisi oleh kamu. Entah apa hatimu juga begitu. Cuma kamu yang tahu.
Kembali lagi ke waktu akhirnya kita selangkah lebih dekat dengan destini. Siapa yang bisa membayangkan bahwa perlu bertahun-tahun dan banyak terluka untuk mencapai satu langkah destini. Setelah akhirnya benar-benar dekat, ada fase dimana kita bukan sekedar mengenal. Kita berusaha melebur semua jadi satu dimana setiap sensori yang ada didalam diri kita ikut bekerja untuk menciptakan sebuah destinasi. Ada satu masa dimana kita melompati waktu. Merancang masa depan dan menerobos garis-garis tipis dari destini. Bukan sekedar membayangkan saja, namun berusaha untuk mewujudkannya. Namun ditengah-tengah perjuangan mencapainya, tidak jarang aku pernah hampir menyerah.
Kamu ingat berapa kali dari satu minggu kita bertengkar tentang banyak hal?
Kamu ingat berapa banyak pelarian-pelarian yang pernah kamu buat sekedar untuk memberi kenyamanan buat kamu dan aku?
Kamu ingat berapa seringnya masuk lalu-lalang orang banyak baik pria dan wanita yang sengaja kamu hadirkan untuk masuk lebih jauh kedalam hatimu bahkan ke kehidupanmu?
Disitulah letak misteriusnya. Destini adalah misterius. Ketika aku yang hampir menyerah, destini malah menjadi semakin kuat mendekat. Ia bukan sekedar berjalan namun berlari kencang kearah kita. Seperti ingin berkata “ Hati ini terlalu luas untuk kamu tinggali sendiri. Maka aku ciptakan ruang terbesar dan kesabaran yang meninggi untukmu untuk bisa berjalan sejajar kearahku”. Destini bicara kepada kita selayaknya inspirasi ketika hujan, ia bicara kepada kamu yang berputar-putar mengejar destinasi dan bicara yang serupa kepadaku yang hampir mau menyerah berbalik arah dari destinasi. Aku tidak tahu apa nama keren untuk fenomena ini, namun yang aku tahu adalah aku tidak pernah seloyal ini dalam menjaga urusan hati. Sampai aku bertanya pada diri semdiri kamu punya mantra apa sehingga aku mau bertoleransi pada segala tingkah yang semaumu itu? Dan kamu pun balik bertanya aku pakai mantra apa untuk membuatmu tetap yakin pada langkahmu denganku meski pernah beberapa kali tersandung urusan hati yang lain. Destini telah menciptakan substansi waktu dimana setiap jam, detik, menit, hari, bulan, juga tahun ikut berpartisipasi untuk mempertemukan waktumu dan waktuku sehingga tetap berjalan searah dan tidak pincang. Tanpa sepengetahuan kita destini selalu punya rencana back-up untuk menjadikan kita bukan Cuma cerita, namun hal yang nyata.
Masih ingat waktu kita sedang memberi ruang sendiri-sendiri karena satu hal dan aku yang mencoba keras untuk mengembalikan kepercayaan terhadapmu juga terhadapku. Bukannya dijauhkan, namun kita malah dipertemukan. Disatu sore itu, dikerumunan orang itu kita malah didekatkan. Dari situlah aku yakin bahwa destini bekerja keras menciptakan kamu, aku, jadi satu kesatuan yang utuh tanpa cela.
Kembali ke masa itu kemudian berganti kemasa sekarang. Apa menurutmu ada yang beda?
Kita sudah jauh lebih dekat dari kita yang dulu. Kita bahkan seolah berbagi helaan nafas. Aku ingat kamu berkata begini, “aku bahagia sekarang. Namun bukan bahagia yang terlalu. Semua terasa cukup karena sesuatu yang terlalu bisa jadi salah nantinya. Dan orang ngga ada yang akan ngerti dengan penjelasan yang kayak gini. Tapi aku harap kamu lebih ngerti dari oranglain itu”
Aku membatin, mungkin kamu juga cukup cinta aku karena tidak mau terlalu mencintai karena cinta yang terlalu bisa menjerumuskan. Mungkin juga kamu cukup banyak waktu untuk menunggu aku yang berjalan sangat pelan menuju destini, karena jika terlalu kebanyakan waktu semua malah jadi sia-sia.
Semua hal yang terlalu itu, selalu membuat kita melihat terlalu terburu-buru. Berspekulasi bahwa apapun yang kita lakukan akan selalu menjadi terlalu yang akhirnya nanti malah jadi keterlaluan. Aku pikir memang setiap orang punya ekpektasi dan imajinasi juga persepsi sendiri-sendiri dan ketika mereka bertanya serupa apa kebahagiaan yang ada kepada kita, mereka malah tercengang karena standarisasi kebahagiaan orang tidak pernah cukup bisa diuraikan satu-satu meski akhirnya kita saling menggenapkan. Aku kira oranglain tidak perlu mengerti, Cuma kita saja yang mengerti dan destini memang mengarahkan kita berada di alur tersebut.  Aku pun tidak kecewa karena aku tahu sejak awal putaran-putaran destini yang bergerak selalu akhirnya kembali lagi kepada kita. Karena sebesar apapun yang kita buktikan, sebaiknya kita tidak terjebak di dalam sesuatu yang terlalu. Sehingga kita tidak perlu menghapus salah satu memori yang sudah terjejak sebelumnya dan kita malah bisa tetap membicarakannya dengan santai sambil minum kopi sampai dini hari.
Bukan berarti segala yang sederhana bisa terjadi dengan sangat mudah dan cepat. Karena terkadang aku kesusahan menjangkaumu yang kelewatan cepat berlalu. Jarak waktu yang aku sebut cepat dan kamu sebut lambat itu menjadi sangat relatif. Sehingga semua menjadi begitu lentur dan terbentuk dengan baik pada akhirnya. Dalam perjalanan yang kita pilih untuk satu pencapaian bukan Cuma sekedar menyapa untuk kemudian pergi lagi. Kita sudah satu langkah kearah pencapaian destini, dan aku yakin destini punya rencana-rencana mengaggumkan yang tidak terbayangkan dan semua itu ada di tangan Tuhan yang memang sudah menciptakan jutaan kesempatan. Kita tinggal melihatnya dengan cermat. Tuhan yang sudah merancang destini menunggu kita berusaha agar kita peka terhadap jawaban masa depan yang sebetulnya sudah diciptakan, hanya terangkum dalam banyak kata untuk kita terjemahkan yang tersamar menjadi kata ‘Ya’ , ‘Tidak’, ‘Mungkin’ , ‘Bukan waktunya’ dan ‘Akhirnya…’ Sehingga rasa bahagia yang kita berdua rasakan bukan Cuma kupu-kupu palsu.
Untuk destini aku tarik satu kesimpulan. Bahwa kita hadir di dunia adalah untuk menghadapi satu keutuhan destinasi yang tidak hanya bermanfaat untuk kita, namun jika kita sedikit melenceng dari jalan yang sudah ditetapkan. Tuhan akan menciptakan destini yang sudah dimodifikasi dan sudah ter-intermediasi secara masal. Sehingga kita benar-benar sadar dan jarak untuk mencapai masa depan menjadi terlihat lebih dekat, bukan cuma jarak fatamorgana saja. Seperti menjemput kita dengan cepat namun tetap berkata dengan ramah ‘Hati-hati dijalan. Jangan sampai tersandung dan jatuh ya!”
Hari ini, aku bangga mengingatmu ketika dulu. Bahagia untukmu sekarang karena destini telah tercipta untuk kita menjadi satu frame di satu dunia yang sama. Dan secara umum bisa kita perlihatkan kepada semua orang bukan Cuma peralihan peran saja, namun benar-benar disikapi karena kesadaran dan kepercayaan terhadap destini dan destinasi yang mengalahkan gravitasi supaya kita tidak terjatuh atau melayang tanpa arah.Dan akan ada waktu seumur hidup untuk pencapaian destini dan berharap kita tidak kelelahan sampai ke destinasi.
Kini..
Ada aku dan kamu disebelah kiri. Bersisian dalam satu frame hidup. Satu kesatuan sambil berkata bersamaan “Destiny! Here We Are!”


Ilustration song and Inspiration song came from Katjie and Piering - Destiny (Homogenic Cover)

Wednesday, August 29, 2012

Frame Pagi


Ada pagi biru, bersatu dengan rona keemasan yang ikut direkahkan oleh matahari. Menghadirkan burung yang terbangun. Kemudian membangunkan juga seisi mahluk hidup yang kebetulan berada di kota dan dunia yang sama tanpa terkecuali. Ada embun pagi yang menetes diantara daun dan dahan pohon kemudian sedikit demi sedikit menghilang diantara panasnya suhu udara. Ada sepasang pria dan wanita yang tertidur berpelukan sepanjang malam seakan takut tertelan kesendirian. Ada perempuan yang sedang terduduk lesu menyadari bahwa bumi telah berganti hari. Ada pria yang menyerah kepada mimpi dengan tidak meninggalkan inci demi inci kubikel gedung dan mengabaikan pagi.

Pagi tumbuh menetaskan berbagai harapan yang mampu untuk setiap orang impikan. Kita semua sepakat bahwa untuk menjalankan hidup perlu mimpi dan pengharapan namun bukan Cuma untuk diharap-harapkan kemudian malah tersembunyi di sudut jalan. Selalu ada doa akrab dan sederhana ikut menemani pagi. Hanya dua menit bersemedi, kita ikut menjumlah hari  dan mengetuk pintu jiwa sekencang-kencangnya. Pagi hanya berjalan mengikuti alurnya saja, yang perlu kita lakukan adalah berjalan bersamanya. Bukan membelakangi juga tidak mendahului.

Aku adalah perempuan yang kadang menghiraukan pagi. Aku tahu ketika pagi datang tapi Cuma sekedar tahu tanpa benar-benar dihayati. Selalu ada fragmen melankolis nada minor di pagi hari. Setiap hari hanya itu-itu saja yang mampu terbeli.

Siapa sih gue?

Cuma sekedar bertanya pada pagi, seolah pagi punya banyak jawaban seperti sebuah jawaban lewat internet yang gampang dicari. Namun pagi pun tidak segera menjawab. Ia hanya diam dan bergerak bersama udara khas pagi. Ada banyak rasa yang Cuma bisa dinikmati sendiri dan membiarkannya tetap tumbuh sehat dalam diri.

Aku Cuma ingin pagi lebih bersahabat dengan mimpi yang sengaja aku siapkan di malam hari.
Aku ingin cerita di pagi hari yang lebih nyaman untuk aku ceritakan dikemudian hari. Ada banyak warna pagi yang tidak pernah tersembunyi. Tapi ada warna hati kita terrefleksi di  satu pagi yang mampu membuat terang siapa saja dan layak untuk dicemburui.

Aku jatuh cinta hari ini, dan pagi menceritakannya lewat angin yang berkamuflasi menjadi kembang api.
Aku jatuh cinta padamu yang terlihat di pagi hari, dan bisa aku temui kemudian pada malam hari.
Bukan Cuma jatuh cinta pada foto-fotomu yang bisa di rekayasa. Aku jatuh cinta di pagi hari yang mampu membuatku teriak kegirangan. Karena pagi ada untuk nafas kembali melega


Tuesday, August 28, 2012

JANJI


Ini cerita tentang janji.
Tentang satu janji yang sudah kita buat dulu.
Apa kamu masih ingat?
Apa kamu sudah menepatinya atau sedang berusaha untuk segera menuntaskannya?

Yang aku tahu janji yang sudah kita buat ketika itu, selalu ikut berderap setiap kita menjejakkan jalan seolah mengajarkan kita untuk terus berjalan walau tanpa alas kaki. Janji yang telah kita hadirkan seolah ikut merasakan basah dari titik-titik peluh kita ketika mencoba untuk menguraikannya.

Kembali lagi kepada janji.
Setiap kali kita mengingat akan janji, kita merasakan sensasi gegap gempita yang meluruhkan berbagai monokromatik hidup yang kini mulai kita pertanyakan. Perbedaan berarti perpecahan! Katamu seru. Aku ragu. Bukankah aku dan kamu juga berbeda? Berarti kita harus pecah kemudian? Tanyaku
Perbedaan menciptakan jarak terjauh yang sanggup kita tempuh. Namun pada akhirnya kita bersedia mendekatkan dan bertoleransi. Kamu mengikat kakiku sebelah kanan dan kaki sebelah kirimu terikat disebelahku. Saling menahan berat dan beban yang sama-sama kita tempuh beraturan. Itu janji! Kataku.
Kita bersedia menciptakan dunia terdekat ketika dunia yang kita pijak memeta beragam jarak mulai dari perbedaan waktu, bahasa dan perspektif hidup. Janji membuat pandangan menjadi lebih jelas. Janji kita ciptakan untuk melangkah bersisian, bukan saling menyalip atau berbenturan. Malah kecelakaan.

Aku mengingat kepada janji yang kita buat.
Mungkin aku memang menunggu kamu berjalan didepanku untuk mengimami.
Mungkin lewat janji, aku menunggu untuk memastikan untuk selalu bergerak ke depan.

Demi janji agar kita senanstiasa menikmati gerik dan momen akan perubahan.
Tanpa tergesa-gesa. Disitu kita akan berada.

Tuesday, August 21, 2012

A Shoulder To Carry On

Kamu pernah dengar, kalau bahu kita tercipta dan mampu bercerita?
Selayaknya telinga yang mampu merekam bermacam-macam suara dan kemudian akan tersimpan disatu sisi otak dan membuatnya menjadi serupa kenangan.
Selayaknya mulut yang mampu merangkai berbagai dongeng tentang hidup.
Bahu memang berfungsi penyanggah tubuh kita agar mampu berdiri tegak,
akan tetapi jika kita mau mendengar lebih seksama. bahu pun punya cerita.
Cerita yang mungkin lebih menggerakan hati dibanding cerita melankolis lainnya,
Hampir mirip seperti ketika kamu menonton acara reality show.
bedanya, ini lebih nyata karena berhubungan langsung dengan diri kita.
Bahu kita nyata-nyata menyimpan berbagai hal,
Ada rasa sakit,
ada beban berat yang harus diemban.
Semacam memori yang menyimpan berbagai momen kenangan yang sejalan dalam ingatan.
Diatas bahu kita tersimpan berbagai hal, baik masa lalu yang tersimpan rapi
Ada juga kenangan yang tersembunyi di sela-sela dan dengan sengaja tertinggal disana
Jika kamu ingin benar-benar tahu kisah ku, atau kisah mereka yang terlihat misterius.
Yang perlu kamu lakukan adalah mendengar dalam hening sambil menatap lekat diantara bahu mereka.
Karena tanpa kalian ketahui, disanalah sumber setiap cerita yang tersembunyi.
Ia mungkin tidak menyimpan gambar rupa akan tetapi sosokmu telah terlukis juga kejadian yang sempat terbuang sebelumnya.
Kita memiliki bahu yang mungkin sengaja terdiam. agar kita mampu mendengar ketika sunyi, agar kita tidak merasa ramai ketika bahu kita menyampaikan cerita satu persatu.
Selain itu bahu kita pun tercipta agar mampu menahan banyak beban dengan gagah berani.
Dan akan ada bahu-bahu lainnya yang tercipta agar kita bisa saling menguatkan seperti dua medan magnet yang saling tarik menarik, saling mengisi disetiap kekosongan.
Bahu adalah pondasi terkuat, yang bisa menguatkan hati juga pikiran kita.
akan tetapi bahu bisa membuat nyaman ketika kita didera kelelahan yang membuat kita mampu menyadari bahwa hidup tidak selalu baik-baik saja.
jadi,
apakah kamu sudah dengar bahumu bercerita?
jika belum.
berhentilah bertanya.
dan dengarkan ia
Nama itu tidak ada dimana-mana
tidak dilayar ponselku.
tidak disitus jejaringku
tidak dimana-mana..
Entahlah dimana nama itu bersembunyi.
mungkin sekarang dia sedang bermain-main di pantai, mengejar ombak, berenang-renang dengan riang, memancing ikan. atau berjemur, merasakan matahari yang menghangat.
Mungkin juga sekarang dia sedang berlarian mengejar cintanya yang hilang, berdiskusi seru dengan seseorang yang baru hingga larut malam sambil menyesap kopi kesukaannya. kemudian tidur bersama sambil berpelukan.
Mungkin juga sekarang dia tetap sendirian, duduk ditepian taman sambil merenung mengilhami dan menguatkan diri sendiri. mengisi kembali hati yang entah kemana perginya.
Yang aku paham nama itu tidak dimana-mana.
Hilang!
Ada kekosongan yang tidak bisa dijelaskan. Hidupku tetap berjalan dengan normal dan biasa-biasa saja.
Aku masih bisa melakukan semua aktifitas dengan normal, seperti makan, tidur, minum, bekerja, mengejar kereta, bergegas pulang dan lain-lainnya.
Tapi aktifitas itu dikerjakan sekedarnya saja, seperti aku memiliki semacam tombol yang berfungsi sesuai dengan mestinya sebagai bentuk kewajiban dan keharusan, tanpa perlu berpikir apa-apa setelahnya. Tubuhku seperti melaksanakan berbagai hal sesuai program seperti mesin.
Jam weker ku tetap berbunyi dengan semestinya. Jam tidurku tetap seperti biasanya.
Yang berbeda adalah nama itu tidak dimana-mana.
Nama itu tidak lagi menyemangati ketika hidup sedang sibuk.
Nama itu tidak lagi menawarkan malam ketika aku kelelahan.
Nama itu tidak lagi menyediakan pundak untukku beristirahat.
Nama itu tidak ada dimana-mana.
Mungkin nama itu sudah lupa dengan adanya namaku.
Namun, ada ruang tersendiri yang tidak terjelaskan ketika setiap aku mulai mengingat nama itu, seperti ada sesuatu yang meninju hatiku.
dan kemudian semua berantakan.
Ketika nama itu tidak dimana-mana
seperti ada tombol pause yang menghentikan segala fungsi dalam diri. dan segala suara seperti dibuat mute. Hanya ada keheningan. Lagu sunyi. tanpa suara riuh.Semua berhenti seketika, tapi hanya hidupku saja, sedangkan yang lainnya masih normal-normal saja. Hujan juga masih tetap jatuh diatas atap kita. Genangan air pun masih menggenang sama di trotoar.
Cuma hidupku yang sekiranya terhenti.
Debar yang sekiranya ada, tiba-tiba tersamar hampir berhenti.
ahh.. nama itu hilang.
seperti gagasan aku tentang hidup, tiba-tiba rumit ketika seharusnya mampu disederhanakan.
nama itu hilang,
seperti udara yang terbakar.
nama itu tidak dimana-mana.
dan aku pun berhenti mengingat.
nama itu tidak dimana-mana
dan aku pun berhenti mengejar
nama itu tidak dimana-mana
dan aku pun berhenti berlari,mencari dan mengejar keberadaannya.

Ilustration : Frau - Glow Cover
Terkadang kita selalu ketakutan akan badai dan hujan
Berlomba-lomba dan berlari-lari berlindung agar tidak kecipratan.
atau ikut tersambar air hujan.
Sebenarnya,
Akan ada waktu dimana badai dan hujan akhirnya benar-benar mereda,
Mengganti alam yang semula menakutkan.
Mengganti udara yang semula membekukan
Bahkan ketika badai,angin dan hujan enggan meninggalkan kita.
Akan selalu ada tempat untuk kita sekedar berteduh.
Melekatkan diri dibawah selimut tebal yang hangat.
Atau berdiri ditepian dengan payung ditangan kanan atau tangan kiri kita.
Dan setelah itu semua..

Pelangi itu ada,
Sebagai pertanda bahwa kita benar-benar sudah melewati hujan dan angin kencang.
Sebagai manifesti diri kita yang sudah sabar menunggu dan melakukan sesuatu agar keluar dari badai itu.
Seperti mengingatkan kita tentang perjalanan hidup dan menjadi bagian yang mendewasakan.
Seperti bercerita mengenai sebuah harapan dan mimpi yang tidak boleh mati.
Dan jika diizinkan,maka kita bisa menghidupkan harapan lagi meski berjalan dalam genangan hujan.
Meskipun kita harus dipeluk hujan terus-terusan
Dan kita kedinginan.
Kita akan saling menemukan untuk beradu dalam hangat serta harapan yang terus hidup.
Terus melewati badai dari sudut ke sudut.
karena akan tersela doa kecil yang mengiringi kemanapun kita ada.
Seperti senja yang akan ada bersama menemani langit jingga
Kalau bisa memilih
saya ingin menjadi hujan.
karena kamu selalu terinspirasi akan adanya hujan
seperti waktu dia datang sore ini
seperti lagu wajib yang kamu dengarkan
seperti sebuah pesan yang disampaikan oleh gemericik air hujan
saya begitu ingin jadi hujan
karena bisa memelukmu kapan saja
bisa menyentuh kulitmu diam-diam
menceritakan rindu yang kemarin begitu menggebu
lewat hujan
agar kamu lebih jujur ketika dibawah hujan
andai saja aku hujan

Ada bajumu dilemariku
Tergantung disitu seolah-olah menunggu dengan waspada kalau-kalau ketika kamu ada, tidak sedikitpun kerutan yang akan hinggap disetiap lipatannya.
Bajumu masih tergantung rapih dilemariku.
Bahkan esensi wangimu masih terperangkap disitu
Seolah-olah ingin menghembuskan rindu
Seolah-olah kemudian menyusun cerita bergambar dimana ketika itu kita sedang berpelukan,
Seolah-olah panas tubuhmu pun terbawa sampai kesitu,

Ada cetakan bibirku dibajumu.
Seolah-olah sedang mengumumkan bahwa aku sudah menjadi bagian dari dirimu yang selalu ada, menunggu dengan tenang dan dengan ketegaran yang mampu menangkapmu ketika kamu terjatuh.
Seolah-olah ada diriku digetar jantungmu tanpa perlu berkali-kali untuk meyakini bahwa aku memang ada.
Aku seringkali meluangkan waktu untuk merapikan bajumu,
terutama dibagian pundakmu,
seolah-olah ingin turut serta mengangkat beban yang besar dan kemudian saling menepuk bahu satu samalain untuk saling menguatkan
seolah-olah ingin berperan untuk menukar malam dengan cahaya.
ada bajumu dilemariku..
dan ada dunia kita tertera disitu
Seperti biasa.
Kita diam kali ini, hanya duduk duduk saja di taman kota sambil memandangi senja yang mulai merona jingga.
kita diam,tanpa bicara.
berharap salah satu dari kita memulai suara, walaupun dengan bahasa basa-basi.
‘cuaca cerah hari ini’ demikian katamu.
sedetik kemudian kita diam lagi.
merasakan degup jantung sebagai nada kita saling bicara.
berpurapura kita terpekur diam dalam pikiran masing-masing.
menyelami alam tanpa derik notasi dalam rongga dada.
perdetiknya kita nikmati dengan suara-suara yang cuma kita yang tahu
Seperti biasa!
kita saling bicara dalam sunyi.
‘sunyi itu lebih baik,karena bukan keramaian yang akan bicara,tapi kita belajar mendengarkan hati. setidaknya akan terdengar lebih jujur. lebih dari yang kita mau’
katamu lagi di senja berikutnya.
lewat sunyi ketika senja itu, kita seperti mampu mengelana jauh. dan kita menikmatinya seolah sudah terbiasa.
Dan ketika sore menjemput warna jingga,dan langit terlihat lebih genit dari biasanya.
sunyi mampu menerima suara, bahkan sangat nyata ketika kamu menitipkan rindu lewat angin untuk sampai ketelingaku.
Dan seperti biasa,
aku jatuh cinta.
kepada kamu yang sejarak genggaman
dan ada bukan hanya sebatas kata.

Blue Print

Coba kamu tunjuk sebuah kota sebermula kamu ada.
Dimana hujan selalu menjadi latar-belakang khusus seperti sebuah icon yang telah melekat rapat dan memaksamu menghadirkan berbagai kenangan.
Ketika semua ide mengenai hidup telah lama ada, tentram bersemayam di setiap jalan kota.
Atau ketika mimpi pun ikut berbaris bersama dan bergerak menjadikannya satu sejarah.
Dan kemudian menggantung menjadi cerita.
Cerita antara kamu,hujan, dan sudut jalan 
Sudahkah kamu hitung langkah yang terpacak seperti membuat skenario perjalanan.
Yang berawal lewat kota ini ketika hujan pula menyamarkan pandanganm.
Lewat cerita masa kecil yang sudah tertera jelas bahkan selalu ada di dinding gang atau pohon-pohon yang ikut andil bersama pertumbuhanmu
Lewat senja yang mengikuti perlahan di masa remajamu.
Atau lewat pelangi yang mewarnai sejumput ingatan-ingatan masa silam,
Tentang rumah
Tentang keluarga
Coba saja kamu hitung,
Setiap langkah atau jarak
pasti kamu akan selalu kembali, dan kembali lagi
Untuk menggenapkan harapan,agar impianmu tuntas hingga kamu bisa menggantungnya diatas langit atau menara tertinggi di kota ini.
Coba kamu tunjuk dengan jarimu
Di jalan manakah dari setiap jengkal sudut kota yang telah mencetak jejak patah hatimu? Ketika gerimis menjadi seperti biola yang membawa lagu sendu.
Seberapa jauhkah kamu telah sampai ditujuanmu, untuk menuntaskan rindu?
Sebuah rindu yang menggebu hingga kamu harus keluar rumah untuk mencicipi embun yang selalu kamu cari dibalik derasnya hujan
Mungkin pada saatnya nanti kita akan membiarkan diri kita singgah ke berbagai tempat untuk menandai dan memastikan mimpi kita tetap berada disana .
Namun akhirnya selalu membawa kita kearah jalan pulang.
Bersama pembicaraan diam-diam antara matahari,pelangi,hujan, pepohonan dan dinginnya gunung yang sudah ikut serta hadir dan hidup nyata bersama kamu,aku,juga mereka
Sebuah simphoni alam yang tergabung bersama dalam satu paket kota ini.
Kota Bogor
Ya.
Sebuah kota,dimana ada kita dan mimpi kita di dalamnya.
Dan kesemuanya itu hanya akan tercatat di kota ini saja.
Karena hanya akan ada kita, dan birunya udara.
Laki-laki dan perempuan adalah sebagai dua sayapnya seekor burung. Jika dua sayap sama kuatnya, maka terbanglah burung itu sampai ke puncak yang setinggi-tingginya; jika patah satu dari pada dua sayap itu, maka tak dapatlah terbang burung itu sama sekali.” 
( Sarinah, hlm 17/18 Bung Karno)
Nobody will left alone with their own loneliness.
Nobody will stay with their own sadness..
all laughter, sadness,and happiness are known by sharing those thing with the one you love,or with your family..
that is something that kept you alive or even more.
 
Tolong saya..
Sudahi saja duka..
yang semakin lama semakin tidak toleransi..
semakin lama tidak memiliki pretensi..
sampai saya sakit, sejadi-jadinya..
Kamu pernah berkata..
bahwa bumi ini bulat,
bahwa dia akan terus berputar kekiri maupun kekanan..
berdasarkan rotasi..berdasarkan mata angin,
diikuti oleh awan yang juga ikut berjalan..
kadang disini.. besok tidak kembali..
Sama seperti duka yang saya tangisi..
Sampai Pagi.. Sampai lelah..
Bergerak keatas maupun kebawah dari setiap inci hati..
melukai dari dalam maupun luar sisi..
Ya..itu lah duka..
Maka bantu saya, untuk menghentikan dia..
Beritahu dia untuk tidak egois..
hanya datang ketika saya sedang sendiri..
selalu datang dan ingin kembali..
Tolong jangan beri dia uang untuk ongkos naik bis..
sehingga dia lupa jalan pulang.. Akan habis dia oleh preman..
membuat dia tidak datang kesini.. lagi…
Tolong beritahu sang duka.. Agar jangan terlalu mencintai manusia yang berbahagia..
Biarlah dia datang,tapi tidak untuk sering kali..
Ku mohon..untuk kamu beritahu dia..
saya telah takluk oleh muslihatnya..
Hingga sulit bagi saya makan nasi.. karena tercekat..
tersilap oleh sahabat sang duka.. yaitu merana…
Biarlah mereka datang hanya sekali saya akan tegar nanti..
Ku mohon.
Beritahu Dia
 

Filosofi TEH



T - E - H

Adalah sebuah kata sederhana yang hanya terdiri dari tiga huruf alphabet.
Tidak ada kaitan apapun antara huruf dan arti dari teh itu sendiri berapa-kalipun kamu menelaahnya.

Teh hanyalah jenis minuman yang kamu minum ketika derap hujan jatuh perlahan dan mencipta berbagai genangan dipinggiran jalan.

Adalah minuman yang kamu minum ketika kedinginan.
Adalah jenis minuman yang kamu minum diberbagai suasana.

Namun dari segelas Teh,aku berimajinasi tentangnya.
Dari segelas Teh hangat, aku mencoba jujur.

Dan aku jatuh cinta.


Coba kau tutup matamu,dan rasakan bagaimana Teh yang kau minum itu terasa dalam lidahmu.

Apakah ia terasa pahit?

Manis?

Atau tak terasa sama sekali?

Dari segelas teh,

kamu akan tahu bagaimana hakikatnya sebuah teh bisa terasa.

Dari sanalah kau akan tahu dimana tepatnya letak hangat itu,

Dan disaat-saat kamu sadar, kau akan merindunya ,

mencintainya.

Seperti apa yang sedang aku pikirkan saat ini.


Mungkin kau akan segera bertanya,

mengapa bisa begitu?

Sederhana..


Karena

Dalam Segelas teh,

kamu seperti sedang membaca ulang semua kalimat.

Karena teh selalu membuatmu Alami,

sebuah investasi yang menyehatkan,

memelihara dirimu seperti cinta seorang ibu.

Lewat secangkir teh yang kamu hirup, kamu seolah sedangmengenang setiap inci perjalan,dan ketabahan hati setiap saat kamu mengingat kembali bagaimana proses pembuatan teh untuk kemudian ada di dalam cangkir dihadapanmu.

Segelas teh tidak akan pernah menjadi mubazir sebab ia tak sekedar hanya minuman biasa yang kamu temui di warung makan pinggiran jalan.

Karena teh akan selalu ada menemanimu.
Seperti seorang teman dekat, yang siap menemani setiap perjalanan hidupmu.

Yang siap menghempas keringat dan panas agar hidupmu menjadi lebih mudah.

Yang menghangatkanmu ketika malam mendera gigil disetiap senti kulit tubuhmu.

Yang memberimu perasaan nyaman, ketika sakit atau virus menyerang bagian perutmu.

Segelas teh yang tidak sekedar minuman dalam penampilan sederhana,
dalam warna yang itu-itu saja,

hijau,

coklat sedikit kemerahan,

dengan aroma yang tidak nyata, namun terasa.

Kadang kuat atau samar-samar.

Sedikit pahit, kadang manis di beberapa bagian.

Namun teh,dalam tampilan sederhananya, mampu menjadi jawara ketika kamu ingin bicara seperti ibu-ibu arisan yang berkumpul untuk bergosip.

Atau ketika kamu hanya mengantongi beberapa rupiah saja, namun dahaga begitu memekak mendera.

Dan teh lah yang akan kamu cari,

Karena Teh tidak pernah terlalu mahal untuk bisa kamu sisihkan,

Karena Teh membuatmu mampu menoleh sementara untuk memeluk hangatnya.

Ya..

Aku telah jatuh cinta dengan Teh,

Karena

Aku mencintai akan keramahannya.

Aku merindunya dengan kelembutannya.

Karena..

Teh tidak pernah terlalu tajam,

Tidak pernah terlalu kuat,

Akan mengalir begitu saja masuk kedalam kerongkonganmu.

Seperti Cinta yang tidak kamu tahu,

yang tiba-tiba menatapmu lekat.

Sederhana…

KOPI-- *my version*

Kopi adalah jenis minuman lainnya yang tentunya sangat akrab untuk kalian semua kan?
Ya..
Karena kopi diciptakan oleh Tuhan untuk kita yang dinamis. Kopi berasal dari biji-bijian kokoh,yang digarang dengan arang,namun justru malah memanjakan kita dengan cita rasanya. Rasa kopi sendiri beragam,dengan performa warna hitam pekat,atau sedikit berwarna coklat karamel yang tidak pernah menjemukan. Kau tahu mengapa?Karena kopi memiliki ciri khasnya.Ada yang kuat,samar-samar,sedikit creamy, ada yang lembut, namun ada pula yang tajam.
Terkadang aku memadukan rasa kopi dengan karakter setiap orang. Karena kupikir setiap cangkir kopi yang dibuat,memiliki rasa berbeda-beda. Hampir sama dengan arti manusia secara harfiah. Yang kadang merasa berbeda,namun sebenarnya manusia tetaplah manusia. Begitu pula dengan kopi, seperti apapun kau menyajikannya,kopi tetaplah kopi. Ia akan tetap memiliki rasa pahit. Ia akan tetap dikaitkan dengan hitam arang.
Karena terlalu seringnya mengkaitkan keanekaragaman rasa kopi dan jenis-jenisnya,mungkin dengan itu lah yang menyebabkan aku menjadi pembaca karakter dan observator yang yah..hampir mendekati benar,walaupun tak jarang meleset pula. Namun lewat secangkir kopi dan jenisnya, membuat aku mulai berinteraksi dengan makna. Dan inilah aku yang memaknai secangkir kopi.
Kopi memang selalu tersaji dalam cangkir dengan cairannya yang berwarna hitam pekat. Dan akan selalu begitu. Namun apapun bentuk,warna dan penyajiannya, kopi adalah kopi. Kita mampu mengenalinya dari aroma. Dan kita mengenalinya lewat rasa pahit yang tidak pernah dapat disembunyikan,berapa pun banyak gula yang kau masukan.
Karena..
Kopi akan selalu statis dan idealis berwarna hitam dilingkungan yang serba tidak serupa. Ia tidak pernah takut untuk sendiri, dan kesendirian membuatnya kuat.
Ia tidak pernah ingin serupa sama karena meski ditakdirkan berbeda-beda, ia akan selalu memiliki ciri khas yang membedakannya. Ciri khasnya dengan aroma. Ciri khasnya dalam olahan rasa.
Karena kopi selalu tegas berani berwarna hitam, sendiri, berjelaga, namun banyak yang merinduinya ketika tak ada.
Bahwa kopi selalu berpendirian,meski dicampur aduk dan disamaratakan, ia akan tetap istimewa.
Bahwa kopi selalu terlihat sempurna dalam berbagai suasana, dengan apapun ia diberi nama.
Bahwa kau harus mencari ketempat yang tepat, untuk menikmatinya, karena kesempurnaanya.
Bahwa Kopi itu seperti cinta yang kuat yang tidak pernah pudar,meski bercampur aduk dalam rasa berbeda-beda.
Bagiku,
Kopi adalah serupa sahabat lama yang meski kau tak menyadarinya, ia akan selalu ada. Menemani malammu untuk terjaga. Menemani dalam berbagai aktivitasmu yang melelahkan. Untuk melegakan sedikit pikiranmu ketika terlalu penat dalam berbagai konsep kehidupan.  Yang menemanimu berjibaku dalam pergulatan batin. Yang menjadikan isnpirasi dan selalu memiliki hubungan yang jelas antara aku dan rasa kopi yang kemudian diikat oleh seutas perasaan mutual.
Karena dalam secangkir kopi, kau seperti dibiarkan tumbuh dalam keteraturan rasa. Namun kau tak dibiarkan untuk terlalu banyak menikmatinya, karena detak dalam jantungmu akan memacu kencang, dan kau akan kelelahan.
Karena meski kau mencoba untuk terhindar, namun kau akan dapat merasai kehadirannya. Karena kopi selalu sempurna ada dalam setiap inci kehidupan.Meski dalam warna sama, rasa berbeda, namun lewat secangkir kopi kau akan menilai banyaknya hidup yang kadang terlewatkan.
Lewat secangkir kopi, kau seperti merekatkan jemari dan berjalan bergandengan,karena ia selalu hadir dalam berbagai aspek sosial. Menjelma berkelompok, namun tak pernah ragu meski sendirian.
Secangkir kopi itu seperti mengulang kata di kepalamu sebagai kekasih impian, sang inspirasi bagi segala mahakarya yang termuntahkan. Melahirkan seni maestro dalam secangkir kopi.
Dan ya,
Aku telah memuja kopi..
Karena
Aku memuja kesempurnaanya
Aku memuja keragaman rasanya.
Aku memuja pendiriannya,
Meski ia ingin selalu terlihat dalam balutan sempurna,
Meski ia memiliki keterbatasan,
terbatas dalam warna, terbatas dalam aroma, terbatas dalam rasa yang berbalut pahit, namun dinanti.
Seperti cinta dalam perjuangan yang tidak boleh sia
Sempurna


Ada banyak cahaya yang tersembunyi.
Ada cahaya di dalam mata yang menyimpan banyak warna.
Ada cahaya dalam senja.
Ada cahaya dalam diri kita.
Ada cahaya di atas awan.
yang perlu kita lakukan adalah membuka diri kita, untuk menerima segala cahaya disetiap penjuru. menuju cahaya.



Saturday, August 18, 2012

Rindu Tanpa Nama

Setiap kali,
Kita seolah-olah sering berganti nama,
Bernyanyi-nyanyi di bawah bulan,
Berlarian di bawah barisan hujan,
Seolah-olah ingin mengucapkan rindu yang tidak bernama
Namun selalu sama
Mungkin kita belum bersentuh raga,
Dan jiwa kita belum sepenuhnya menyapa.
Namun selalu ada doa ,
Doa-doa yang mungkin sangat sederhana,
agar kita segera bersama saling menyampaikan pesan.
Mungkin jalan kita masih berlainan.
Dan jantung kita berdetak belum seirama,
Namun ada ritmik yang sengaja tersimpan, supaya kita kembali mengenal bahkan sebelum itu.
Ruang kita masih  berjarak,
dan waktu masih menyajikan banyak jeda diantara kita
Sebelum Takdir curiga,
aku akan mengingatkan dan menyita perhatianmu berkali-kali,
untuk mengingatkan tentang yg belum bernama
Sebelum malam cemburu,
akan ku pilin berbagai mimpi,
agar semua terjamin ada kita di situ di setiap inti detik,
dan untuk seterusnya..
akan ku sisipkan berbagai kenangan di sela-sela ingatanmu,
agar kelak kenangan itu berbisik tanpa perlu kamu cari.
Jika suatu hari kita dipersatukan.
Yakini lah bahwa itu adalah waktu yang paling tepat
Untuk meluruhkan segala yang tersembunyi tanpa ragu-ragu ataupun malu-malu.
Dan disetiap detik-detik itu,
ingatlah aku.
Yang belum teraba
dan untuk kenangan yang belum tercipta
(Sunday 19 Maret 2012 : 11:20 PM)

Wednesday, August 15, 2012

Tidak Sama


Kita tahu bahwa semua umat manusia yang diciptakan Tuhan adalah berbeda. Semuanya memiliki karakteristik masing-masing yang berbeda, meskipun terdapat beberapa persamaan namun bisa kita pastikan akan menemukan apa yang beda diantara itu semua. Perbedaan paling mendasar selain jenis kelamin, agama, dan karakter adalah pola berpikir. Kita memiliki cara berpikir sendiri-sendiri untuk menyelesaikan masalah dengan cara yang berbeda pula. Ada yang merasa benar, ada juga yang merasa dirinya yang salah. Selain itu pula, cara menjalani hidup bisa dijadikan satu acuan perbedaan lainnya.

Saya disini tidak sedang mengotak perbedaan begitu pun perbedaan lainnya antara saya dan orang lain. Tulisan ini hanya sekedar sharing mengenai perbedaan-perbedaan yang kadang bisa jadi masalah besar. Jauh sebelum sekarang dimana masalah yang saya hadapi lebih kompleks, saya telah menikmati keadaan berpolemik yang menitik beratkan mengenai perbedaan dan bagaimana menjadi orang yang berbeda terkadang sangat menyulitkan. Saya terlahir sama seperti bayi lainnya,normal, sehat, gemuk dan tidak kurang satu apapun. Saya memiliki dua orang kakak, satu perempuan dan satu lagi laki-laki. Kami semua memang berbeda dan perbedaan tersebut dapat sangat mengganggu diantara saya dan kakak-kakak saya. Kakak saya yang perempuan adalah anak yang ceria, populer, dan disukai banyak orang. Terkadang orang-orang yang kebetulan bertemu dengan kami berdua akan mulai membandingkan, Selain itu orang tua terutama ibu saya pun sering membandingkan saya dan kakak perempuan saya terlebih jika saya melakukan satu kesalahan atau melakukan hal-hal yang tidak disukai olehnya. Kakak perempuan saya adalah figure perfect orangtua saya dan saya adalah the ugly duckling didalam keluarga. Kakak laki-laki saya pintar,dan cakap dalam segala hal, berbanding terbalik dengan saya yang sedikit lamban, tidak begitu cakap dan tidak terlalu rapi dalam segala aspek. Saya sering sekali mendapati diri saya dibandingkan dengan kedua kakak saya itu baik oleh orangtua,nenek dan kakek, atau hampir semua orang yang kami kenal. Mungkin maksud mereka adalah untuk memberikan motivasi agar saya bisa maju. Namun alih-alih termotivasi saya malah menjadi anak yang tertutup dan tidak percaya diri. Sehingga perasaan menjadi paling berbeda diantara kedua kakak saya terasa sampai kedalam hati. Cara menghabiskan waktu diantara kami pun sangat jelas berbeda ketika mereka asik bermain dengan teman mereka masing-masing, saya lebih suka menghabiskan waktu sendirian bermain dengan anak kucing sambil mengajaknya mengobrol seakan anak kucing itu bisa membalas balik perkataan saya. Hal tersebut mungkin salah satu dampak negatif  ketika saya sering dilibatkan dalam perbandingan perfect dan unperfect dari kedua kakak saya. Dan karakteristik tersebut tadi begitu membentuk saya karena pengaruh paling besar terhadap pembentukan karakterisasi seseorang adalah lewat lingkungan keluarga.

Selain dirumah perbedaan lainnya saya dapatkan dimulai pada masa saya sekolah dasar, cap berbeda dari yang lain telah teremban didalam diri saya diusia sekecil itu. Saya dinyatakan tandakutip berbeda yang konotasinya bagi sebagian orang berarti saya itu aneh. Sebagai seorang anak usia 7 tahun yang senang membaca buku-buku sastra seperti W.S Rendra atau Chairil Anwar dan cerita-cerita detektif seperti Sherlock Holmes dan novel petualangan lainnya mungkin tidak aneh, namun yang berbeda adalah saya lebih memilih untuk membaca buku-buku tersebut dibandingkan bermain dengan teman sebaya. Sehingga tidak heran saya tidak begitu banyak memiliki teman, terlebih di sekolah dasar. Jika kamu tahu seperti apa ketika itu, kamu akan melihat seorang anak kecil yang sering menyendiri duduk dipojokan kelas sambil membaca buku dan hal yang masih terasa baru bagi saya yang terkadang terasa miris adalah seringnya saya menjadi objek bullying karena perbedaan yang mendasar itu yang mereka nyatakan sebagai keanehan. Selain itu masih teringat dengan jelas oleh saya, jika saya sedang stres berat atau sedang merasa kesal dan sedih, terkadang kamu akan menemukan saya sedang berbicara sendiri sambil menghadap kecermin, seolah-olah ada dua orang disitu sedang berdiskusi seru. Saking seringnya saya begitu, ibu saya pernah konsultasi dengan seorang psikiater mungkin karena beliau khawatir dan takut kalau-kalau saya ini ada apa-apa.

Terselip persamaan antara saya dengan anak-anak seusia saya ketika itu adalah saya suka sekali berkhayal dan berimajinasi bahkan mungkin lebih sering lagi. Bagi saya berkhayal adalah salah satu penghiburan terbesar ketika terlalu lelah dijadikan objek ketidaksamaan dalam kehidupan sosial saya sehingga terkadang saya bisa begitu sangat kesepian dan berkhayal adalah jalan keluar mengasyikan tanpa perlu mengeluarkan uang. Seperti anak-anak lainnya yang selalu berdekatan dengan imajinasi seru dikepala mereka,saya pun menjadi salah satunya. Lamunan dan imajinasi saya bukan mengenai ingin menjadi superhero seperti sailor moon, atau jadi princess cantik. Saya biasanya menuntaskan lamunan-lamunan saya jika sedang duduk diatas pohon jambu air didepan rumah atau duduk diatas atap rumah, sambil menengadah menatap awan biasanya saya berimajinasi bahwa diujung awan yang saya lihat ketika itu memiliki tempat-tempat baru yang belum pernah saya kunjungi. Diujung awan yang saya lihat pasti ada orang-orang baru yang akan saya kenal nanti. Dan diujung awan itu selalu ada rumah-rumah dengan teras indah yang menunggu saya untuk ditempati kemudian.

Selain cap aneh saya juga mendapatkan cap-cap lainnya yang menempel didada saya seolah ID Card. Saya di cap nakal. Kenakalan adalah salah satu eksistensi seorang anak kecil dan ada beberapa kenakalan-kenakalan yang bisa ditolerir dan tidak bisa ditolerir, namun saya tidak tahu kenakalan yang manakah yang tertempel itu. Satu hari saya pernah tidak sengaja menggoret panjang sebuah mobil mercedes benz berwarna biru yang terparkir didepan rumah tetangga saya ketika sedang bermain sepeda namun karena belum terlalu mahir, sepeda yang saya kendarai oleng dan akhirnya mobil biru itu tergoret panjang dari depan hingga kebelakang. Beruntung mereka cuma mengaggap saya seorang anak kampung nakal sehingga hal tersebut tidak dipermasalahkan. Pernah juga ketika saya sedang suka-sukanya pada serial jepang google five dan serial tersebut hanya dimiliki oleh tetangga yang tinggal satu rumah disebelah rumah saya. Dan kemudian lagi-lagi saya tidak sengaja membuat tape pemutar video milik tetangga saya itu rusak karena berkali-kali saya memencet tombol yang entah apa itu sehingga akhirnya gadget itu pun rusak. Ayah dan ibu saya dimintai untuk memperbaiki tape video itu dan tuntas sudah predikat saya sebagai anak aneh, penyendiri dan nakal.

Hal lainnya yang mewarnai rentetan status sosial dimasa kecil saya yaitu saya dicap bodoh oleh guru-guru disekolah. Dahulu saya pernah menjadi murid berprestasi, namun  karena satu dan lain hal saya menjadi malas sekolah, malas belajar dan akhirnya prestasi saya pun dipertaruhkan. Padahal jika mengingat-ingat kembali, mengapa saya benci bersekolah adalah karena pernah ketika saya mendapatkan tugas menuliskan puisi oleh guru, entah karena apa guru saya menganggap puisi yang saya tuliskan adalah hasil contekan dalam sebuah majalah. Dampaknya sungguh besar sekali bagi saya karena saya pikir meskipun saya berusaha pun tidak akan menghasilkan apa-apa. Dan prestasi saya pun anjlok, semangat bersekolah tidak saya miliki sehingga karena terlalu stres akhirnya saya pun jatuh sakit dan didiagnosis memiliki gejala liver. Dan menghabiskan waktu 1 bulan untuk kembali beraktivitas. Predikat-predikat baik yang diberikan baik oleh orangtua, guru dan teman-teman saya begitu besar dampaknya sehingga saya meyakini bahwa saya memanglah anak yang bodoh, aneh, penyendiri dan nakal yang membuat saya lebih pemurung dan pendiam dan saya tidak mau untuk membuka diri karena tidak pernah ada orang yang mau bicara untuk mendengarkan apa harapan dan keinginan saya ketika itu. Dan Pelarian saya dimasa sulit itu adalah dengan membaca buku-buku sebanyak mungkin, melamun selama mungkin, menulis diary sepanjang mungkin, dan itu membuat saya lega.

Perbedaan adalah sesuatu yang wajar, namun bisa menjadi masalah bagi sebagian orang jika orang tersebut mengaggap perbedaan adalah kesalahan dan aneh. Perbedaan seharusnya disikapi dengan penerimaan utuh karena pada dasarnya manusia memiliki cela ketidaksempurnaan dalam diri mereka. Jika kita mengalami diskriminasi sejak dini, dipastikan ada dampak tersendiri yang tidak dapat kita bayangkan. Anak adalah manusia yang bisa berpikir sendiri meskipun harus kita arahkan. Hanya jangan membangkitkan ekspektasi bahwa anak tersebut harus lebih dari kapasitas si anak. Mungkin maksud kita baik, dan ingin sama dengan anak-anak yang kita lihat namun kembali lagi, setiap anak memiliki perbedaan signifikan yang tidak dapat kita abaikan. Hal yang saya alami ketika kecil dulu adalah dampak dari diskriminasi yang saya dapatkan,sehingga saya menjadi anak nakal dan bodoh juga penyendiri. Dalam segi emosional saya waktu kecil sangat tidak seimbang, dan hal tersebut adalah contoh penanganan yang salah oleh orang dewasa disekitar saya. Adakalanya kita harus saling mendengarkan karena perbedaan berarti keragaman. Dan keragaman adalah hal yang baik sehingga kita bisa saling berbagi agar harmonisasi kehidupan pun tercipta. Hal tersebut tidak saya dapatkan malah ditekan oleh otoritas orang dewasa disekitar saya yang membuat diri saya tidak dapat berkembang baik secara emosional juga inteligensi. Saya tidak menyalahkan karena apa yang saya alami adalah pembelajaran luar biasa bagi saya saat ini, sebab itulah saya memilih menjadi seorang guru bukan karena saya ingin membalaskan dendam masa kecil terhadap anak-anak yang saya ajar, namun yang saya inginkan justru lewat sekolah saya bisa merubah tatanan pengajaran pada umumnya. Menanamkan sedini mungkin sebuah komunikasi dua arah bagi si anak sehingga si anak memiliki kesempatan untuk mengembangkan diri dan mandiri, belajar dari kesempatan dan kesalahan yang mereka perbuat lebih baik dari pada menekan anak-anak tersebut dengan ekspektasi tinggi yang belum tentu akan kita dapatkan. Biarlah mereka belajar dari kesalahan-kesalahan mereka dan hal itu akan membentuk pribadi mereka yang lebih baik.

Namun begitu, sebagai pandangan saya yang sudah mendewasa mempunyai keinginan agar si anak lebih baik dari kita adalah hal yang sangat-sangat lumrah. Akan tetapi jika si anak tidak menyukai akan hal yang kita inginkan, bukan malah memberikan cap-cap tertentu yang mungkin akan berdampak buruk baginya. Hal yang lebih baik adalah anak-anak tersebut diberikan satu pembangun bukan selalu dengan pujian namun diberikan pandangan-pandangan kedepan agar mereka mengerti. Meskipun tubuh mereka masik kanak-kanak, namun bukan berarti mereka tidak mengerti. Lewat pengalaman saya, anak-anak mampu menangkap presepsi jauh lebih cepat dan akan mereka terapkan pada akhirnya. Dan begitulah.. komunikasi adalah jalannya. Terkadang kita harus menjadi orang dewasa sekaligus sahabat dimomen kemudian. Bukan mau membuat mereka bingung hanya mereka perlu mendapatkan keduanya agar bisa saling bicara, juga saling mendengar tanpa ada nado diktator yang membuat si anak tidak nyaman.

Dari yang telah saya alami dimasa-masa dini, tidak kemudian membuat saya menjadi seseorang berpribadi istimewa, namun jika melihat kebelakang saya merasa beruntung karena saya sudah belajar tentang kehidupan dan makna diri lebih dulu dibanding teman-teman seusia saya. Saya sudah tahu bagaimana menyadarkan ketidakmampuan dan menyandarkan keinginan sebagai satu motivasi untuk keluar dari situasi buruk.

Mungkin tulisan saya ini sangat membosankan dan solusi yang saya jabarkan pun tidak mencakupi. Saya tidak mencoba untuk menggurui namun ini semua sekedar sharing dengan harapan setelahnya adalah menanamkan perspektif bawha perbedaan adalah keindahan, bahwa setiap orang memiliki perbedaan dan perbedaan bukanlah keanehan justru satu keunikan yang cuma kita miliki sebagai keistimewaan kita dibandingkan dengan yang lain. Dimulai dari sekarang, lihatlah sekitarmu. Berkelilinglah dan lihat!! Kalian pun berbeda, dan menjadi berbeda bukanlah dosa!


Saturday, August 11, 2012

Lost in Life

Pernahkah kamu merasakan hal yang sama?

Seperti ketika ingin bersendawa untuk mengenyahkan luka. Atau mimpi yang seperti nyata.
Menyalakan lagu-lagu untuk dirimu sendiri seperti sebuah soundtrack hidup.
Atau seperti ingin meraih cakrawala namun sedetik kemudian tersadar ketika genggaman mengepal dalam kekosongan.

Barangkali ada beberapa luka yang tidak bisa hilang. Mungkin akan sembuh pada nantinya, namun tidak benar-benar hilang. Karena lewat luka-luka itu, kita dipertemukan dengan diri kita sendiri. Berteriak kepada dunia bahwa kita ada, bukan sekedar eksistensi imajiner belaka.

Setiap luka menghadirkan kepasrahan untuk menyerah.
Menyerah dalam kelelahan.
Karena berserah dalam penyerahan diri bukan berarti kekalahan.
Sama seperti mata kita yang ingin terpejam jika mengantuk.
atau tubuh kita yang ingin dipijat karena pegal.
Semua orang pernah merasa kelelahan. ingin menyerah, ingin berhenti melakukan sesuatu yang memberatkan, ingin melepaskan beban, ingin menghempaskan diri di udara atau membenamkan tubuh dalam tanah sedalam-dalamnya. Ingin menghilang. ingin berada diketerasingan.

Ada paradoksal disetiap momen hidup yang kita lewati, membuat kita berperang dengan diri kita sendiri. Berjuang mempertahankan diri dari kekalahan yang membuat hidup tidak menjadikan kita seperti hidup.

Lalu pada saatnya kita tertidur karena kelelahan, kita menyimpan luka-luka itu dalam mimpi dan ketika terbangun, dada kita mengemban rasa sakit, nafas memberat. Ada jerit yang menggumpal yang membuat kita tercekat.

Ada saat-saat kita harus mengakrabi hati kita masing-masing. bukan untuk menyingkirkan luka dan kelelahan, bahwa kita harus berteman dengan diri sendiri untuk saling menyembuhkan. Sehingga luka tidak melahirkan ketakutan.

Sehingga meski kita sibuk sendiri-sendiri, namun tidak merasa ditinggalkan.

Kita menikmati senja,sore dan jingga dalam kesederhanaan. Dan seperti itu pula juga kita menikmati luka, bukan dengan sendirian. Namun bersama dengan diri kita sendiri. Menikmati nafas demi nafas, bercengkrama dengan ruang demi ruang dari hati milik kita. Karena kita cuma manusia, yang gampang terluka. Seperti selembar daun yang satu persatu terjatuh. namun akan hidup kembali.

Lembayung Laut Biru

                                                          Ada nama yang tidak sekadar dipanggil -- ia diseru. Dipanggil bukan hanya oleh sua...