Monday, October 21, 2019

Heman


Tidak ada kisah yang tidak dapat kita ceritakan...
Setiap kata adalah embrio dari sebuah makna rasa yang bertumbuh begitu kuat dan mengikat dan menjadi satu paket sempurna yang harus dibagi.
Lalu kata akan membelah dirinya menjadi alur integral, kemudian mencipta interaksi dalam relevansi cerita menjadi sebuah rangkuman perjalanan rasa. 
Hingga setiap rasa tidak hanya akan menjadi tamu yang mengetuk pintu, namun bersarang menjadi sepasukan kupu-kupu yang siap mengepakkan sayap untuk mengurai rasa menjadi rindu.
Sekali-kali, cerita – cerita itu selalu hadir bersama potongan emosi. 
Seperti sebuah pengalaman yang membawamu membumbung tinggi di awan, dan terkadang menghempaskanmu ke bawah dengan cepat. 
Memaksamu melepaskan genggaman tangan dan ikut menghilang sejenak untuk mempersiapkan hati yang akan membawamu ke perjalanan berikutnya. 
Sebuah perjalanan yang bergerak perlahan untuk merasakan energi dan adrenalin terstimulasi, terpompa dan termanifestasi dalam berbagai wujud.  
Makna akan rupa – rupa rasa yang membuat hati terus menagih untuk menikmatinya lagi dan lagi. 
Sebuah rasa yang menjadi candu bagi jiwa. Racun yang tak butuh penawar. 
Suplemen hati yang bebas dikonsumi tanpa khawatir overdosis.  Rasa itu tak hanya melulu mengenai cinta yang bahagia, karena kebahagiaan dan ketidakbahagiaan adalah sebuah integrasi interval yang semuanya bercampur aduk di kotak – kotak hati. 
Bahwa cinta adalah bentukan dari keadaan yang rentan perubahan. Namun wujud berbeda – beda mengenai rasa akan menghubungkanmu dengan yang tak berwujud, yang kemudian mengizinkanmu mengikatnya semua menjadi sebuah lansekap terbesar di dinding atma dengan segala wajahnya.Seperti sebuah retorika panjang untuk menggenapi diri dalam menapaki waktu. 
Untuk kemudian belajar merubah gagu menjadi salinan rindu dalam sebuah adegan filantropi pribadi nan magis. Hingga rasa yang sempat mati, mampu meraba jalannya kembali. Dan memberi banyak kesempatan pada rintik - rintik gerimis untuk melenturkan hati dan menemukan autentisitas yang selama ini kau cari – cari.
Seperti di satu sore itu....
Di satu sore ketika wangi petrichor teradu bersama bebulir hujan yang jatuh perlahan untuk memeluk rindunya pada tanah dan rumput - rumput. 
di sore itu, ada seseorang yang menunggu untuk membagi gerimis menjadi sebuah puisi.
Seseorang yang akan memecah kasih dan menghantarkan belahan dirinya untuk kau nikmati keluarbiasaanya dalam hal – hal biasa.
Ada seseorang yang akan mengingatkanmu lagi tentang tutur kata sebuah kisah permainan panjang sang kama tanpa bisa kau bendung .
Di satu sore ketika hujan saat itu,
Ketika langit di atas kepala mendadak padat oleh titik – titik cahaya. Ketika  awan di langit berserak membentuk formasi yang indah dimata, ada seseorang yang merelakan nyawanya demi sebuah kebenaran akan keberadaanmu. Dalam setiap rupa, suara, dan jejak hidupnya, degup itu adalah salah satu alasan ia berjalan untuk terus menemukanmu.  Sebagaimana semua adalah bentuk hibridasi dari kata, rasa, dan cinta. Hingga saat penggenapan itu terlahir, di inti detik selanjutnya tercipta juga nada lagu dari kisah – kisah yang saling tercermin dengan kehidupan manusia sejak dahulu kala mengenai jiwa yang menemukan dirinya ada di dalam dirimu.  Sebuah kisah sederhana, namun lewat kesederhananya itu lah yang membuat dirinya tak berjarak.
Hingga benar – benar terasa.
Benar – benar dekat.

Seperti perasaan ibu yang memiliki cinta luar biasa terhadap anak – anaknya, kemudian berpindah menjadi seorang pecinta akut yang melipat rindunya dengan sempurna, kemudian kembali menghayati perasaan gadis biasa yang menjadi luar biasa ketika menemukan belahan dirinya di badan oranglain.
Sesaat kemudian, aku sadar..... 
bukankah itu semua cerita yang ada di sekitar kita? 
Bukankah itu kita?
Seperti sore itu, 
saat - saat dimana kau bersedia turun dari kapalmu untuk menjemputku untuk bersama menyusuri tempat – tempat baru dan seru. Lalu disaat – saat yang tepat, gelombang itu datang dan akan terasa seperti ombak yang memeluk erat kaki kita, mengajarkan kita berlepas dari gigir pantai menuju laut untuk menyelami keadalaman makna.
Dan akhirnya setelah sekian lama dua tubuh kita bernafas bersama, bergerak bersama, merasa bersama. Kau telah begitu dekat bahkan bersatu dengan tubuhku. Dan perjalananmu bukan hanya menuju dekapku saja, karena kita masih akan terus berpetualang  untuk menentukan arah yang akan mengubah kita di akhir cerita.  Mengubah semesta rasa. Karenanya ingin aku rangkul semua dengan hati.
Jadi..

Kemasi hatimu,

Lalu menetaplah disini.

No comments:

Post a Comment

Lembayung Laut Biru

                                                          Ada nama yang tidak sekadar dipanggil -- ia diseru. Dipanggil bukan hanya oleh sua...