pengabdi momen. imajinasi. catatan dalam lamunan. dan disini adalah dimana ia bercerita.
Saturday, December 28, 2013
Saturday, May 18, 2013
Dialog Malam
Selamat
malam.
Kira-kira
jam berapa sekarang di tempatmu?
Jam
1.00 dini hari di tempatku
dan seperti malam-malam kemarin, aku belum terlelap sekejap
pun meski ingin sekali. Meski ingin sekali sesekali bermimpi tentangmu,
bermimpi saling bersentuhan. Mimpi kita berlari-lari ditaman seperti seorang
pemain film india yang kita berdua suka. Mimpi bersama-sama menggandeng mimpi
lain yang ingin sekali terwujudkan. Meski tidur adalah salah satu jalan untuk
menyandarkan mimpi-mimpi itu tadi, aku urungkan niatku untuk terlelap malam
ini.
Ada
hal yang ingin aku lakukan bahkan sebelum malam kembali gelap menjadikan hari
makin malam.
\Aku ingin sekali menyapamu lagi, seperti pagi tadi atau siang tadi.
Namun
aku takut..
Aku
takut untuk menyapamu duluan ketika malam.
Mungkin karena aku malu-malu, dan
takut kamu enggan menjawab sapaanku.
Aku selalu mengurungkan niat untuk
mengirimu pesan-pesan malam yang entah sampai kapan akan tersampaikan. Mungkin
kamu sudah lebih dulu bermimpi tentang hal-hal yang ingin kamu impikan.
Mungkin
kamu sudah lebih dulu menemukan jiwamu yang sudah kamu bentuk sedemikian rupa
dan tak malu-malu lagi untuk kamu siarkan bahwa kamu telah menelanjangi mimpimu
itu tanpa ragu sedikit pun.
Aku
di sini cuma duduk duduk saja.
Mencoba bersahabat dengan kelam dan jangkrik
malam. Sambil sesekali bersenda gurau dengan angan-angan yang Cuma angan-angan
saja tanpa punya kemampuan untuk direalisasikan.
Aku di sini mengingat lagi
momen yang sebelumnya yang tidak pernah ku munculkan ke permukaan. Entah
mengapa kali ini aku menyerah. Aku biarkan pikiran ini melayang-layang di
udara.
Mungkin akhirnya malah sampai ke-kamu juga.
Aku ingat, kamu bukan orang
biasa-biasa saja seperti orang lain mengenal kamu.
Aku suka mengingatmu dalam
hal-hal sederhana. Mengingatmu dengan cara sederhana. Seperti waktu kita jalan
kaki berduaan malam-malam. Sedikit gerimis, ngobrol kesana-kemari. Membicarakan
kebodohan masa lalu, mentertawakan semua kekonyolan yang begitu familiar. Minum
kopi berduan dibalkon sambil membicarakan hujan. Membicarakan buku favorit kita
dengan begitu seru. Membicarakan betapa aku ingin menjadi Hermione Granger dan
kamu yang ingin menjadi Eragon.
Sederhana bukan?
Sesuatu yang sederhana bisa jadi istimewa
bergantung diri kita sendiri kan? Selain itu dari cara-cara sederhana bisa
membagikan kebahagiaan tersendiri yang tidak instan, itu teoriku. Hihi.
Aku
senyum-senyum sendiri sekarang.
Kalau kamu lihat, pasti aku lari-lari karena
malu.
Aku
suka malam-malam begini cuma dengan berkhayal sepuasnya tanpa terinterupsi oleh
ketukan pintu.
Seperti halnya kita yang tidak pernah lelah berbicara tentang
mimpi.
Malam ini aku sedikit melankolis, bisa jadi karena disetiap malam akan
ada cerita yang selalu membumbung bersama perasaan.
Di sadari ataupun tidak
akan selalu ada perasaan ‘butterfly in your stomach’.
Sebelum perasaan-perasaan
itu jatuh, walau belum bisa juga aku bilang perasaan ini sudah kokoh setidaknya
aku masih mampu untuk membuatnya berdiri setegak-tegaknya.
Karena perasaan
seperti ini sebaiknya tetap berdiri semampunya karena kita tidak pernah tahu
kapan cinta itu akan jatuh. Sedangkan kupu-kupu yang aku biarkan bebas
berkeliaran di dinding perutku hingga aku kegelian mulai ku nikmati
pelan-pelan.
Aku menikmati pemandangan kupu-kupu itu dikala waktu malam tidak
juga membuat aku tertidur karena sayapnya mengepak terlalu kencang. Ada banyak
rasa yang ditawarkan malam. Ada setangkup rindu yang bisa aku bagikan
sebanyak-banyaknya.
Aku
sudah bicara apa saja tadi?
Sepertinya kamu sudah mulai terlelap.
Akan aku
simpan kataku yang lainnya di malam berikutnya. Aku tidak mau menghabiskan
semua hanya dalam waktu semalam.
Akan aku cicil sedikit demi sedikit agar tidak
habis.
Agar nanti tidak perlu lagi berkompromi dengan pagi karena kehabisan
stok rasa di malam hari hingga kita bisa berharap menemukan cinta di titik
embun pertama esok hari.
Hingga kita bisa menemukan titik baru untuk membuat
garis panjang supaya kita bersentuhan. Dan perasaan itu bisa menghangat dengan
sendirinya.
Bukan kah cinta datang karena terbiasa? Hehe..
tapi kali ini
sepertinya perasaan ini menjadi lebih impulsif. Sesuatu yang spontan bisa
sangat mengesankan. Jadi kita nikmati saja semuanya satu persatu.
Jangan
terburu-buru.
Biarkan ia melaju pelan, namun pasti sampai ditujuan.
Ditujuan
kita pada akhirnya.
Selamat
malam.
Selamat
tidur.
Ini
aku
Berkata
Rindu kepadamu.
Sebuah Cerita Untuk Anakku (Nanti)
Hari
ini dimulai dengan wangi petrichor di udara bercampur uap kopi yang mengepul diantaranya
membuat seolah-olah semua itu adalah kesatuan sempurna yang tidak dapat
dipisahkan.
Hari ini hujan.
.
.
.
Bahkan
seperti hari kemarin dan hari sebelumnya lagi.
Kota ini memang tidak pernah
kehabisan stok hujan, seolah-olah adalah pabriknya yang selalu jadi kambing
hitam sebagai si pembuat masalah kebanjiran di kota lain.
Dan aku tepat berada
disana, menjadi salah satu bagian kecil manusia yang ikut berpartisipasi menghadirkan
satu cerita dari milyaran cerita yang ada di bumi.
Ku
rapikan pakaian, merapikan ikatan rambutku dan mulai menghirup dalam-dalam
udara lembab nan khas.
Orang hilir mudik berlari bergegas mengeluarkan payung
atau penahan hujan lainnya seperti hujan adalah sesuatu yang mengerikan.
Aku
tidak!
Aku menikmatinya.
Aku membiarkan hujan ikut serta merayakan kehidupanku
dengan melumat habis setiap inci tubuhku hingga kedinginan.
Ada banyak cerita
yang aku simpan yang tidak sabar ingin aku bagikan. Bahkan dititik terpahit
dari sebuah cerita tetap layak untuk dibagikan.
Aku tersenyum.
Aku yang sedang
duduk sendirian disatu kedai kopi sambil menyapu pandangan disudut jendela
dimana orang-orang sibuk menghindari hujan.
Ada secangkir chamomile tea di hadapan. Tidak biasa memang untuk aku si pecinta
kopi yang tidak pernah absen minum kopi di setiap kesempatan. Namun seperti
kataku, hari ini istimewa dan aku sedang merayakannya bersama hujan. Takut lama
kelamaan wangi teh ku dicicipi udara lebih banyak, segera ku sesap untuk
menghangatkan.
Duk!
Ada
gerak halus di perut.
Bukan
cacing-cacing yang minta makan. Bukan juga gejala maag yang biasanya sering aku
derita.
Ini sesuatu yang lain. Ada kehidupan kecil di sana. Di rahimku. Ia bergerak, memeluk erat kehidupannya lewat hela nafas dan detak jantung dalam tubuhku.
Ini sesuatu yang lain. Ada kehidupan kecil di sana. Di rahimku. Ia bergerak, memeluk erat kehidupannya lewat hela nafas dan detak jantung dalam tubuhku.
Duk!
Kembali
ia bergerak. Seperti menyampaikan pesan bahwa aku tidak sendirian. Ada dia di
sini, di dalam rahim dan ikut mendengarkan. Ikut merasakan dinginnya hujan
lewat perantara kulitku. Bahkan di malam-malam di mana aku terpaksa sendirian.
Dia bergerak menemani agar aku tidak kesepian.
Aku
tersenyum, membelai perutku berharap ia yang bergelung hangat di dalam sana
tergetar oleh sentuhan.
Aku berkata dalam hati
‘hai anakku. Mari sini
ikut perayaan besar untuk kehidupanmu. Di mulai hari ini, kamu diperkenankan hadir
oleh Tuhan untuk menemani Ayah dan Ibu.
Ibu di sini sedang merasakan lagi kebahagiaan yang akan ibu simpan di
dokumentasi rasa. Ibu menunggumu hadir tanpa resah, dan berharap kamu sesehat
yang dibayangkan. Ibu menggigil oleh rindu ingin mencium pipimu, dagumu,
bibirmu, meski rupamu saja ibu belum tahu. Tidak perlu memerlukan jarak untuk
sampai di hati ibu, karena kamu sudah mendapatkannya, bahkan sebelum kamu ada.
Karena jarak terjauh bukan puluhan kilometer, dan kamu sudah berhasil melompat
berjuta-juta kilometer tanpa perlu usaha untuk sampai di hati ibu. Terima kasih
kamu memberi ibu kesempatan untuk melihatmu lebih jelas tanpa takut pandangan
ikut kabur karena jarak yang tidak teraba. Sekarang kamu ada, dan ibu bisa
rasa. Terima kasih”.
Duk!
Ia
bergerak lagi dan kali ini gerakkannya lebih keras terasa seperti ingin
menyampaikan sinyal kepadaku dengan jelas untuk menjawab kata-kataku tadi. Jika
ia bisa mengirimkan bahasa telepatinya mungkin ini yang ingin ia sampaikan
‘ Ibu. Ayah. Aku
disini. Terima kasih kepada Tuhan aku diciptakan untuk menemani kalian sampai
aku besar nanti. Terima kasih kepada Ayah dan Ibu untuk memberiku kesempatan
tetap hidup meski bentuk dunia saja rasa-rasanya masih seperti mimpi gulali.
Aku sudah merasa bahwa aku istimewa dan aku menunggu-nunggu untuk mengenal
kalian dengan sangat baik. Dan kalian adalah wangi pertama yang akan aku cium
diinderaku. Aku tahu bahwa mataku tidak perlu bekerja berkali lipat untuk mencari
sosok kalian, karena kalian selalu ada. Terima kasih. Dari anakmu yang tidak
sabar menunggu.
Ahh…Imajinasiku
berlari kesegala arah, bukan tanpa tujuan. Imajinasi ini masa depan. Dan aku
akan ingat hari ini dimana mimpi-mimpi yang terkemas di dalam koper memori akan
aku buka dan ku serahkan sebagai cerita untuk anakku saat ia lahir nanti
sekaligus menyegarkan kembali mimpi-mimpi itu yang akan selalu membuat hidup
menjadi layak dijalani.
Aku akan ingat hari ini dimana hidupku meski
bukan hidup yang baru, kali ini memang masih mengenai perjalanan namun dengan
cerita yang baru menjadi IBU.
Aku
akan ingat hari ini, dimulai dari titik nol hingga titik terbaru. Menikmati
setiap proses, skema destini, berjalan beriringan tanpa takut diburu waktu.
Anakku,
apa harapanmu nanti? Beritahu kepada Ayah dan Ibu, dan semoga semesta
berkonspirasi mengantarkan maumu.
Hujan
reda.
Menciptakan genangan air dimana-mana. Kini semua orang sibuk melipat payung
atau jas hujan mereka dan kembali beraktivitas seperti biasa. Aku tetap duduk
dan menikmati momen hari ini sebagai sesuatu yang tidak pernah terlupa sampai
nanti aku menua. Hai anakku! Momen ini akan Ibu awetkan dalam sebentuk kapsul
berikut dengan percakapan kita lewat hati dan latar belakang hujan yang
sama-sama kita icipi. Sehingga kita bisa melompati waktu dan menikmati momen
ini kapan pun kita mau. Kita bisa berbincang-bincang, kamu bisa menangis
sekerasmu, marah sepuasmu dan yakin Ayah dan Ibu tetap berada di tempat yang
sama. Di hatimu.
Kamu perlu tahu, Aku bahagia punya kamu.
Tidak
lama setelah hujan mereda sesosok lelaki datang menghampiri. Ia melambaikan
tangan sambil tersenyum. Ia mendekat kemudian melingkarkan tangannya dibahuku.
Baju dan badannya basah karena
kehujanan. Ia mengajak aku pergi ketempat yang akan kamu kenal sebagai rumahmu.
Anakku, perkenalkan.
Inilah ayahmu.
Subscribe to:
Posts (Atom)
Lembayung Laut Biru
Ada nama yang tidak sekadar dipanggil -- ia diseru. Dipanggil bukan hanya oleh sua...
-
Apa kamu pernah dengar tentang fusion di Dragon Ball? Yaitu saat dua orang dengan kekuatan yang seimbang, berdiri saling berhadapan, meny...
-
Seperti biasa. Kita diam kali ini, hanya duduk duduk saja di taman kota sambil memandangi senja yang mulai merona jingga. ki...


