Kembali, pada sebuah waktu dimana
kita belum saling mengenal. Mungkin kita sudah kenalan sejak dulu, namun tidak
benar-benar kenal seperti sekarang. Kamu yang terkenal flamboyan, penyuka alam,
lagu hardcore dan pop indie, si friendly yang tidak jarang jadi flirty (hihi.
Peace!), si penulis, si heart breaker dan apapun yang jadi titlemu ketika itu.
Sedangkan aku! Hmmmm…. Tunggu,tunggu. Aku memang kebalikan dari itu semua namun
sepertinya kamu tidak begitu mengenalku seperti aku yang sudah kenal kamu duluan
bahkan sebelum kamu benar-benar mau kenal aku. Aku ingat dulu waktu pertama
kali kita ketemu diselasar kampus dan kamu masih dengan mantan pacarmu yang
cantik itu, kita berjalan berlawanan arah. Kamu bergandengan dengan mantanmu
itu, dan aku berjalan dibelakang kawan-kawanku. Kita berpas-pasan. Menyapa
sekedarnya. Dan sudah.
Kita tidak benar-benar tahu apapun
tentang masa depan yang mendekatkan. Kita sibuk dengan pikiran dan perasaan
kita masing-masing waktu itu. Tidak terpikir bahwa suatu hari kita akan diberi
kesempatan untuk menjadi teman seumur hidup sampai kita mati. Aku kenal kamu
waktu itu sekedar hanya keharusan dan aku tidak begitu suka kamu yang terlihat
selalu berantakan dengan segala title yang sudah terlekat erat di keningmu itu.
Hari ini adalah kesekian kalinya
aku membuka kembali potongan-potongan memori dan mencari satu penghubung
diantara itu semua kemudian menceritakannya disini agar tanpa banyak usaha,
kamu bisa langsung menghadirkan semua potongan-potongan kenangan itu tanpa
ter-interupsi oleh pikiran-pikiran lain seperti hutang atau bunyi sms tagihan
hutang lain misalnya. Cerita ini adalah sesuatu, dan sebutlah sesuatu itu
adalah mimpi. Aku ingat mimpiku dulu. Aku pernah bertemu denganmu di mimpi.
Namun entah dimana aku lupa. Aku bermimpi kita bertemu di rumah, kemudian di
kampus dan terakhir disebuah taman bermain. Memang tidak jelas baik
penggambarannya bahkan dari wajahmu saja sengaja Tuhan buramkan untuk
menghadirkan kemisteriusan destini. Aku ingat tiga kali berturut-turut bermimpi
yang sama. Meski sampai sekarang tidak pernah ingat detailnya, namun ada satu
hal yang paling aku ingat yaitu perasaan yang nyaman dan aku merasakannya
sampai tiga kali ketika mimpi itu hadir. Bahkan perasaan nyaman itu ikut hadir
waktu kita akhirnya bertemu lagi. Karena itulah aku selalu suka angka- 3. Aku
anggap angka ini sempurna. Selalu membawa kepada sesuatu yang baik. Meski tidak
men-dewa-kan angka atau nomor, namun aku percaya setelah tiga kali bermimpi
yang sama bahwa ada ‘Sesuatu’ yang sengaja dihadirkan Tuhan sebagai clue. Disini aku membawamu kepada
teka-teki kehidupan. Membawamu kepada kemisteriusan destini. Menghantarkanmu
kepada petunjuk-petunjuk yang saling berkorelasi dengan segala hal yang terjadi
di hidup kita bahkan sebelum kita tahu. Tak ada yang bisa memecahkan misteri
tersebut selain diri kita sendiri. Dan aku bercerita untuk membuktikannya.
Boleh percaya, boleh juga tidak.
Kamu percaya ada banyak ruang di
hati yang sengaja diciptakan? Fungsinya
adalah ketika satu ruang hati berantakan, akan ada ruangan lainnya yang
menunggu diisi. Boleh jadi sejak ketiga kalinya aku bermimpi, aku sudah
siap-siap membuat ruang terbesar dan berkapling terluas di hati. Siapa sangka,
kalau ruangan itu akhirnya terisi oleh kamu. Entah apa hatimu juga begitu. Cuma
kamu yang tahu.
Kembali lagi ke waktu akhirnya
kita selangkah lebih dekat dengan destini. Siapa yang bisa membayangkan bahwa
perlu bertahun-tahun dan banyak terluka untuk mencapai satu langkah destini.
Setelah akhirnya benar-benar dekat, ada fase dimana kita bukan sekedar
mengenal. Kita berusaha melebur semua jadi satu dimana setiap sensori yang ada
didalam diri kita ikut bekerja untuk menciptakan sebuah destinasi. Ada satu
masa dimana kita melompati waktu. Merancang masa depan dan menerobos
garis-garis tipis dari destini. Bukan sekedar membayangkan saja, namun berusaha
untuk mewujudkannya. Namun ditengah-tengah perjuangan mencapainya, tidak jarang
aku pernah hampir menyerah.
Kamu ingat berapa kali dari satu
minggu kita bertengkar tentang banyak hal?
Kamu ingat berapa banyak
pelarian-pelarian yang pernah kamu buat sekedar untuk memberi kenyamanan buat
kamu dan aku?
Kamu ingat berapa seringnya masuk
lalu-lalang orang banyak baik pria dan wanita yang sengaja kamu hadirkan untuk
masuk lebih jauh kedalam hatimu bahkan ke kehidupanmu?
Disitulah letak misteriusnya.
Destini adalah misterius. Ketika aku yang hampir menyerah, destini malah
menjadi semakin kuat mendekat. Ia bukan sekedar berjalan namun berlari kencang
kearah kita. Seperti ingin berkata “ Hati ini terlalu luas untuk kamu tinggali
sendiri. Maka aku ciptakan ruang terbesar dan kesabaran yang meninggi untukmu
untuk bisa berjalan sejajar kearahku”. Destini bicara kepada kita selayaknya
inspirasi ketika hujan, ia bicara kepada kamu yang berputar-putar mengejar
destinasi dan bicara yang serupa kepadaku yang hampir mau menyerah berbalik
arah dari destinasi. Aku tidak tahu apa nama keren untuk fenomena ini, namun
yang aku tahu adalah aku tidak pernah seloyal ini dalam menjaga urusan hati.
Sampai aku bertanya pada diri semdiri kamu punya mantra apa sehingga aku mau
bertoleransi pada segala tingkah yang semaumu itu? Dan kamu pun balik bertanya aku
pakai mantra apa untuk membuatmu tetap yakin pada langkahmu denganku meski
pernah beberapa kali tersandung urusan hati yang lain. Destini telah
menciptakan substansi waktu dimana setiap jam, detik, menit, hari, bulan, juga
tahun ikut berpartisipasi untuk mempertemukan waktumu dan waktuku sehingga
tetap berjalan searah dan tidak pincang. Tanpa sepengetahuan kita destini
selalu punya rencana back-up untuk
menjadikan kita bukan Cuma cerita, namun hal yang nyata.
Masih ingat waktu kita sedang
memberi ruang sendiri-sendiri karena satu hal dan aku yang mencoba keras untuk
mengembalikan kepercayaan terhadapmu juga terhadapku. Bukannya dijauhkan, namun
kita malah dipertemukan. Disatu sore itu, dikerumunan orang itu kita malah
didekatkan. Dari situlah aku yakin bahwa destini bekerja keras menciptakan
kamu, aku, jadi satu kesatuan yang utuh tanpa cela.
Kembali ke masa itu kemudian
berganti kemasa sekarang. Apa menurutmu ada yang beda?
Kita sudah jauh lebih dekat dari kita yang dulu. Kita bahkan seolah berbagi helaan nafas. Aku ingat kamu berkata begini, “aku bahagia sekarang. Namun bukan bahagia yang terlalu. Semua terasa cukup karena sesuatu yang terlalu bisa jadi salah nantinya. Dan orang ngga ada yang akan ngerti dengan penjelasan yang kayak gini. Tapi aku harap kamu lebih ngerti dari oranglain itu”
Kita sudah jauh lebih dekat dari kita yang dulu. Kita bahkan seolah berbagi helaan nafas. Aku ingat kamu berkata begini, “aku bahagia sekarang. Namun bukan bahagia yang terlalu. Semua terasa cukup karena sesuatu yang terlalu bisa jadi salah nantinya. Dan orang ngga ada yang akan ngerti dengan penjelasan yang kayak gini. Tapi aku harap kamu lebih ngerti dari oranglain itu”
Aku membatin, mungkin kamu juga
cukup cinta aku karena tidak mau terlalu mencintai karena cinta yang terlalu
bisa menjerumuskan. Mungkin juga kamu cukup banyak waktu untuk menunggu aku
yang berjalan sangat pelan menuju destini, karena jika terlalu kebanyakan waktu
semua malah jadi sia-sia.
Semua hal yang terlalu itu, selalu
membuat kita melihat terlalu terburu-buru. Berspekulasi bahwa apapun yang kita
lakukan akan selalu menjadi terlalu yang akhirnya nanti malah jadi keterlaluan.
Aku pikir memang setiap orang punya ekpektasi dan imajinasi juga persepsi
sendiri-sendiri dan ketika mereka bertanya serupa apa kebahagiaan yang ada
kepada kita, mereka malah tercengang karena standarisasi kebahagiaan orang
tidak pernah cukup bisa diuraikan satu-satu meski akhirnya kita saling
menggenapkan. Aku kira oranglain tidak perlu mengerti, Cuma kita saja yang
mengerti dan destini memang mengarahkan kita berada di alur tersebut. Aku pun tidak kecewa karena aku tahu sejak
awal putaran-putaran destini yang bergerak selalu akhirnya kembali lagi kepada
kita. Karena sebesar apapun yang kita buktikan, sebaiknya kita tidak terjebak
di dalam sesuatu yang terlalu. Sehingga kita tidak perlu menghapus salah satu
memori yang sudah terjejak sebelumnya dan kita malah bisa tetap membicarakannya
dengan santai sambil minum kopi sampai dini hari.
Bukan berarti segala yang
sederhana bisa terjadi dengan sangat mudah dan cepat. Karena terkadang aku
kesusahan menjangkaumu yang kelewatan cepat berlalu. Jarak waktu yang aku sebut
cepat dan kamu sebut lambat itu menjadi sangat relatif. Sehingga semua menjadi
begitu lentur dan terbentuk dengan baik pada akhirnya. Dalam perjalanan yang
kita pilih untuk satu pencapaian bukan Cuma sekedar menyapa untuk kemudian
pergi lagi. Kita sudah satu langkah kearah pencapaian destini, dan aku yakin
destini punya rencana-rencana mengaggumkan yang tidak terbayangkan dan semua
itu ada di tangan Tuhan yang memang sudah menciptakan jutaan kesempatan. Kita
tinggal melihatnya dengan cermat. Tuhan yang sudah merancang destini menunggu
kita berusaha agar kita peka terhadap jawaban masa depan yang sebetulnya sudah
diciptakan, hanya terangkum dalam banyak kata untuk kita terjemahkan yang tersamar
menjadi kata ‘Ya’ , ‘Tidak’, ‘Mungkin’ , ‘Bukan waktunya’ dan ‘Akhirnya…’
Sehingga rasa bahagia yang kita berdua rasakan bukan Cuma kupu-kupu palsu.
Untuk destini aku tarik satu
kesimpulan. Bahwa kita hadir di dunia adalah untuk menghadapi satu keutuhan
destinasi yang tidak hanya bermanfaat untuk kita, namun jika kita sedikit
melenceng dari jalan yang sudah ditetapkan. Tuhan akan menciptakan destini yang
sudah dimodifikasi dan sudah ter-intermediasi secara masal. Sehingga kita
benar-benar sadar dan jarak untuk mencapai masa depan menjadi terlihat lebih
dekat, bukan cuma jarak fatamorgana saja. Seperti menjemput kita dengan cepat namun
tetap berkata dengan ramah ‘Hati-hati
dijalan. Jangan sampai tersandung dan jatuh ya!”
Hari ini, aku bangga mengingatmu
ketika dulu. Bahagia untukmu sekarang karena destini telah tercipta untuk kita
menjadi satu frame di satu dunia yang sama. Dan secara umum bisa kita
perlihatkan kepada semua orang bukan Cuma peralihan peran saja, namun
benar-benar disikapi karena kesadaran dan kepercayaan terhadap destini dan
destinasi yang mengalahkan gravitasi supaya kita tidak terjatuh atau melayang
tanpa arah.Dan akan ada waktu seumur hidup untuk pencapaian destini dan berharap kita tidak kelelahan sampai ke destinasi.
Kini..
Ada aku dan kamu disebelah kiri.
Bersisian dalam satu frame hidup. Satu kesatuan sambil berkata bersamaan “Destiny! Here We Are!”
Ilustration song and Inspiration song came from Katjie and Piering - Destiny (Homogenic Cover)