![]() |
| she |
Dia wanita
Ada jejak senja di rona pipinya.
Berbalut jingga di gaunnya.
Senyumnya terekah dalam warna merah di bibirnya.
Dan malam ikut serta melembutkan rambutnya yang beruntai-untai.
Dia wanita
Berjalan dalam langkah ringan di kakinya.
Namun sembunyi-sembunyi menyimpan beban di kedua bahunya.
Sedangkan matanya tetap teduh,
Senyumnya rikuh,mencipta gagu di mulutmu.
Dia wanita
Sebuah rumah sunyi,
ruangan berventilasi yang selalu ada untukmu bertukar udara.
Tangannya jendela,senyumnya pintu,pelukannya sofa berlengan yang membuatmu nyaman.
Sebuah kompilasi karya tentang cinta dan kehidupan tergantung di dindingnya.
Sebuah rumah yang membuatmu ingin cepat pulang.
Untuk memeluknya dan mencium aroma khas di bajunya.
Dan ia adalah kata pertama dalam semesta bahasa yang kita mengerti bersama, yang terucap dari mulut mungil anak-anaknya.
Ia hanya seorang wanita,
Yang selalu menyimpanmu di peringkat pertama di sudutnya.
Dan mungkin ia hanya ada di posisi terbelakang di sudutmu.
Dunianya kecil, suaranya lemah berbisik, sampai kadang-kadang kau pun tak terusik. Kehadirannya tak terasa, namun ia selalu ada menemanimu melewati hari tua sampai ia tak bernyawa.
Sampai satu ketika kamu tersadar,
Ketika ruangan menjadi terlalu sunyi dan kamar pun ikut berdebu.
Bahwa itulah perpisahan paling sunyi yang pernah kau alami.
Note :
Jangan takut kau tak cantik wahai wanita hanya karena kau tak pernah dipuji akan kecantikanmu. Karena cantik itu selalu punya batas kadaluarsa. Namun panggilanmu sebagai ibu akan selamanya ada.
Menulis ini disela-sela kepanasan menunggu hujan saat itu.

No comments:
Post a Comment