Tuesday, October 2, 2012

Destiny! Here we are! (Part 2)







Kembali, pada sebuah waktu dimana kita belum saling mengenal. Mungkin kita sudah kenalan sejak dulu, namun tidak benar-benar kenal seperti sekarang. Kamu yang terkenal flamboyan, penyuka alam, lagu hardcore dan pop indie, si friendly yang tidak jarang jadi flirty (hihi. Peace!), si penulis, si heart breaker dan apapun yang jadi titlemu ketika itu. Sedangkan aku! Hmmmm…. Tunggu,tunggu. Aku memang kebalikan dari itu semua namun sepertinya kamu tidak begitu mengenalku seperti aku yang sudah kenal kamu duluan bahkan sebelum kamu benar-benar mau kenal aku. Aku ingat dulu waktu pertama kali kita ketemu diselasar kampus dan kamu masih dengan mantan pacarmu yang cantik itu, kita berjalan berlawanan arah. Kamu bergandengan dengan mantanmu itu, dan aku berjalan dibelakang kawan-kawanku. Kita berpas-pasan. Menyapa sekedarnya. Dan sudah.
Kita tidak benar-benar tahu apapun tentang masa depan yang mendekatkan. Kita sibuk dengan pikiran dan perasaan kita masing-masing waktu itu. Tidak terpikir bahwa suatu hari kita akan diberi kesempatan untuk menjadi teman seumur hidup sampai kita mati. Aku kenal kamu waktu itu sekedar hanya keharusan dan aku tidak begitu suka kamu yang terlihat selalu berantakan dengan segala title yang sudah terlekat erat di keningmu itu.
Hari ini adalah kesekian kalinya aku membuka kembali potongan-potongan memori dan mencari satu penghubung diantara itu semua kemudian menceritakannya disini agar tanpa banyak usaha, kamu bisa langsung menghadirkan semua potongan-potongan kenangan itu tanpa ter-interupsi oleh pikiran-pikiran lain seperti hutang atau bunyi sms tagihan hutang lain misalnya. Cerita ini adalah sesuatu, dan sebutlah sesuatu itu adalah mimpi. Aku ingat mimpiku dulu. Aku pernah bertemu denganmu di mimpi. Namun entah dimana aku lupa. Aku bermimpi kita bertemu di rumah, kemudian di kampus dan terakhir disebuah taman bermain. Memang tidak jelas baik penggambarannya bahkan dari wajahmu saja sengaja Tuhan buramkan untuk menghadirkan kemisteriusan destini. Aku ingat tiga kali berturut-turut bermimpi yang sama. Meski sampai sekarang tidak pernah ingat detailnya, namun ada satu hal yang paling aku ingat yaitu perasaan yang nyaman dan aku merasakannya sampai tiga kali ketika mimpi itu hadir. Bahkan perasaan nyaman itu ikut hadir waktu kita akhirnya bertemu lagi. Karena itulah aku selalu suka angka- 3. Aku anggap angka ini sempurna. Selalu membawa kepada sesuatu yang baik. Meski tidak men-dewa-kan angka atau nomor, namun aku percaya setelah tiga kali bermimpi yang sama bahwa ada ‘Sesuatu’ yang sengaja dihadirkan Tuhan sebagai clue. Disini aku membawamu kepada teka-teki kehidupan. Membawamu kepada kemisteriusan destini. Menghantarkanmu kepada petunjuk-petunjuk yang saling berkorelasi dengan segala hal yang terjadi di hidup kita bahkan sebelum kita tahu. Tak ada yang bisa memecahkan misteri tersebut selain diri kita sendiri. Dan aku bercerita untuk membuktikannya. Boleh percaya, boleh juga tidak.
Kamu percaya ada banyak ruang di hati yang sengaja diciptakan?  Fungsinya adalah ketika satu ruang hati berantakan, akan ada ruangan lainnya yang menunggu diisi. Boleh jadi sejak ketiga kalinya aku bermimpi, aku sudah siap-siap membuat ruang terbesar dan berkapling terluas di hati. Siapa sangka, kalau ruangan itu akhirnya terisi oleh kamu. Entah apa hatimu juga begitu. Cuma kamu yang tahu.
Kembali lagi ke waktu akhirnya kita selangkah lebih dekat dengan destini. Siapa yang bisa membayangkan bahwa perlu bertahun-tahun dan banyak terluka untuk mencapai satu langkah destini. Setelah akhirnya benar-benar dekat, ada fase dimana kita bukan sekedar mengenal. Kita berusaha melebur semua jadi satu dimana setiap sensori yang ada didalam diri kita ikut bekerja untuk menciptakan sebuah destinasi. Ada satu masa dimana kita melompati waktu. Merancang masa depan dan menerobos garis-garis tipis dari destini. Bukan sekedar membayangkan saja, namun berusaha untuk mewujudkannya. Namun ditengah-tengah perjuangan mencapainya, tidak jarang aku pernah hampir menyerah.
Kamu ingat berapa kali dari satu minggu kita bertengkar tentang banyak hal?
Kamu ingat berapa banyak pelarian-pelarian yang pernah kamu buat sekedar untuk memberi kenyamanan buat kamu dan aku?
Kamu ingat berapa seringnya masuk lalu-lalang orang banyak baik pria dan wanita yang sengaja kamu hadirkan untuk masuk lebih jauh kedalam hatimu bahkan ke kehidupanmu?
Disitulah letak misteriusnya. Destini adalah misterius. Ketika aku yang hampir menyerah, destini malah menjadi semakin kuat mendekat. Ia bukan sekedar berjalan namun berlari kencang kearah kita. Seperti ingin berkata “ Hati ini terlalu luas untuk kamu tinggali sendiri. Maka aku ciptakan ruang terbesar dan kesabaran yang meninggi untukmu untuk bisa berjalan sejajar kearahku”. Destini bicara kepada kita selayaknya inspirasi ketika hujan, ia bicara kepada kamu yang berputar-putar mengejar destinasi dan bicara yang serupa kepadaku yang hampir mau menyerah berbalik arah dari destinasi. Aku tidak tahu apa nama keren untuk fenomena ini, namun yang aku tahu adalah aku tidak pernah seloyal ini dalam menjaga urusan hati. Sampai aku bertanya pada diri semdiri kamu punya mantra apa sehingga aku mau bertoleransi pada segala tingkah yang semaumu itu? Dan kamu pun balik bertanya aku pakai mantra apa untuk membuatmu tetap yakin pada langkahmu denganku meski pernah beberapa kali tersandung urusan hati yang lain. Destini telah menciptakan substansi waktu dimana setiap jam, detik, menit, hari, bulan, juga tahun ikut berpartisipasi untuk mempertemukan waktumu dan waktuku sehingga tetap berjalan searah dan tidak pincang. Tanpa sepengetahuan kita destini selalu punya rencana back-up untuk menjadikan kita bukan Cuma cerita, namun hal yang nyata.
Masih ingat waktu kita sedang memberi ruang sendiri-sendiri karena satu hal dan aku yang mencoba keras untuk mengembalikan kepercayaan terhadapmu juga terhadapku. Bukannya dijauhkan, namun kita malah dipertemukan. Disatu sore itu, dikerumunan orang itu kita malah didekatkan. Dari situlah aku yakin bahwa destini bekerja keras menciptakan kamu, aku, jadi satu kesatuan yang utuh tanpa cela.
Kembali ke masa itu kemudian berganti kemasa sekarang. Apa menurutmu ada yang beda?
Kita sudah jauh lebih dekat dari kita yang dulu. Kita bahkan seolah berbagi helaan nafas. Aku ingat kamu berkata begini, “aku bahagia sekarang. Namun bukan bahagia yang terlalu. Semua terasa cukup karena sesuatu yang terlalu bisa jadi salah nantinya. Dan orang ngga ada yang akan ngerti dengan penjelasan yang kayak gini. Tapi aku harap kamu lebih ngerti dari oranglain itu”
Aku membatin, mungkin kamu juga cukup cinta aku karena tidak mau terlalu mencintai karena cinta yang terlalu bisa menjerumuskan. Mungkin juga kamu cukup banyak waktu untuk menunggu aku yang berjalan sangat pelan menuju destini, karena jika terlalu kebanyakan waktu semua malah jadi sia-sia.
Semua hal yang terlalu itu, selalu membuat kita melihat terlalu terburu-buru. Berspekulasi bahwa apapun yang kita lakukan akan selalu menjadi terlalu yang akhirnya nanti malah jadi keterlaluan. Aku pikir memang setiap orang punya ekpektasi dan imajinasi juga persepsi sendiri-sendiri dan ketika mereka bertanya serupa apa kebahagiaan yang ada kepada kita, mereka malah tercengang karena standarisasi kebahagiaan orang tidak pernah cukup bisa diuraikan satu-satu meski akhirnya kita saling menggenapkan. Aku kira oranglain tidak perlu mengerti, Cuma kita saja yang mengerti dan destini memang mengarahkan kita berada di alur tersebut.  Aku pun tidak kecewa karena aku tahu sejak awal putaran-putaran destini yang bergerak selalu akhirnya kembali lagi kepada kita. Karena sebesar apapun yang kita buktikan, sebaiknya kita tidak terjebak di dalam sesuatu yang terlalu. Sehingga kita tidak perlu menghapus salah satu memori yang sudah terjejak sebelumnya dan kita malah bisa tetap membicarakannya dengan santai sambil minum kopi sampai dini hari.
Bukan berarti segala yang sederhana bisa terjadi dengan sangat mudah dan cepat. Karena terkadang aku kesusahan menjangkaumu yang kelewatan cepat berlalu. Jarak waktu yang aku sebut cepat dan kamu sebut lambat itu menjadi sangat relatif. Sehingga semua menjadi begitu lentur dan terbentuk dengan baik pada akhirnya. Dalam perjalanan yang kita pilih untuk satu pencapaian bukan Cuma sekedar menyapa untuk kemudian pergi lagi. Kita sudah satu langkah kearah pencapaian destini, dan aku yakin destini punya rencana-rencana mengaggumkan yang tidak terbayangkan dan semua itu ada di tangan Tuhan yang memang sudah menciptakan jutaan kesempatan. Kita tinggal melihatnya dengan cermat. Tuhan yang sudah merancang destini menunggu kita berusaha agar kita peka terhadap jawaban masa depan yang sebetulnya sudah diciptakan, hanya terangkum dalam banyak kata untuk kita terjemahkan yang tersamar menjadi kata ‘Ya’ , ‘Tidak’, ‘Mungkin’ , ‘Bukan waktunya’ dan ‘Akhirnya…’ Sehingga rasa bahagia yang kita berdua rasakan bukan Cuma kupu-kupu palsu.
Untuk destini aku tarik satu kesimpulan. Bahwa kita hadir di dunia adalah untuk menghadapi satu keutuhan destinasi yang tidak hanya bermanfaat untuk kita, namun jika kita sedikit melenceng dari jalan yang sudah ditetapkan. Tuhan akan menciptakan destini yang sudah dimodifikasi dan sudah ter-intermediasi secara masal. Sehingga kita benar-benar sadar dan jarak untuk mencapai masa depan menjadi terlihat lebih dekat, bukan cuma jarak fatamorgana saja. Seperti menjemput kita dengan cepat namun tetap berkata dengan ramah ‘Hati-hati dijalan. Jangan sampai tersandung dan jatuh ya!”
Hari ini, aku bangga mengingatmu ketika dulu. Bahagia untukmu sekarang karena destini telah tercipta untuk kita menjadi satu frame di satu dunia yang sama. Dan secara umum bisa kita perlihatkan kepada semua orang bukan Cuma peralihan peran saja, namun benar-benar disikapi karena kesadaran dan kepercayaan terhadap destini dan destinasi yang mengalahkan gravitasi supaya kita tidak terjatuh atau melayang tanpa arah.Dan akan ada waktu seumur hidup untuk pencapaian destini dan berharap kita tidak kelelahan sampai ke destinasi.
Kini..
Ada aku dan kamu disebelah kiri. Bersisian dalam satu frame hidup. Satu kesatuan sambil berkata bersamaan “Destiny! Here We Are!”


Ilustration song and Inspiration song came from Katjie and Piering - Destiny (Homogenic Cover)

No comments:

Post a Comment

Lembayung Laut Biru

                                                          Ada nama yang tidak sekadar dipanggil -- ia diseru. Dipanggil bukan hanya oleh sua...