Monday, March 30, 2015

Aku dan Langit



Somewhere over the rainbow way up high
There’s a land that i heard of once in a lullaby.

Lagu ini benar-benar mengingatkanku pada kisahku sendiri. Saat aku merasa ada dalam situasi yang tidak aku inginkan. Seperti terperangkap dalam situasi agung yang tidak bisa aku hindarkan.  Saat segala sesuatu terasa buruk. Dan itu dimulai ketika umurku tidak lebih dari 8 tahun. Aku terbiasa duduk melamun diatas tembok rumahku yang menjadi penyekat antara pekarangan rumahku dengan pekarangan rumah tetanggaku. Sepulang sekolah, saat aku tidak ingin main dengan anak-anak seusiaku, aku pasti akan duduk-duduk di situ atau di atas pohon jambu air yang terletak tidak jauh dari tembok itu. Aku bisa duduk berlama-lama sambil menatap langit yang biru nan luas yang hanya menyisakan setitik cahaya lebih terang diujung langit yang lebih jauh.
Aku suka menatap langit. Entah ketika cerah, atau mendung. Seolah-olah langit adalah teman baikku.Seolah-olah aku akan menikah dengan langit suatu hari nanti. Seolah-olah pada akhirnya langit akan membawaku ke tempat yang jauh lebih luas dari tanah yang sedang aku pijak. Lewat langit aku punya mimpi. Di satu mimpi yang aku kira nyata. Semua terlihat sempurna. Seolah itu adalah kehidupan betulan yang sedang aku jalani. Mati rasa pada rasa sakit. Yang ada hanya canda dan tawa. Di satu mimpi itu aku memohon pada langit yang sedang aku tatap lekat.
Aku

ingin

jadi

hujan
                                                                                 **
Somewhere over the rainbow skies are blue
there’s a dream that you dare to dream really do come true

Waktu berjalan seolah abakus, bergerak tanpa peretensi menghitung sisa waktu. Disaat-saat waktu yang bergerak dengan kecepatan angin, ada satu kala ketika kamu ingin menghentikan waktu. Dan umurku tidak lebih dari 8 tahun ketika itu. 
Aku bukan anak ceria dan gemar berceloteh seperti kebanyakan teman-temanku. Aku anak penyendiri. Anak yang gemar membaca koleksi buku-buku yang aku gelar di pekarangan rumah seolah perpustakaan milik sendiri. Berharap ada orang yang cukup menyenangkan untuk diajak membaca bersama. Meskipun pada akhirnya, aku juga yang akan melahap semua buku-buku itu sendirian. Aku bukan siapa-siapa. Hanya anak pemurung yang tidak suka sekolah. Tidak punya teman. Kecuali langit.

Di sela-sela lelah dan duduk di spot yang aku sukai sambil menyapu pandang keatas, berbagi pikiran seolah telepati kepada langit. Aku bercerita padanya, aku benci teman-temanku. Teman lelakiku mengejekku seolah aku tidak layak dimana pun bahkan di sudut kelas sekalipun. Ketika tangan atau barang-barangnya tak sengaja tersentuh, mereka akan menjerit histeris seolah aku pembawa wabah penyakit menular mematikan yang akan menginfeksi siapa pun. Teman perempuanku mengejekku jelek dan udik hanya karena aku suka menyendiri sambil membaca buku disaat semua anak beramai-ramai keluar kelas untuk bermain. Guruku tidak menyukaiku dan menyebutku si tukang nyontek hanya karena PR puisiku lebih bagus dari anak yang sering ranking 1, menuduhku mencontek dari majalah. Orangtuaku selalu marah karena nilaiku selalu jelek. Aku benci aku. Aku marah!

Namun langit selalu membuat aku tenang. Seperti memelukku dari belakang. Rasanya hangat. Melingkarkan detaknya dibahuku. Lembut. Nyaman.
Ketika aku merasa tidak diterima dimanapun, langit merentangkan tangannya menyambutku. Ketika aku sedih, langit akan sedih pula bersamaku. Turun dalam sebentuk hujan gerimis. Atau lewat lengkungan pelangi yang menghantarkan warna-warni untuk aku nikmati . Lalu menghantarkanku pula pada petunjuk-petunjuk misteri yang hanya bisa dipecahkan oleh aku sendiri. Biru langit seperti refleksi, semua yang aku serahkan kepadanya akan dikembalikan kembali utuh, hanya lebih indah dan lebih realistis dari imajinasiku. Kadang aku berpikir, pernahkan langit biru merasa kesepian?  Sayangnya aku tidak punya cukup waktu, tahu-tahu ibu sudah memanggilku masuk untuk mandi. Sudah hampir maghrib katanya. Sebelum mengucapkan kata perpisahan. Aku menyampaikan bibit rindu. Aku akan kembali lagi besok. Menemani langit.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                       **
Someday i wish upon a star
and wake up where the clouds are far behind me
When troubles melt like lemon drops away above the chimny top
that’s where you’ll find me

Aku ingat, Aku bukan anak perempuan yang istimewa dalam hal tertentu. Biasa tapi berbeda. Namun aku tidak pernah bisa mengimpretasi kata berbeda yang aku sandang ketika itu. Mungkin mereka bilang aku berbeda karena tidak suka keramaian. Mungkin aku  berbeda karena lebih memilih sendirian dari pada beramai-ramai bermain di lapangan. Mungkin aku berbeda karena aku sering bicara sendirian tanpa seorang teman. Mungkin mereka pikir aku beda, karena aku sedikit gila. Ibu pernah membawa aku ke psikiater karena seringnya aku bicara tanpa lawan. Bukan karena aku bisa melihat setan, hantu atau semacamnya. Namun ibu tidak tahu kebiasaanku dan ia khawatir aku akan jadi gila karena bicara sendirian bukanlah hal normal. Ahh... Ibu.. bukankah mereka yang merasa waras, belum tentu mengerti tentang kewarasan? Karena tidak selamanya setiap mata dari orang yang berbeda akan melihat hal yang sama pula.
Dan mereka pikir saya berbeda karena saya bukan manusia mesin, yang harus cantik, pintar, pandai olahraga, pandai bermusik, pandai semua hal. Melakukan ini-itu tanpa rasa, selalu tergesa-gesa. Entah mengejar apa. Dan aku tidak suka bergegas mengejar, Kadang aku hanya membiarkan semua hal terjadi begitu saja. Seperti kejatuhan durian dari ketinggian 5 meter. Sakit, namun kita menikmatinya, pada akhirnya.

Sejak kecil aku sudah belajar satu hal lebih dulu. Aku belajar bermimpi.
Bukannya semua anak punya mimpi? Mimpi menjadi super hero, menjadi cinderella. Menjadi polisi, dokter, guru. Apa saja. Tapi mimpi ku berbeda.
Aku ingin jadi hujan.
Perkenalanku dengan hujan lewat cara yang tidak terduga. Seperti Ketika tengah menatap langit mendung di jendela, ia tiba-tiba muncul seolah pahlawan. Seolah berkata. “ Hai! Jika langit temanmu, mengapa kamu tidak menjadi hujan? Karena langit dan hujan adalah satu jiwa. Namun mereka diceraikan oleh guntur, kemudian dijatuhkan ke bumi supaya tidak kelamaan memeluk langit. Dan begitu tetes terakhir dituntaskan, ia akan kembali lagi ke langit, seperti sahabat lama yang akhirnya dipertemukan waktu. Seperti kekasih yang saling menunggu. “
Hujan menggodaku, menari kesana kemari agar aku keluar bermain dengan sang pujaan langit. Sedetik kemudian, aku melompat melewati jendela. Berlari ke jalan. Di bawah hujan. Membiarkan hujan melumat tubuhku sampai habis. Tertawa kegirangan. Melompat-lompat, kemudian berlari, berputar. Membuat satu pola tidak beraturan. Dan anak perempuan berusia 8 tahun, telah menemukan dirinya. Dalam hujan.
                                                                                         ***
Somewhere over the rainbow, blue birds fly
Birds fly, over the rainbow, why then why can’t i?

Hari ini adalah 22 tahun kemudian dari kisah anak perempuan 8 tahun lalu yang sudah lama aku tinggalkan. Dan sore ini langit menghadiahiku hujan turun bertubi-tubi. Banyak yang jengkel, memaki dan mengutuk langit yang menurunkan hujan terus menerus tanpa jeda, karena tertahan di tempat mereka berada. Di saat para pelajar membuka payung mereka dengan malas, atau orang-orang yang berlarian mengindari cipratan kemudian bergegas mencari tempat tumpangan untuk berteduh, aku hanya tersenyum menyaksikan itu semua. Aku malah berjalan pelan di trotoar, menikmati tetesan air mengaliri tubuh, meresapi pori-pori kulit. Menemani tawa anak-anak yang menyewakan payung. Menyamakan langkah dengan derapan hujan yang berlarian kesegala arah. Hari ini adalah dimana aku menemukan diriku 22 tahun yang lalu.
Semua masih sama. Aku masih aneh seperti dulu. Masih tidak cantik seperti dulu.Tidak istimewa dan menjadi perempuan yang sangat biasa-biasa saja. Walaupun nilai-nilai yang aku raih sekarang jauh lebih baik dibandingkan masa Sekolah Dasar, tapi aku masih anak yang banyak ingin tahu. Hanya saja akhir-akhir ini aku jarang bicara lagi dengan langit. Tidak sesering dulu. Sudah lama juga aku pindah dari rumah masa kecilku itu. Kadang aku merindu aku yang sering duduk-duduk diatas tembok sambil memandang langit. Namun entah bagaimana kondisi tembok itu sekarang. Apakah masih kokoh atau mungkin sudah roboh? Segala argumen dan rasa yang aku tinggalkan sudah aku serahkan seluruhnya tepat ketika aku menemukan diriku dalam hujan. Seperti berserah diri dan mengemban harapan baru.

Setiap orang punya banyak mimpi untuk diwujudkan. Dan ketika mimpi itu tidak terwujud, kita tahu bahwa ada momen-momen tertentu dimana orang akan memulai atau melanjutkan mimpi mereka. Karena sebetulnya harapan atau mimpi adalah manifestasi dari kekecewaan. Bahwa memang harapan dan potensi kekecewaan tidak pernah dijual terpisah. Maka, mengelola harapan menjadi hal yang layak disebut bijak.

Aku pernah marah, kecewa, sakit hati tepat disaat masa-masa kecilku yang seharusnya masalah terbesarku adalah menangis karena terjatuh dari sepeda. Alih-alih terjatuh dari sepeda, aku terjatuh pada diriku sendiri. Namun sejak hari itu, aku belajar sesuatu. Akan ada banyak hal yang bisa menghentikan mimpi kita. Bahkan untuk mimpi yang paling absurd sekalipun. Disadari atau tidak, banyak orang yang belum bisa menerima orang yang memiliki mimpi hanya karena terkalahkan oleh realitas hidup. Akhirnya mimpi itu hanya bisa berkembang secara prematur, bahkan sebelum berkembang pun bisa langsung dipatahkan dengan begitu mudah. Lebih lagi ketika orang memiliki dunianya sendiri, mereka dengan mudah menunjukan jari dan berkata orang seperti itu tidak layak ada. Padahal potensi mereka di Dunia sama besarnya.
Mungkin aku anak aneh, jelek, bodoh yang orang bilang dulu di usiaku yang ke 8 tahun. Namun mereka lupa bahwa jauh sebelum itu aku sudah menemukan diriku sendiri. Dan itu adalah awal dari segala awal.  Entah akan berakhir dimana. Meski ada luka yang belum sepenuhnya mengering, namun aku akan mencoba menjadi diriku sendiri lagi.
 Meski saya tidak tahu kemana hidup akan membawa aku. Entah ke kanan atau ke kiri atau bahkan malah tidak kemana-kemana. Namun selalu ada tempat di tepian sana untuk sekedar beristirahat, menikmati angin dan langit.
Maka biarkan aku menjadi hujan sekali ini saja. Aku ingin berlarian kesegala arah, ke semua tempat yang mampu aku jangkau. Ke tempat-tempat baru dan asing. Berlarian kadang lambat, kadang cepat dalam gerakan seolah tarian seperti menawarkan langkah maju. Langkah yang senantiasa ceria bahkan ketika sedang berduka sekalipun.
Jadi biarkan aku jadi hujan, datang dengan pola tertentu yang tidak bisa kamu tebak kapan aku akan turun walau kamu lihat langit mendung. Dan aku akan datang dengan hujan, melangkah dengan pola tertentu. Singgah di tempat yang aku mau dan berpijak ditempat yang tidak akan kamu kira.
                                                                           ****
If Happy lives a blue birds fly,
beyond the rainbow, why can’t i?
Hari ini langit mengamini keinginanku dengan menderapkan langkah gemulai dari sepasukan gerimis disini. Mereka mengajakku bermain. Mereka seperti menyanyikan nanda tertentu, dan aku mendengarkan nyanyian mereka tepat disamping jendela. Mereka datang seolah mengepulkan udara rindu dari cangkir warna biru diatas sana.
Ini Cuma tentang aku dan langit, dan keyakinanku ada di dalam sini. Tepat saat hujan tiba dan langit sore dengan jingga. Langit seperti ingin berkata, bahwa kamu tidak pernah sendiri, ada hujan gerimis yang menemani. Karena hujan selalu turun beramai-ramai, supaya tidak lagi sepi.

                                                                     *************
                                                                         


Lembayung Laut Biru

                                                          Ada nama yang tidak sekadar dipanggil -- ia diseru. Dipanggil bukan hanya oleh sua...