Apa kamu pernah dengar tentang fusion di Dragon Ball?
Fusion pernah dilakukan oleh Goku dan Vegeta saat mereka hampir kalah melawan Majin Buu.
Di saat semuanya terasa tidak cukup, mereka memilih untuk menggabungkan kekuatan. Dengan anting di telinga, dalam satu hentakan dan teriakan :
FUSION!!
Lalu,
BLAR!!
mereka menyatu --- dan dari situ, lahirlah sesuatu yang lebih kuat dari sebelumnya.
Long story short --- Aku membayangkan, mungkin begitulah kira-kira kita akhirnya bertemu.
Dua orang yang berdiri di titik hidup masing-masing, membawa versi diri yang belum tentu utuh, belum tentu siap. Lalu tanpa banyak perhitungan yang sempurna, kita melangkah lebih jauh ---- Dan tabrakan fusion versi kita dimulai empat belas tahun lalu.
Empat belas tahun!
Angka yang anehnya tidak terasa seperti angka.
Lebih seperti proses panjang --- seperti molekul yang terus berubah bentuk, beradaptasi, mencari konfigurasi paling stabil.
Pernah nggak sih, ada satu keputusan yang rasanya seperti berdiri di tepi jurang?
Nggak ada tangga. Nggak ada jembatan.
Hanya dua pilihan: melompat, atau tetap di tempat --- dan kehilangan sesuatu yang mungkin tidak akan datang dua kali.
Menurut Soren Kierkegaard, hidup itu memang bukan soal kepastian, tapi keberanian untuk “melompat” meski tidak tahu apa yang menunggu di bawah.
Dan sepertinya, waktu itu… kita memilih lompat.
Mungkin hanya karena ada sesuatu yang diam-diam bilang, “kita pasti bisa!”
Dan disela-sela itu semua kita juga tidak selalu kuat. Tidak selalu benar. Bahkan seringkali, kita sama-sama keras kepala. Tapi justru di situlah kita terbentuk.
Disaat-saat kita pernah hampir “kalah” dalam cara kita masing-masing. Dalam lelah, dalam diam, dalam hal-hal yang tidak sempat diucapkan. Seperti fusion yang diteriakkan Goku dan Bezita, kita tidak benar-benar berhenti. Kita hanya mengubah cara bertahan. Kadang aku yang mengalah. Kadang kamu. Karena pada akhirnya, yang kita jaga bukan ego, tapi kita.
Empat belas tahun…
dan sekarang aku mengerti, ternyata keputusan itu bukan tentang benar atau salah.
Kita pernah hampir jatuh.
Pernah ragu, bahkan pada pilihan yang kita buat sendiri.
Kadang kita terlalu banyak berpikir, kadang justru terlalu keras mempertahankan.
Seperti dua energi dalam satu sistem, kita tidak selalu stabil. Seperti kata Heraclitus tidak ada yang benar-benar tetap selain perubahan itu sendiri.
Dan mungkin itu juga yang terjadi pada kita ---- kita tidak tetap, tapi kita terus memilih untuk menetap. Karena kita telah menciptakan satu rumah milik kita sendiri.
Tentu tidak
Tidak juga
iya.
Dan kalau aku harus jujur,
empat belas tahun ini bukan tentang kita yang selalu terlihat kuat,
tapi tentang kita yang tidak pergi, bahkan saat kita punya alasan untuk beranjak.
Mungkin begitulah cara kita “menyatu”. Sampai - sampai tanpa sadar, aku tidak lagi tahu mana aku, mana kamu,
karena yang tersisa… adalah

No comments:
Post a Comment