Selamat
malam.
Kira-kira
jam berapa sekarang di tempatmu?
Jam
1.00 dini hari di tempatku
dan seperti malam-malam kemarin, aku belum terlelap sekejap
pun meski ingin sekali. Meski ingin sekali sesekali bermimpi tentangmu,
bermimpi saling bersentuhan. Mimpi kita berlari-lari ditaman seperti seorang
pemain film india yang kita berdua suka. Mimpi bersama-sama menggandeng mimpi
lain yang ingin sekali terwujudkan. Meski tidur adalah salah satu jalan untuk
menyandarkan mimpi-mimpi itu tadi, aku urungkan niatku untuk terlelap malam
ini.
Ada
hal yang ingin aku lakukan bahkan sebelum malam kembali gelap menjadikan hari
makin malam.
\Aku ingin sekali menyapamu lagi, seperti pagi tadi atau siang tadi.
Namun
aku takut..
Aku
takut untuk menyapamu duluan ketika malam.
Mungkin karena aku malu-malu, dan
takut kamu enggan menjawab sapaanku.
Aku selalu mengurungkan niat untuk
mengirimu pesan-pesan malam yang entah sampai kapan akan tersampaikan. Mungkin
kamu sudah lebih dulu bermimpi tentang hal-hal yang ingin kamu impikan.
Mungkin
kamu sudah lebih dulu menemukan jiwamu yang sudah kamu bentuk sedemikian rupa
dan tak malu-malu lagi untuk kamu siarkan bahwa kamu telah menelanjangi mimpimu
itu tanpa ragu sedikit pun.
Aku
di sini cuma duduk duduk saja.
Mencoba bersahabat dengan kelam dan jangkrik
malam. Sambil sesekali bersenda gurau dengan angan-angan yang Cuma angan-angan
saja tanpa punya kemampuan untuk direalisasikan.
Aku di sini mengingat lagi
momen yang sebelumnya yang tidak pernah ku munculkan ke permukaan. Entah
mengapa kali ini aku menyerah. Aku biarkan pikiran ini melayang-layang di
udara.
Mungkin akhirnya malah sampai ke-kamu juga.
Aku ingat, kamu bukan orang
biasa-biasa saja seperti orang lain mengenal kamu.
Aku suka mengingatmu dalam
hal-hal sederhana. Mengingatmu dengan cara sederhana. Seperti waktu kita jalan
kaki berduaan malam-malam. Sedikit gerimis, ngobrol kesana-kemari. Membicarakan
kebodohan masa lalu, mentertawakan semua kekonyolan yang begitu familiar. Minum
kopi berduan dibalkon sambil membicarakan hujan. Membicarakan buku favorit kita
dengan begitu seru. Membicarakan betapa aku ingin menjadi Hermione Granger dan
kamu yang ingin menjadi Eragon.
Sederhana bukan?
Sesuatu yang sederhana bisa jadi istimewa
bergantung diri kita sendiri kan? Selain itu dari cara-cara sederhana bisa
membagikan kebahagiaan tersendiri yang tidak instan, itu teoriku. Hihi.
Aku
senyum-senyum sendiri sekarang.
Kalau kamu lihat, pasti aku lari-lari karena
malu.
Aku
suka malam-malam begini cuma dengan berkhayal sepuasnya tanpa terinterupsi oleh
ketukan pintu.
Seperti halnya kita yang tidak pernah lelah berbicara tentang
mimpi.
Malam ini aku sedikit melankolis, bisa jadi karena disetiap malam akan
ada cerita yang selalu membumbung bersama perasaan.
Di sadari ataupun tidak
akan selalu ada perasaan ‘butterfly in your stomach’.
Sebelum perasaan-perasaan
itu jatuh, walau belum bisa juga aku bilang perasaan ini sudah kokoh setidaknya
aku masih mampu untuk membuatnya berdiri setegak-tegaknya.
Karena perasaan
seperti ini sebaiknya tetap berdiri semampunya karena kita tidak pernah tahu
kapan cinta itu akan jatuh. Sedangkan kupu-kupu yang aku biarkan bebas
berkeliaran di dinding perutku hingga aku kegelian mulai ku nikmati
pelan-pelan.
Aku menikmati pemandangan kupu-kupu itu dikala waktu malam tidak
juga membuat aku tertidur karena sayapnya mengepak terlalu kencang. Ada banyak
rasa yang ditawarkan malam. Ada setangkup rindu yang bisa aku bagikan
sebanyak-banyaknya.
Aku
sudah bicara apa saja tadi?
Sepertinya kamu sudah mulai terlelap.
Akan aku
simpan kataku yang lainnya di malam berikutnya. Aku tidak mau menghabiskan
semua hanya dalam waktu semalam.
Akan aku cicil sedikit demi sedikit agar tidak
habis.
Agar nanti tidak perlu lagi berkompromi dengan pagi karena kehabisan
stok rasa di malam hari hingga kita bisa berharap menemukan cinta di titik
embun pertama esok hari.
Hingga kita bisa menemukan titik baru untuk membuat
garis panjang supaya kita bersentuhan. Dan perasaan itu bisa menghangat dengan
sendirinya.
Bukan kah cinta datang karena terbiasa? Hehe..
tapi kali ini
sepertinya perasaan ini menjadi lebih impulsif. Sesuatu yang spontan bisa
sangat mengesankan. Jadi kita nikmati saja semuanya satu persatu.
Jangan
terburu-buru.
Biarkan ia melaju pelan, namun pasti sampai ditujuan.
Ditujuan
kita pada akhirnya.
Selamat
malam.
Selamat
tidur.
Ini
aku
Berkata
Rindu kepadamu.


