Wednesday, February 8, 2017

Semesta




Ada bukumu dan segelas kopi dimejaku.

Ada setangkup rindu di semestamu
Dan aku belajar lagi mengeja kamu
Ketika aku mulai gagu membaca arah menuju kembali ke masa itu.

Aku sudah menghabiskan ratusan buku.
Membaca sajak demi sajak
Larik demi larik
Menyimpan satu cerita yang kemudian layak untuk dibagi bersamamu.


Ada bukumu dan segelas kopi di senja kali ini.

Dan kamu adalah buku yang kususun rapi dalam rak hati.

Kubaca aksara rasamu, hati hati Seperti  merapal mantra.
Berbalut dengan kamus tebal, dan kemudian mengulang lagi kata kata di kepala seperti kekasih impian.

Membacamu lagi kadang melelahkan.
Namun tidak membuatku berhenti.
Seperti ingin melingkarkan tangan dibahumu.
Seperti cinta dalam perjuangan yang tidak boleh sia sia.

Lalu kamu menjelma menjadi sekeping biji kopi yang siap kuseduh.
Sekeping biji kopi yang kemudian memberikan kehangatan dan keterjagaan untuk melewati malam.

Ada bukumu dan segelas kopi dimejaku.

Dan Kamu adalah buku yang aku baca sambil menyesap kopi di senja hari,
Aromanya bergerak mengikat bersama wangi petrichor di langit gerimis.

Ada cerita tentangmu dibukuku, ada kenangan yang terus bergerak menujumu.
Lalu aku akan menunggu,
Memberi kesempatan pada waktu bahwa ia setia menemaniku, sampai kamu menjemputku

Yang sesak oleh kata
Mencipta cerita baru.





.......

08/02/2017
Sambil  membaca buku Harry  Potter  untuk  kesekian  kalinya




Friday, February 3, 2017

Kembali



Ini tulisan kesekian kali yang aku buat. Dan lagi lagi selalu kembali kepadamu. Seolah waktu hanya ingin berhenti dilangkahmu. Seolah gerakanmu adalah kunci untuk melepaskan molekul – molekul rindu. Bahkan ketika hujan pun, riaknya selalu membuatku membuka halaman kenangan. Wangimu sudah terlalu melekat. Tidak hanya dihidungku, namun semua tentang kamu sudah tersimpan dalam setiap inti sel ditubuhku.
Dan kali ini, biarkan aku yang bercerita lagi.
Cerita tentang aku
Cerita tentang kamu
Cerita tentang kita.
************

Bagimu, hujan adalah puisi yang jatuh dari langit. Dimana sebagian besar orang akan menghindar kecipratan, namun kamu adalah manusia pertama yang akan lari ketengah lapangan untuk menyambutnya mulai dari tetesan pertama ia jatuh. Kamu akan sengaja berlama-lama berdiri dibawahnya, seperti sedang mengganti tabung beban dan melepasnya lagi ke semesta.
Kamu selalu suka hujan. Seperti hujan memberi segenap kehidupan di ruang-ruang sunyi. Seperti membuka realitas yang terperangkap dalam sepi. Dan hujan seperti dentuman stansa bergerak tanpa kendali, menggerogoti nafsu menjadi makin samar – samar.
Ingatkah kamu sewaktu kita sama – sama dilumat hujan, dan kamu memacu laju motormu kencang. Dan kamu berteriak kegirangan dan aku bahkan tidak mau kehilangan sedetik pun untuk menyaksikannya.
“Apakah kita akan selalu sebahagia ini?” tanyaku disatu sore, dibangku taman kota ketika itu.
“Mungkin tidak. Namun bagaimana pun kita akan saling jatuh cinta setelahnya. Karena kita pasti tahu jalan pulang bahkan ketika kita tersesat. Karena kita sama sama sudah mengurung semua peristiwa. Dan kita tinggal membukanya satu persatu”. Lalu kamu menggenggam tanganku erat, memelukku dalam diam setelahnya.
Beberapa hari kemudian, kamu akan meneleponku untuk memastikan aku baik baik saja. Menjawab setiap pertanyaanku dengan menggebu, seolah melampiaskan emosi yang tertahan karena rindu.

Ah.. masa itu

Dan di saat – saat ini aku seperti dipaksa melihat dan merasakan berbagai perasaan cinta, sedih, luka, dan amarah. Namun kita tidak pernah kemana – mana.
Kita tetap sama seperti saat itu.
Pernah beberapa kali ada jeda menghampiri, seperti saat ini, kamu menghabiskan waktumu di ruang tamu. Dan aku di kamarku. Dan waktu seperti menjadi begitu lentur, cepat sekali berdetak. Dan kita lupa untuk saling berpelukan untuk melepas beban. Ritual kecupan ringan di kening sebelum tidur atau saling menyimpan pesan sayang setelahnya pun hanya jejak waktu dan langkah yang terhenti di jeda kita masing – masing. Tapi tidak masalah, karena terkadang jeda memang sangat dibutuhkan.

Kita sering lupa bahwa cinta itu energi. Karena laki laki dan perempuan itu tentunya juga tahu hukum kekekalan energi. Tidak bisa diciptakan dan tidak bisa dimusnahkan. Ia akan terus mendesis di setiap musim tanpa kenal kutukan waktu. Maka biarkan cinta itu membuat bentuknya sendiri. Kemudian, lihat! Betapa tipis garis antara kita dan usia, dan aku Cuma ingin meluapkan apa yang aku rasa selama aku bisa.
Bicara tentang kamu, tentang kita memang tidak pernah alpa dari mimpi. Dan aku akan terus bicara tentang itu sampai bosan. Seperti sebuah sekuel yang berformula basi.
Sementara aku? Ah sudahlah kita bahas nanti jika kita sudah siap menguapkan jeda hingga lenyap. Mendobrak sunyi.

Baiklah ini tulisanku yang paling klimaks.
Aku lelah mengeluh. Lelah sekali. Namun aku seringkali merindukan cerita mimpi dan tertawa terbahak hingga kelelahan kemudian tertidur. Karena tetap manusia yang sama, memiliki kebebasan untuk melakukan hal yang kita mau, berimajinasi, dan menentukan hidup.
Kali ini aku tulis kembali pesan yang tersembunyi dalam isyarat untukmu.
Karena kadang kadang setiap kita punya labirin yang berbeda.
Dan aku akan terus meningatkanmu untuk beristirahat ketika kamu lelah berjalan.
Kemudian mengingatkanmu untuk mengikatkan diri kita masing masing.
 Membagi jejak pada langkah dalam sekelumit misteri.

Membuat cerita baru.


Dan akan kuberikan kamu kunci kotak kenangan tentang kita.
Supaya kita bisa membukanya,
Bersama melompati waktu,
Kembali ke masa itu
Hanya jika bersama.


***
Tentang malam
Terinspirasi dari lagu Banda Neira : Sampai Jadi Debu





Lembayung Laut Biru

                                                          Ada nama yang tidak sekadar dipanggil -- ia diseru. Dipanggil bukan hanya oleh sua...