Friday, July 31, 2015

Tentangmu, Tentang senja

Kita menantikan senja.
Duduk beratapkan langit yang sama.
Hanya sejengkal pada peta, namun ratusan jejak pada nyata.
Tak perlu alunan dawai biola sebagai latar. Kita nikmati sunyi.
Karena degup kita mencipta nada.

Usah khawatirkan waktu.
Hari ini senja akan lama,
Baru saja ku bunuh detik. Menit tertinggal diatas kelabu, jadi biarkan saja begitu. Katamu

Aku menunggumu sampai langit tenggelam tanpa ikatan warna, dan lampu malam memaksamu membuka sebentuk ikatan dalam ingatan, memutar segala adegan menyesakkan

Langit terlihat lebih genit dari biasanya.
Lalu kau titipkan rindu pada senja. Dan aku titipkan rindu yang lain pada hujan di bawah senja berikutnya.  Langit memerah, pipinya merona jingga.
Angin membisik pesanmu dihilir warna senja,
Mungkin ini sajak kecilku untukmu. Supaya setiap rima dan kata meneteskan harapan di pagi.
Oh, aku mau kamu bukan dibatas kata.
Namun ada sejarak genggaman kita,
Sedekat nafas terhembus ke udara. 





No comments:

Post a Comment

Lembayung Laut Biru

                                                          Ada nama yang tidak sekadar dipanggil -- ia diseru. Dipanggil bukan hanya oleh sua...