Hi Sekar.
Apa kabar?
Sudah lama sekali sejak terakhir kita bertemu. Kamu bercerita kepadaku mengenai pengalamanmu menjadi ibu. Aku tahu persis bagaimana rasanya. Bahkan tanpa bertanya kabarmu aku sudah tahu bagaimana persisnya keadaanmu saat ini. Dan disaat-saat kamu tidak bisa bicara pada satu orang pun. Aku tahu tepatnya apa yang ada dipikiranmu. Ketika akhirnya aku harus melihatmu di kejauhan, terluka sendirian, aku lah yang lebih terluka saat itu.
Aku tahu kamu tidak baik-baik saja. Ada luka yang belum mengering, padahal aku tahu betul bagaimana usahamu memulihkannya. Maafkan, aku sudah berhati-hati menjagamu namun siapa yang tahu ada hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan dan akhirnya terjatuh juga. Aku sudah coba menjagamu supaya tidak terjatuh terlalu keras namun benturannya tetap menyakitkan ya? Sudahlah jangan menyesal seperti itu, yang perlu kita lakukan adalah menyembuhkannya. 'Waktu akan menyembuhkanmu" itu yang kita percaya kan? Tapi sebetulnya menurutku waktu tidak benar-benar menyembuhkan, hanya saja padanganmu tentang luka akan berubah seiring jalannya waktu. Aku tahu kamu adalah hati yang terkuat, aku tahu kamu akan tahan seberapa seringnya pun kamu terjatuh namun kamu tidak akan retak.
Memang rasanya melelahkan melakukan hal-hal yang tidak mungkin kita lakukan. Namun pada akhirnya kamu akan tahu batas-batas kemampuanmu sendiri ketika sudah berkali-kali melakukan hal yang kamu pikir tidak mungkin. Kamu berharap menghentikan waktu, itu adalah salah satu yang tidak mungkin bisa kamu lakukan. Waktu akan terus berjalan. Kadang lambat, kadang cepat. Tergantung frekuensi.Semua mengenai jam,menit dan detik semua relatif. Yang jelas kamu tidak mungkin bisa menghentikan waktu, kan?
Begitu pun aku.
Mungkin memang tidak semua hal perlu kita mengerti. Karena pada akhirnya seringkali membuat kita frustasi. Bukankah kamu akan merasa lebih nyaman jika menikmati waktu, berjalan beriringan bersamanya tanpa terburu-buru. Menikmatinya pelan-pelan seperti kamu menyesap kopimu perlahan sambil sesekali menghirup uapnya.
Bukankah kamu pernah bahagia ketika malam-malam hujan datang, kamu lompat kegirangan. Menari bersama hujan.Mungkin harimu melelahkan namun setidaknya ditutup oleh bingkisan yang membuatmu bernafas lega. Tersenyum. Terlelap dan tetap berharap tetap menemukan pagi dan kemudian menjalaninya, lalu menutupnya lagi dengan tersenyum kembali. Karena kamu punya banyak alasan untuk tersenyum. Alasanku adalah kamu, semoga alasanmu adalah aku. Bagaimana jika kamu luangkan waktumu untuk sering bercermin dan menertawakan diri sendiri. Banyak hal absurd yang ada pada dirimu ketika kamu lebih sering tertawa, dan ketika menertawakan ke-absurd-an itu akan aku pastikan kamu baik-baik saja. Bukankah hidup ini memang absurd? Tidak apa-apa jika kamu mengakui kamu tidak baik-baik saja, bahkan mengakui kamu kecewa lebih sulit lagi dari pada berpura-pura baik-baik saja. Sebaiknya lepaskan saja rasa kecewamu dan tersenyum. Tetap tersenyum. Semudah itu.
Mari kita mulai lagi dari awal. Menyerahkan segalanya kepada semesta, dan biarkan waktu berjalan sesuai yang ia mau. Dan kamu akan tetap berjalan tanpa takut ketinggalan di belakang.
Lihat kan,
Kamu diam lagi.
Kamu memerhatikan langit sore itu terus menerus-menerus, tanpa banyak usaha memori yang sudah kamu simpan dan aku lipat lebih dalam lagi muncul kembali. Langit merefleksikan segalanya yang ada di ruang hatimu. Biarkan saja begitu. Aku sengaja menghadirkan momen-momen itu. Suatu saat kamu tak perlu semenggigil itu dan sudah siap jatuh lagi ketika kamu harus jatuh. Karena kali ini jatuhmu tidak akan begitu menyakitkan. Karena kali ini akan ada yang segera menangkapmu. Seakan-akan takut kamu runtuh. Mungkin aku, mungkin dia. Kita tunggu saja
Suatu saat itu akan segera menujumu.
Oh ya, tidakkah mereka memberitahumu.
Bahwa kamu dan aku satu jiwa.
Sampai jumpa lagi Sekar.
Jangan khawatir aku ada di dalammu.
Salam sayang
Hatimu.
No comments:
Post a Comment