Sunday, April 12, 2015

Tiga Tahun

secangkir teh untukku dan secangkir kopi untukmu. Duduk berdua di beranda, saling bicara sambil bersama-sama menghirup campuran udara antara wangi hujan dan pegunungan. Entah udara mana yang paling manis, apakah campuran antara wangi teh dan kopi atau hujan dan gunung yang semuanya kita sama-sama nikmati.

Sore ini aku sedang mengingat-ingat lompatan waktu yang sudah kita tinggalkan bersama. Bagaimana akhirnya kita saling bertukar rasa. lewat perkenalan tidak sengaja, pertemuan kembali setelah bertahun-tahun dilewatkan sendiri-sendiri. saling memantaskan diri menjadi yang terbaik. Sampai akhirnya kita disini, berdua dengan tambahan satu orang lagi yang menjadikan kita tiga.

jejak lompatan kita mungkin bisa dibilang masih terlalu sedikit, namun bukan berarti tidak banyak. Kita telah melewatkan sebanyak-banyaknya waktu yang bisa kita lewatkan bersama. meninggalkan sebanyak-banyaknya jejak kenangan disetiap perjalanan. Dari sebanyak-banyaknya pilihan yang sebelumnya kita lewatkan, pada akhirnya kita saling menemukan diantara pilihan-pilihan yang sudah kita gugurkan. Jadi jangan tanya lagi, mengapa aku bisa menerimamu. Bukankah hati selalu lebih dulu tahu perihal kenyamanan?

Dari rentang waktu itu, ada kala dimana kita kelelahan. Menyatukan pikiran yang berlainan bukan hal mudah untuk dilakukan. Karena kita akan selalu bertemu dengan benturan-benturan itu selama hidup kita. Namun kita berhasil menemukan kesamaan dan mampu meredam benturan itu. Meski kelelahan dipertengahan perjalanan, saling meminjamkan bahu, atau sama-sama bergenggaman tangan agar tidak terjatuh. Ketika kita merasa ada yang salah, kita akan 'puasa bicara' namun setelahnya kita akan saling memeluk dan berkata 'kita akan baik-baik saja'.

Hari ini adalah ke-tiga tahun yang menakjubkan. Ada peluk dan cium yang kita tebar disetiap sudutnya. Ada tangis dan tawa yang memberi warna di hari-hari kita. Ada kamu yang mencintaiku dengan caramu. Ada aku yang mencintaimu dengan segenap diriku. Tambahannya adalah ada Anak kecil yang menyempurnakan semua rasa cinta, lelah, tangis dan tawa. Adakah yang lebih sempurna dari itu? Maka biarkan tiga tahun, di hari kebersamaan ini menua untuk 10 tahun berikutnya, atau 20 tahun atau berkali lipat lagi. Untuk jutaan detik yang terlewati dan untuk jutaan detik yang menanti, izinkan kita selalu menjadi awal dan akhir dari segala hal yang kita jalani. Semoga kita tidak pernah lelah melewati jalan yang tidak mudah.

Sore ini, ada kita duduk berdua diberanda. Secangkir teh untukku dan secangkir kopi untukmu. Menyesap semua isinya sambil menghirup udara basah di kota kita. Terima kasih untuk segala waktu yang telah kamu lewatkan bersamaku dan yakinlah masih ada waktu-waktu lainnya yang akan kita lewati.

Kali ini  mari rapal mantra ini bersama-sama (lagi). Kita adalah semesta

Peluk, cium

Aku





Lembayung Laut Biru

                                                          Ada nama yang tidak sekadar dipanggil -- ia diseru. Dipanggil bukan hanya oleh sua...