Monday, April 20, 2026

Lembayung Laut Biru


                                              


Ada nama yang tidak sekadar dipanggil -- ia diseru.
Dipanggil bukan hanya oleh suara, tetapi oleh makna yang bergetar di dalamnya.

Dan namamu, Nak, adalah salah satunya.

Lembayung.

Saat langit bertransformasi menjadi warna sunyi.

Detik ketika atmosfir bumi meragu; apakah ia harus melepaskan terang, atau bertahan sedikit lebih lama sambil meredupkan dirinya perlahan bersama malam.

Sebuah jeda yang lembut; titik nol di mana terang dan gelap saling belajar mengerti tanpa saling melenyapkan

Laut Biru.

Bentangan masif yang mengikat bumi, hadir dalam buih-buih yang selalu kita rindukan.

Ia dalam, tenang, namun menyimpan rahasia yang tak pernah habis kita pecahkan intisarinya.
Sebuah ruang penerima yang tidak banyak meminta, namun sanggup mengabsorpsi apa pun yang jatuh ke dalamnya. 
Ia tidak menolak badai, tidak menahan gelombang - ia hanya meredamnya melalui kedalaman.
Mengubah setiap guncangan menjadi ketenangan yang stabil.

Dan kamu adalah konvergasi dari keduanya.
Sebuah peralihan yang indah, dan kedalaman yang menenangkan.
Sebuah ruang di mana kemungkinan bertemu dengan keheningan - seperti partikel kuantum yang memilih hadir justru saat ia diamati oleh cinta.

Sering kali kami berpikir,
saat kamu lahir, kamilah yang mendesain awal hidupmu.

Ternyata kami keliru.

Justru kamulah yang menjadi katalis bagi hidup kami - membuat setiap atom dalam diri kami bergerak lebih sabar, beresonasi lebih luas, dan mencintai dengan lebih jujur.

Kami sering merasa menjadi pelindungmu.
Padahal kamulah yang meredam benturan dari diri kami sendiri.

Dari lelah yang kami sembunyikan,
dari akumulasi kecewa yang mengendap diam-diam
dari hari-hari ketika kami hampir kehilangan rotasinya.

Kami kira kami sedang mengajarkanmu tentang dunia --
tentang hidup,
tentang baik dan buruk,
tentang benar dan salah.

Namun, kamulah yang mengajarkan kami cara memandang dunia tanpa bias prasangka.
Mengajarkan kami tertawa tanpa alasan yang rumit,
memaafkan tanpa syarat,
dan menerima tanpa harus selalu memahami.

Kamu pula yang memberi kami alasan
untuk tetap percaya - bahwa dunia ini, seberapa pun retak strukturnya,
masih sangat layak untuk diperjuangkan.

Nak…ada banyak hal yang belum bisa kami berikan kepadamu.
Ada hari-hari ketika frekuensi suara kami terlalu keras, waktu terasa terlalu sempit, dan pelukan kami terlalu singkat. Ketika kata-kata lembut kalah oleh emosi yang bahkan belum sempat kami pahami, dan kesabaran habis sementara langit pun belum selesai berganti hari.

Maafkan kami...
karena kami belum menjadi orang tua yang utuh.

Kami masih belajar,
masih sering jatuh,
masih sering salah kalkulasi,
masih berusaha memahami diri kami sendiri sebelum benar-benar mampu memahami kamu.

Dan di antara semua itu, kamu begitu tangguh dengan cara yang tidak kami miliki.

Kamu tidak menyimpan sisa-sisa luka,
Kamu tidak menghitung kesalahan seperti kami.

Kamu hanya hidup -  sepenuhnya, sekarang, dan apa adanya.

Dan mungkin, di situlah letak rahasiamu; kamu tidak sedang menjadi siapa-siapa, namun justru karena itu, kamu adalah segalanya.


Selamat ulang tahun, Nak.

Terima kasih....
atas kehidupan yang kamu hadirkan untuk kami.
Atas cara sederhana yang diam-diam mengubah kami
menjadi manusia yang lebih hidup.

Semoga alif kecil kami
yang selalu kami titipkan di setiap doa
menjadi jalan panjang yang menuntun langkahmu.

Dan semoga kamu diliputi oleh keberuntungan-keberuntungan
yang datang tanpa perlu kamu kejar --
yang menemukanmu,
menjagamu,
dan perlahan membentukmu
menjadi manusia yang baik.

Bukan hanya baik pada dunia,
tetapi juga pada dirimu sendiri.

Terima kasih telah menjadi jeda paling indah dalam siklus hidup kami. 
Maaf untuk cinta yang belum sempurna ini,
untuk waktu yang belum cukup,
dan untuk versi kami yang masih terus belajar menjadi sebuah daya gravitasi dalam kehidupanmu nanti-nanti.

Terima kasih, karena tanpamu, kami mungkin tidak pernah benar-benar mengerti apa arti pulang.








 

Tuesday, April 14, 2026

- Fusion -


 



Apa kamu pernah dengar tentang fusion di Dragon Ball?

Yaitu saat dua orang dengan kekuatan yang seimbang, berdiri saling berhadapan, menyentuhkan ujung jari, mengikuti gerakan yang nyaris seperti ritual..
lalu dalam satu momen, mereka bukan lagi dua.
Mereka menjadi satu bentuk baru, satu energi yang berbeda, sesuatu yang bahkan lebih kuat dari gabungan keduanya.

Fusion pernah dilakukan oleh Goku dan Vegeta saat mereka hampir kalah melawan Majin Buu.

Di saat semuanya terasa tidak cukup, mereka memilih untuk menggabungkan kekuatan. Dengan anting di telinga, dalam satu hentakan dan teriakan :

FUSION!!

Lalu,

BLAR!!

mereka menyatu --- dan dari situ, lahirlah sesuatu yang lebih kuat dari sebelumnya.


Long story short --- A
ku membayangkan, mungkin begitulah kira-kira kita akhirnya bertemu.

Dua orang yang berdiri di titik hidup masing-masing, membawa versi diri yang belum tentu utuh, belum tentu siap. Lalu tanpa banyak perhitungan yang sempurna, kita melangkah lebih jauh ---- Dan tabrakan fusion versi kita dimulai empat belas tahun lalu. 

Empat belas tahun! 

Angka yang anehnya tidak terasa seperti angka.

Lebih seperti proses panjang --- seperti molekul yang terus berubah bentuk, beradaptasi, mencari konfigurasi paling stabil.

Pernah nggak sih, ada satu keputusan yang rasanya seperti berdiri di tepi jurang?

Nggak ada tangga. Nggak ada jembatan.

Hanya dua pilihan: melompat, atau tetap di tempat --- dan kehilangan sesuatu yang mungkin tidak akan datang dua kali.

Menurut Soren Kierkegaard, hidup itu memang bukan soal kepastian, tapi keberanian untuk “melompat” meski tidak tahu apa yang menunggu di bawah.

Dan sepertinya, waktu itu… kita memilih lompat.

Bukan karena kita sudah tahu semuanya akan baik-baik saja.
Bukan juga karena kita paling siap.
Mungkin hanya karena ada sesuatu yang diam-diam bilang, “kita pasti bisa!”

Dan disela-sela itu semua kita juga tidak selalu kuat. Tidak selalu benar. Bahkan seringkali, kita sama-sama keras kepala. Tapi justru di situlah kita terbentuk.

Disaat-saat kita pernah hampir “kalah” dalam cara kita masing-masing. Dalam lelah, dalam diam, dalam hal-hal yang tidak sempat diucapkan. Seperti fusion yang diteriakkan Goku dan Bezita, kita tidak benar-benar berhenti. Kita hanya mengubah cara bertahan. Kadang aku yang mengalah. Kadang kamu. Karena pada akhirnya, yang kita jaga bukan ego, tapi kita.

Empat belas tahun…

dan sekarang aku mengerti, ternyata keputusan itu bukan tentang benar atau salah.

Kita pernah hampir jatuh.

Pernah ragu, bahkan pada pilihan yang kita buat sendiri.

Kadang kita terlalu banyak berpikir, kadang justru terlalu keras mempertahankan.

Seperti dua energi dalam satu sistem, kita tidak selalu stabil. Seperti kata Heraclitus tidak ada yang benar-benar tetap selain perubahan itu sendiri.

Dan mungkin itu juga yang terjadi pada kita ---- kita tidak tetap, tapi kita terus memilih untuk menetap. Karena kita telah menciptakan satu rumah milik kita sendiri.

Ada masa di mana semuanya terasa seperti “amsyong” ----- tidak sesuai harapan, tidak seperti yang dibayangkan. Tapi anehnya, di situlah kita tumbuh.

Seperti molekul yang harus melewati reaksi, tekanan, bahkan benturan, sebelum akhirnya menemukan bentuk yang lebih stabil.

Dan sekarang, setelah empat belas tahun, aku tidak lagi melihat kita sebagai dua orang yang kebetulan bersama. Kita lebih seperti hasil dari proses panjang --- sebuah fusion yang tidak terjadi dalam satu hentakan, tapi dalam ribuan hari kecil yang terus kita jalani. 

Kalau waktu itu kita tidak lompat, mungkin kita tidak akan pernah sampai di sini.
Tidak akan tahu rasanya bertahan, memperbaiki, mengulang, dan tetap memilih satu sama lain.

Jadi kalau aku boleh bertanya ----
bukan untukmu, tapi untuk kita yang dulu:

apakah keputusan itu mudah?

Tentu tidak

apakah selalu terasa benar?

Tidak juga

tapi apakah itu perlu?

iya.

karena dari semua kemungkinan yang pernah ada, kita adalah satu-satunya hasil yang akhirnya terjadi dan sampai hari ini, masih memilih untuk tetap ada.

Dan kalau aku harus jujur,

empat belas tahun ini bukan tentang kita yang selalu terlihat kuat,

tapi tentang kita yang tidak pergi, bahkan saat kita punya alasan untuk beranjak.

Mungkin begitulah cara kita “menyatu”. Sampai - sampai tanpa sadar, aku tidak lagi tahu mana aku, mana kamu,

karena yang tersisa… adalah 

Kita




Sunday, March 8, 2026

Jalan Pulang

Saya teringat satu kutipan puisi Rumi yang ingin saya bagikan hari ini. Saya merasa maknanya dalam sekali terutama ketika mengalami sakit belum lama ini.

Tulis Rumi, 

"Cinta datang dari langit, agar membakar dirimu secara tiba-tiba. Cinta adalah derita dengan tiba-tiba."

Mungkinkah sakit yang datang tiba-tiba ini sebenarnya cinta dari Tuhan?


Segalanya membuat saya menjadi sangat mellow, pun ketika mendengar berita kematian Vidi Aldiano.


Kenapa saya bisa sesedih ini waktu mendengar berita tentang Vidi Aldiano meninggal?

Padahal saya tidak benar-benar mengenalnya. Bahkan tidak bisa dibilang penggemar juga. Saya hanya tahu beberapa lagunya, sekilas saja, karena memang bukan genre yang biasa aku dengar.


Tapi entah kenapa, ada rasa kehilangan yang nyata.


Mungkin karena di antara dia dan saya, ada satu benang halus yang tak terlihat, sebuah pengalaman yang sama-sama pernah kami sentuh dari sisi yang berbeda.


Saya paham rasanya sakit keras. 

Saya paham bagaimana rasanya menggantungkan harapan setinggi langit untuk bisa kembali sehat. 


Saya paham bagaimana rasanya hidup dengan bayang-bayang pertanyaan yang tak pernah benar-benar bisa dijawab..


Ada ketakutan yang sunyi di sana.

Ketakutan meninggalkan orang-orang yang kita sayangi sebelum waktunya terasa cukup.


Dan di poin tersebut, saya memang selalu mudah luluh kalau mendengar cerita orang yang sakit keras karena tubuh saya sendiri pernah menyimpan memori tentang itu.


Tentang rasa sakit yang seperti ombak. datang lagi – datang lagi.

Tentang napas yang terasa sempit.

Tentang tubuh yang tiba-tiba terasa asing untuk ditinggali.


Saya pernah berada di antara dua dunia itu. Di antara bertahan dan menyerah.


Jadi mungkin kesedihan ini bukan semata tentang seorang penyanyi yang pergi.

Mungkin ini tentang ingatan.

Tentang empati yang lahir dari luka yang pernah singgah di tubuh sendiri.


Kematian memang selalu terasa jauh, sampai suatu hari ia lewat di dekat kita, membawa seseorang yang bahkan tidak kita pernah kita kenal. Tapi entah bagaimana, kepergiannya mengetuk ruang-ruang sunyi.


Banyak orang bercerita bahwa dalam sakit mereka jadi bisa melihat kasih sayang Tuhan. Doa-doa jadi terasa dekat dan syahdu. Air mata mengaliri tebing pipi dengan perasaan yang melegakan. Memang manusia membutuhkan penderitaan untuk menemukan wajah Tuhannya. 

Rumi bilang, "Kekasih adalah cermin saat jiwa dalam penderitaan.''

Kita sering mengira sakit adalah cobaan atau ujian, jarang sekali melihatnya sebagai cinta. Padahal sebenarnya bisa jadi sakit yang dikirim ini adalah rasa rindu Allah yang tiba-tiba, membakar kita yang selama ini berpaling dariNya. 

Allah ingin kita dekat, ingin kita mengingatNya, ingin mendekap kita dalam kasih sayang Nya yang lembut dan agung. Dalam pengertian ini, seperti kata Rumi, cinta adalah derita dengan tiba-tiba. 


Banyak orang menyangka kita hanya hidup sekali. Padahal sesungguhnya kita hidup setiap hari, setelah simulasi mati dalam tidur setiap malam. Mati yang betulannya nanti yang sekali, mudah-mudahan bisa kita siapkan diri sebaik mungkin untuk menghadapinya. Tapi sekarang kita hidup, semoga bisa kita jalani sebaik mungkin, menebar, menanam dan menyemai kebaikan sebanyak mungkin dan mensyukurı hal-hal kecil. Belajar mencintai lebih dalam. 

Belajar melihat segala sesuatu dari sudut pandang yang berbeda-beda. Dibanding penderitaan yang dialami, hikmah yang saya dapatkan dari sakit ini jauh lebih besar. Saya merasa terlahir kembali menjadi individu yang baru.


Dan untuk semua orang yang selalu ada di samping saya, yang dengan cara kalian masing-masing terus memberikan semangat.. 


Terima kasih.


You know who you are.


07032026


Ilustration song : Frigile - Sting




Friday, June 6, 2025

The Dance

Life has often been compared to a journey. But lately, I think it’s more like a dance. 
Not the kind that demands perfection, 
but the kind that flows with emotion, spontaneity, and vulnerability. 
The kind you feel more than you follow. 
The kind that invites both joy and missteps.

And in life, especially during hardships, this dance becomes even more delicate. Because it’s not only about how we move, but about who we become as we move.

I recently came across a quote that lingered in my thoughts:

“When a woman acts like a child, she’s with a man. When she acts like a mother, she’s with a boy.”

It struck me, not just as a comment on relationships, but as a reflection on how our environment, our partnerships, our life circumstances shape the way we show up.

Because sometimes, the version of ourselves that emerges in any chapter of life depends on the music we're dancing to and with whom we’re dancing.

Life isn’t a straight line.
It’s a rhythm. 

A sway. 

A breath. 

A pause.

A dance.

Not the kind rehearsed on polished floors under perfect light, but the kind we do when no one’s watching. 
When our feet are sore. 
When the music is faint, and we’re not sure of the next step.

We all carry something.

Invisible weights. 

Unseen ache.

And stress, it doesn’t always come from how big something is.

It comes from how much of us it takes to carry it.

The small things,
Those two side jobs,
That one responsibility, 
The daily expectations,
They’re real.
They matter.
They take something from you..

And in my case?
My hardships aren’t breaking me.
They’re making me more human.
More aware.
More tender.

They strip away the illusion of control and remind me that to feel deeply,
Even the ache is a sign that I’m still alive.
Still trying.
Still here.

Sometimes it’s the cracks that let our humanity shine through.
And maybe that’s the whole point.
Not to be perfect.
But to be real.
To be present.
To be beautifully unfinished.

Because this dance we call life…
isn't about flawless moves.
It's about continuing to move despite the music changing.
Despite tired feet and a rhythm we sometimes can’t find.

And yet...
I keep Dancing...

Luckily, I have someone.

Someone far away in miles, 
but close in the ways that matter.
Someone whose presence echoes in the silent spaces of my day.
If he were gone… 
my life wouldn’t shatter.
It would pause.
Like a film waiting for its next scene.
Like breath held before a note..


He doesn’t fix the cracks.
He doesn’t erase the hardships.
But he makes the dance worth continuing.

So here I am.
Alive. 
Tired. 
Trying.
And still dancing.
To the quiet hum of hope.
To the rhythm of resilience.
To the song only I can hear.

And maybe that’s the point.
Not to be perfect.
But to be real.
To be present.
To be beautifully unfinished.


..................

Inspired from : Elisa - Dancing








Sunday, October 6, 2024

Dear My Younger-Self


Dalam hidup, ada beberapa orang yang harus kita temui untuk kemudian kita tinggalkan;
Ada beberapa peristiwa yang harus kita alami untuk kita lupakan.

Demikianlah!
Hidup memang ditegakkan dengan kemungkinan-kemungkinan macam itu,
Paradoks-paradoks yang ganjil. 
Semacam oksimoron.

Barangkali ; Penyesalan-penyesalan yang sebenarnya kita rencanakan melalui sejumlah pilihan takdir yang kita kehendaki.

Seperti salah satu pertanyaan paling klise :

 "Mengapa kita harus pernah mencintai seseorang yang pada akhirnya akan kita benci?"

Klise?
Tentu saja!
Juga membuang-buang waktu!

Apa yang salah dengan 'pernah mencintai'
Apa yang salah dengan 'kita pernah berbahagia'?

Tidak ada!

Barangkali yang salah adalah pilihan kita untuk terjebak dalam kebencian-kebencian yang menggerogoti diri kita sendiri.
Membuat kita bodoh dengan menangisi hal yang sama berkali-kali.

Maka, hai kamu Little Vita! Sudahlah! Lupakan saja!

Seperti yang kita tahu!

Kita selalu gagal menertawakan lelucon yang sama untuk kali kedua atau ketiga, kan?

Lalu,

mengapa kita selalu berhasil menangisi hal yang sama berkali-kali?

Kita harus membunuh kebodohan-kebodohan semacam itu!

Dear Little Menik!

Dalam perjalanan, kita akan menyadari bahwa selalu ada tujuan untuk semua hal yang pernah kita lihat,
semua peristiwa yang pernah kita alami,
semua orang yang pernah kita temui,
semua penyesalan,
kebahagiaan dan kesedihan.

Beberapa hal berguna untuk menguji seberapa kuat kita bisa menghadapi semuanya,
percayalah bahwa semuanya bertujuan untuk mengeluarkan semua yang terbaik dari dalam diri kita.

Sebab, diriku yang sekarang telah mengerti bahwa hidup adalah sebuah karya seni yang penuh dengan warna-warna kontras.
Dalam kegelapan, kita dapat menemukan cahaya, dan dalam kesedihan, ada ruang untuk bertumbuh. 

Terima kasih telah ber-evolusi menjadi Vita yang kuat, yang tegar, mungkin masih sesekali cengeng, namun kesemuanya itu telah memperkaya perjalanan kita.

Jadi, mengapa masih berpikir bahwa kita dilahirkan hanya untuk menjadi pecundang? Mengapa harus terus berkubang dalam penyesalan-penyesalan?

Hidup hanya sekali, terlalu singkat untuk selamanya diratapi. Maka rayakan apa saja hari ini!
Mari dekatkan diri kita dengan siapa saja yang membuat kita menjadi manusia berbahagia.
Mereka yang bisa menepuk pundak kita saat tertawa,
Mereka yang bisa menghibur kita di saat-saat sedih,
Mereka yang benar-benar peduli pada kita dan bukan pada diri mereka sendiri.
Dan merekalah orang-orang yang harus kita jaga dalam sisa hidup kita selanjutnya.
Sebab kita sudah tahu,
Semua orang yang kita temui dalam hidup, 
selain orang-orang ini, hanya sejenak numpang lewat!

Jadi, adakah yang salah dari sebuah penyesalan?
Mungkin tidak ada.
Barangkali, kita memang harus menghidupkan beberapa jenis penyesalan, untuk kita bunuh sambil tertawa.

Terima kasih Little Itong, Vita, Menik, Ita!
Darimu kita telah menyelami samudera cerita bersama dan berlayar dengan kapal kita sendiri. 
Mungkin kapal kita hanya kapal kecil dengan layar compang-camping,
Mungkin cerita kita bukan cerita luar biasa, dan ketika kita tiada pun mungkin kita tetap bukan siapa-siapa. Namun segala di dunia adalah esensi fana. Hadir hanya sementara. Datang hanya untuk mengasah rasa.





Inspired from : IU - My Old Story

Wednesday, September 13, 2023

Kedewasaan

Anakku Hening Gallura Pagi,

Jika ada yang bertanya padamu, apa artinya tumbuh dewasa?

Jawablah, kedewasaan adalah tercapainya keseimbangan batin di mana akal pikiran bekerja dengan emosi untuk saling mengontrol dan membenahi proporsinya satu sama lain.

Saat kita harus marah, marahlah, tapi lantas pikirkan baik-baik bahwa kemarahan bisa merusakkan.

Kalau bersedih, menangislah, tapi lantas pikirkan baik-baik bahwa kesedihan yang panjang hanya akan membuang-buang waktu dan energi.

Kalau berbahagia, tertawalah, tetapi pikirkan baik-baik bahwa saat kita tertawa berlebihan barangkali tetangga kita sedang sangat bersedih atau kesepian.

Kita bisa melakukan dan memutuskan segala hal sesuai kehendak pikiran kita, tetapi jangan abaikan perasaan-perasaan ; suara-suara yang membisikkan kelembutan dan kepekaan hati dan nurani masing-masing kita.

Marahlah sampai kita tahu bahwa kemarahan kita serba berlebihan dan merusakkan, menangislah sampai kita tahu bahwa pada saatnya kita harus berhenti dan melanjutkan kembali semuanya.

Tertawalah sampai menangis.

Menangislah lalu kembali tertawa.

Kadang-kadang kita harus merasakan semua itu sampai pada batas-batas terjauh.

Lakukanlah!

Puaskan dirimu.

Kelak, suatu hari, 

kita akan tahu bahwa untuk melakukan semuanya kita tak perlu sejauh itu.

Manangislah saat bersedih, lalu sudah.

Marahlah saat harus marah, lalu sudah. 

Tertawalah saat berbahagia, lalu sudah.


Hidup sadar adalah saat pikiran dan emosi kita perlakukan secara adil sesuai dengan daya hidup yang kita miliki dan hidup yang sedang kita hadapi. Itulah adil.


Untuk adil, kita harus tahu batas-batasnya. Hakim yang adil adalah hakim yang mengetahui batas-batas.

Tapi, tentu saja tak usah sering-sering main-main ke perbatasan terjauh, cukup sesekali. 

Karena kita juga akan tahu dengan sendirinya bahwa berjalan, atau berlari, sampai ke perbatasan terjauh sungguh melelahkan; baik menangis, marah, tertawa, atau apapun.

Pikiran dan perasaan selalu berkehendak melampaui batas, itulah sebabnya Tuhan menciptakan mereka berpasangan: Untuk saling mengontrol dan membenahi proporsinya satu sama lain.

Itulah makna menjadi dewasa. 

Namun Nak,

Jangan dewasa terlalu cepat. 

Jadilah seperti dirimu apa adanya. 

Dewasalah nanti-nanti.. jika kamu telah siap!


(13072023 : Tigapagi)

Saturday, March 28, 2020

Kita di hari Minggu



Kita di hari minggu,

Seperti senyum embun pagi yang meleleh oleh rekahan matahari.


Kita di hari minggu,

Seperti secangkir kopi di pagi hari yang kita nikmati uapnya.

Seperti perjalanan rasa yang mungkin kamu ketahui,

Namun belum kamu mengerti.

Kita di hari minggu,

Seperti senyum

Seperti hidup

Seperti cinta

Tidak sempurna,

Tapi indah begitu adanya.

Hening Pagi




Pada pagi hari,


Tuhan senantisa berkeliling merawat segenap ciptaannya dengan cermat dan hati - hati tanpa memperhitungkan hari.



Tuhan merawat segala yang kita kenal.

Yang pernah kita kenal,

dan juga yang tidak akan pernah bisa kita kenal.

Tanpa kecuali....

Bitter - Sweet



Seperti hidup yang tidak selalu berkolerasi dengan kesenangan.

Terkadang sesuatu yang pahit belum tentu pertanda buruk.

Begitu pun rasa manis, 

belum tentu selalu lebih baik.

Karena hidup penuh dengan kejutan-kejutan yang akan mempertemukan kita ke destinasi dalam rasa apapun yang mampu kita kemas.

Entah pahit.

Entah manis.

Untuk Gallura



Tetaplah duduk dipangkuanku.


Karena akan selalu ada peluk dan ciumku disana.


Tetaplah duduk dipangkuanku,


Karena akan ada tawa dan tangis yang menemani hari-hari kita.



Dan akan ada kau yang mencintaiku dengan caramu, dan aku yang mencandumu.

Akan ada kutuk dari setiap pisah kita walau sesaat.

Aku lah jendelamu dalam rangkai kayu,

Aku hujanmu tanpa aroma petrichor di dinding sendu,

Jadi tetaplah duduk dipangkuanku,

Mari pilin semua kita, bersama laju waktu.

Perjalanan #3

Ada pepatah bijak yang berkata :

"Jangan selalu melihat keatas karena bisa jadi kamu akan tersandung.
Sesekali turunkan pandanganmu kebawah supaya tak terjatuh".


Sekalipun itu klise terdengar, tapi itu penting. 

Karena pepatah bisa jadi pemandu jalan.

Namun, 

Terkadang kamu pun perlu sesekali melihat keatas saat berjalan.

Ada langit disana, 

begitu luas sampai batasnya dengan bumi hilang.

Bisa kamu nikmati jingganya senja,
Lengkungan pelangi penuh warna,
Ada bintang yang seolah-olah berada di satu bidang.

Namun jangan kamu habiskan waktu terus melihat ke arah langit, 


karena ada matahari yang menyilaukan.
Bisa jadi kamu akan histeris untuk hal hal yang tidak dimengerti.

Sesekali, 


kamu pun harus menurunkan pandangan.
Karena ada jejak - jejak kaki membelah di atas tanah.
Ada genangan air setelah hujan dan kamu bisa bermain main,

Melompat menghindari atau malah kecipratan.
Ada rumput hijau lembut yang siap menangkapmu ketika terjatuh, 

atau sekedar duduk duduk dengan kaki meringkuk.

Bergerak menjauh untuk menghindari adanya paku, kerikil dan batu besar di jalan yang siap menghentikan langkahmu ke depan.

Setiap jenjang memiliki dunia sendiri. 


Dan kadang kadang kita tetap harus menyamakan pandangan, 

ke depan, 

ke samping atau ke belakang.

Karena setiap pandangan selalu mengaburkan, 

karenanya jangan biarkan matamu yang menentukan arah. 

Karena bisa jadi kau akan tersesat.

Biarkan lah hatimu yang memutuskan ingin pergi kemana,

Kali ini biarkan hatimu yang jadi jangkar dari setiap langkah yang kau buat.
Kita perlu tahu segala hal dalam pandangan-pandangan yang berbeda.

Buka matamu selebar-lebarnya, 


Seluas-luasnya.. 

Lihat semua dari segala sisi dan sudut. 

Atas

bawah

depan

belakang

samping.

Karena pandang-pandangan itu akan menemanimu berjalan. 

Karena apa yang kita lakukan sekarang masih tentang perjalanan, Kan?



Pic by : me 

Lembayung Laut Biru

                                                          Ada nama yang tidak sekadar dipanggil -- ia diseru. Dipanggil bukan hanya oleh sua...