Ditengah deru ombak di keheningan pantai Nakos, airnya berkilau-kilau terkena pantulan matahari yang jingga.Ada senyum sembunyi-sembunyi di semburat senja ini. Kesibukanku memperindah laut Posaidon untuk istrinya Amfitrite pun ku hentikan sejenak. Ada seseorang di pantai sana memperhatikan. Seorang pemuda, dengan lengan kekarnya memikul tali-tali kapal. Ia berdiri di ujung pinggiran kapal sambil sesekali melempar pandangan kearah laut seolah-olah matanya bisa menembus kedalamannya.
Ke arahku.
Aku terdiam. Dan sejenak aku ingin mengatakan kepadanya, dan jika benar jodoh itu ada. Bukankah itu berarti dia tercipta untukku?
Namun aku diam saja, membiarkannya mengalir begitu saja tanpa pretensi, tanpa ekpektasi, tanpa apapun. Apa yang bisa aku harapkan? Bahwa kenyataannya
Aku
Adalah
Nereida
Aku berenang sejauh yang ku bisa. Melesat ke arah ombak yang bergulung-gulung. Berharap kelelahan akan menghentikan pikiran gilaku. Seketika hatiku bergemuruh. Berpikir ingin menjadi manusia.Ku hentikan kepakkan ekorku dan berhenti di sebuah karang penuh koral dan ikan-ikan kecil berenang-renang riang. Ku tengadahkan kepalaku, menghirup udara yang bukan milikku. Deru angin pantai menghembuskan ingatanku kesatu senja lainnya disaat untuk pertama kalinya aku melihat pemuda itu. Bahunya tersandar diketeduhan pohon kelapa, matanya memandang dikejauhan laut. Entah apa yang ia pikirkan. Yang aku tahu, ia begitu sangat menarik. Seketika hujan turun berjuntai-juntai. Pemuda itu tetap diam di tempatnya. Meski air menghujami tubuhnya pelan-pelan, ia tidak bergeming. tetap disana sambil menikmati tetesan air ke kelopak mata. Memandangi air laut yang membentuk bulatan-bulatan yang semakin membesar terhantam tetesan hujan. Aku tetap memandangi senyumannya yang teduh. Ia disana. Ia tahu aku juga disana, sembunyi-sembunyi memperhatikannya. Ia tahu aku ada. Hanya saja, kenyataan bahwa aku Nereida dan kemungkinan ia mengira hanya berkhayal saja.Melihat Nereida, seorang peri laut yang berada dibawah kerajaan Posaidon. Manusia mana yang berani melihat? tidak banyak.. mungkin hanya dia.
*************
Ini tahun keduaku mengenalnya. Setelah akhirnya aku memutuskan untuk berubah menjadi seorang manusia dan menyerahkan jiwaku kepada seorang penyihir nereida.Setelah meminum ramuan, ekorku berubah menjadi sepasang kaki. Terdampar telanjang, dan disitu pula lah pertama kalinya aku benar-benar bisa menyentuhnya diantara setengah kesadaranku. Dan aku pikir begitulah akhirnya, aku disini. Menjejakkan kaki di atas pasir hangat, menghirup udara yang tidak menyesakkan. Dan yang paling penting, aku disini bersamanya. Itu sudah cukup.
Namun ternyata itu saja tidak cukup. Sepertinya ini memang kutukan, aku telah berubah dari seorang peri laut menjadi manusia. Takdir-takdir menyakitkan seolah-olah menghujatku dari segala arah, menunjukan kutukan itu untukku bahwa pilihanku salah. Ku pikir hanya dengan cinta saja itu cukup, namun para dewa menunjukan jarak-jarak yang sulit tertempuh. Inilah letak jarak terjauh kita. Bukan saat kita berjarak segenggaman tangan, bukan saat kita sendiri-sendiri. Namun kita ada, dan tidak ada kata. Tidakkah kamu tahu? ramuan itu menghancurkan suaraku. Hanya pekikan serak yang bisa kusuarakan. Ini adalah salah satu dari sekian jarak yang tercipta untuk kita. Jarak terjauh bukan soal jutaan kilometer dalam peta, jarak terjauh kita adalah ini. Kita tidak punya masa depan. Dan masa depanmu adalah dengan dia.
Seolah para dewa mempermainkan, takdir yang memang bukan untuk kita harus diperkuat dengan segala hal yang tidak bisa aku kendalikan. Seolah para dewa ingin aku menyerah. Dan aku memang ingin menyerah.Cinta yang terlalu besar ini harus ku hentikan sekarang juga, aku tidak ingin membayangkan berbagai sugesti dan kemungkinan yang sama sekali bukan milikku. Aku harus menghentikannya sekarang juga.Aku tidak ingin terus berputar hanya pada arah yang itu-itu saja. Seperti perputaran koin yang diputar sangat kencang sekali, bahkan sampai terlihat seakan-akan mengambang, tidak menjejak lantai. Perlahan putaran tadi melemah, tidak ada yang bisa menolong. Dengan meniupnya malah mempercepat jatuhnya. Koin itu berputar semakin lemah. Kemudian berhenti. Sampai mati. Aku bisa apa? aku pun harus berhenti berputar seolah hanya dia yang sanggup memutarnya. Pada akhirnya, baik dia ataupun aku akan kelelahan, dan salah satu dari kita harus menghentikannya. Dan aku mengambil keberanian itu untuk menghentikannya. Biarlah ia berhenti dan memang ini akhirnya.
**************
Kali ini langit sudah membiru, ditengah-tengah laut yang luas, dan sepasang kaki yang sudah ku pijakkan sebelumnya di atas kapal. Aku berdoa.
Dewa, Dewi.... sayangilah aku, ku mohon aku tidak bisa hidup seperti ini. Tolong hentikan kesakitan ini.. Aku mohon Dewa, Dewi.
Terdengar nyanyian Nereida di ujung laut sana. Tidak hanya satu, dua, atau tiga. Ada beberapa Nereida bernyanyi untukku. Mereka mendengar doaku. Mereka berdoa pula untukku. Saat itu pula dadaku sesak, seperti terkurung dalam kotak transparan yang hampa tanpa udara sedikit pun. Aku menangis sendu hinga terbatuk-batuk. Salah satu dari mereka memintaku terjun kelaut. Karena itu salah satu cara menghentikan sesakku. Ku anggukan kepalaku tanda mengerti. Tapi ada satu hal lagi yang harus aku lakukan sebelum terjun ke arah laut Nakos. Ku pandangi langkah kakiku. Ini akhir dari langkah kakiku. Sebagai manusia. Atau mungkin tidak ada aku lagi. Tidak ada siapa-siapa.
Aku masuk ke dalam kamar dimana dia dan istrinya tertidur lelap. Aku tahu ia hanya kasihan melihatku. Kehadiranku hanya sekedarnya bagi dia. Air mata semakin deras turun. Aku tidak bisa meredam tangisku. Dan sebelum aku beranjak, ku usap rambutnya yang lebat dan ku cium pelan-pelan keningnya. Ku letakkan secarik kertas di dadanya. Ini adalah suara terakhirku. Ini adalah sebuah akhir dari sesuatu yang bahkan belum kita mulai.
Perlahan aku beranjak, dan terus bergerak menuju nyanyian Nereida yang mendoakan keselamatanku. Di ujung kapal itu, aku siap terjun.Malam ini berbintang, seolah ikut berkompromi atas apa yang akan ku lakukan. Diam-diam aku mengucap doa, meski kecewa sepekat malam ini, dan aku sadar tidak ada jalan untuk melewati labirin luka. Semakin berjalan jauh, semakin dalam pula luka itu ada. Ini akhir dari harapanku.
Selamat Tinggal
****************
Pagi hari...
Kemana dia?
Kemana perginya dia? Bukankah wanita itu selalu ada disampingku, memperhatikanku tanpa suara. Seperti kekasih rahasia, wanita itu selalu ada. Menyeduhkanku kopi. Berjalan bersamaku meski tidak selalu berdampingan.Aku sudah terlalu terbiasa akan kehadirannya. Meski ia tidak pernah bicara denganku, namun ia selalu mengerti apa yang sedang aku pikirkan, bahkan ketika tak seorang pun tahu apa yang ku rasakan. Ia akan ada di sana, tersenyum. Meski wajahnya memang mengingatkanku pada sesuatu, namun aku tidak bisa mengingatnya sedikitpun. Dan kini ia menghilang...
Kemana dia?
Hanya secarik kertas ini saja yang tersisa darinya. Banyak pekerjaku yang bilang ia pergi malam tadi. Terjun kelaut. Mengapa ia terjun?
Saat ini, aku kembali duduk di tempat pertama kalinya aku dan wanita itu pertama kali bertemu. Ketika ku temukan ia terdampar disana. Kedatangannya mengejutkan. Kepergiannya pun lebih mengejutkan lagi.
Ku buka secarik kertas itu perlahan. Tulisan dan totol-totol air di atasnya. Aku perkirakan ia menangis sambil menulis surat ini. Ku baca perlahan tulisannya....
Selamat pagi kamu..
Mungkin ketika kamu membaca surat ini, aku sudah tidak ada lagi di sekitarmu. Tidak perlu mencariku, karena aku mungkin sudah menjadi buih. Itu takdirku. Karena aku Nereida.
Ya.. Nereida. Peri Laut yang hanya bisa kamu temukan di dongeng-dongeng sebelum tidur. Aku berubah menjadi seorang manusia dengan harapan bertemu denganmu. Namun kamu tahu, harapan hanya akan tumbuh menjadi sebuah harapan jika ada hari esok dan dua orang yang memiliki harapan yang sama. Karena segala pengharapan dimulai dari ketiadaan dilanjutkan dengan doa-doa kecil, usaha, dan terjadilah jika memang diizinkan. Dan karena kamu tidak tahu apa tepatnya harapanku, maka harapan itu hanya akan berhenti diharapanku saja. Sedangkan mungkin harapanmu dan usahamu adalah untuk hanya harapan lainnya. Dan aku tahu kamu sudah mendapatkan harapanmu. Aku bahagia.. karenanya aku belajar, setelah beberapa saat menjadi seorang manusia.. aku belajar bahwa manusia selalu penuh dengan harapan dan doa-doa dan perlu sebuah harapan untuk tetap hidup. Harapan-harapan yang seperti cahaya terang di dalam jelaga. Namun kamu tahu, harapan itu memudar untukku. Mungkin mati. karena cahayanya kian meredup dan hilang. Karena itu pula aku berhenti berharap. Dan dengan terhentinya harapanku, aku tidak memiliki alasan lainnya untuk tetap disana. Bersamamu.
Hei...!!! jangan merasa bersalah seperti itu, toh memang akan selalu ada hal-hal seperti ini di duniamu kan?
Dan sebelum pikiranku melompat kemana-kemana, maka akan aku hentikan sekarang. Karena perlu titik baru untuk membuat garis panjang. Dan titik baru itu bukan aku. Karenanya, ini yang terbaik untukmu. Karena aku ingin kamu bahagia. Dan jika kebahagiaanmu dengan dia, aku akan terus berdoa dan berharap untukmu. Kali ini mungkin Dewa-Dewi akan mengamini, karena ini bukan cuma tentang aku. Aku telah mengganti formula harapanku, sehingga kali ini pasti akan berhasil dan ku harap itu berhasil untukmu. Dan jika harapanku berhasil, itu akan sedikit melegakan untukku.
Maafkan aku karena telah merahasiakan wujudku sekian lama. Aku bukan wanita yang ingin kamu temui, dan bahkan aku bukan Nereida yang baik pula. Aku tidak ada diantara keduanya. Karena itu aku telah menetapkan jalanku. Menjadi buih. Dengan awan dan dorongan angin, aku akan datang kepadamu sebagai hujan yang menyejukkanmu. Semoga istrimu tidak cemburu padaku kali ini.
Saat ini kita hanya bisa menerima kemungkinan-kemungkinan, namun tidak ada kemungkinan lainnya yang bisa menjadikannya menjadi satu yang pasti. Namun satu hal yang pasti, aku mencintaimu dengan penerimaan utuh. Kamu tidak perlu lagi menerka-nerka apa tepatnya perasaanku. Karena ini akan berhenti sekarang, dan akan ada hari dimana Dewa memberitahu rahasianya yang tersembunyi.
Kamu perlu tahu, aku tidak kecewa. Kecewa itu sudah menguap di hari pertama kamu ada. Berharap akhirnya cinta menyapa di titik embun pertama esok hari. Ah.. Tapi ini bukan hanya tentang cinta kan? Karena kita bukan sepasang kekasih yang saling melempar kekonyolan setiap harinya. Kita hanya kita. Dan aku terlalu banyak meluangkan waktu yang diisi hanya kamu. Akhirnya semua waktu habis tanpa apa-apa. Dan dalam waktu-waktuku yang sempit, aku telah menyelipkan namamu dalam berbagai doa yang sanggup aku doakan.
Ini adalah akhir kata-kataku. Semoga kamu baik-baik saja dan tetap bahagia. Berbahagialah, dan tetap berharaplah.. kemudian lepaskan. Maka kamu akan mendapatkannya.
Terima kasih.
Selamat Tinggal
Peri Biru.. Ya itu namaku
**************
Setelah kehilangan Peri biruku, seolah alam ikut berkonspirasi menyatakan kekalahanku, bahwa segala hal tentang dia adalah takdirku. Aku mulai menyadari bahwa dia adalah satu-satunya yang paling mengerti diriku. Sungguh, Aku sangat membutuhkannya.............
***************
No comments:
Post a Comment