Sunday, March 8, 2026

Jalan Pulang

Saya teringat satu kutipan puisi Rumi yang ingin saya bagikan hari ini. Saya merasa maknanya dalam sekali terutama ketika mengalami sakit belum lama ini.

Tulis Rumi, 

"Cinta datang dari langit, agar membakar dirimu secara tiba-tiba. Cinta adalah derita dengan tiba-tiba."

Mungkinkah sakit yang datang tiba-tiba ini sebenarnya cinta dari Tuhan?


Segalanya membuat saya menjadi sangat mellow, pun ketika mendengar berita kematian Vidi Aldiano.


Kenapa saya bisa sesedih ini waktu mendengar berita tentang Vidi Aldiano meninggal?

Padahal saya tidak benar-benar mengenalnya. Bahkan tidak bisa dibilang penggemar juga. Saya hanya tahu beberapa lagunya, sekilas saja, karena memang bukan genre yang biasa aku dengar.


Tapi entah kenapa, ada rasa kehilangan yang nyata.


Mungkin karena di antara dia dan saya, ada satu benang halus yang tak terlihat, sebuah pengalaman yang sama-sama pernah kami sentuh dari sisi yang berbeda.


Saya paham rasanya sakit keras. 

Saya paham bagaimana rasanya menggantungkan harapan setinggi langit untuk bisa kembali sehat. 


Saya paham bagaimana rasanya hidup dengan bayang-bayang pertanyaan yang tak pernah benar-benar bisa dijawab..


Ada ketakutan yang sunyi di sana.

Ketakutan meninggalkan orang-orang yang kita sayangi sebelum waktunya terasa cukup.


Dan di poin tersebut, saya memang selalu mudah luluh kalau mendengar cerita orang yang sakit keras karena tubuh saya sendiri pernah menyimpan memori tentang itu.


Tentang rasa sakit yang seperti ombak. datang lagi – datang lagi.

Tentang napas yang terasa sempit.

Tentang tubuh yang tiba-tiba terasa asing untuk ditinggali.


Saya pernah berada di antara dua dunia itu. Di antara bertahan dan menyerah.


Jadi mungkin kesedihan ini bukan semata tentang seorang penyanyi yang pergi.

Mungkin ini tentang ingatan.

Tentang empati yang lahir dari luka yang pernah singgah di tubuh sendiri.


Kematian memang selalu terasa jauh, sampai suatu hari ia lewat di dekat kita, membawa seseorang yang bahkan tidak kita pernah kita kenal. Tapi entah bagaimana, kepergiannya mengetuk ruang-ruang sunyi.


Banyak orang bercerita bahwa dalam sakit mereka jadi bisa melihat kasih sayang Tuhan. Doa-doa jadi terasa dekat dan syahdu. Air mata mengaliri tebing pipi dengan perasaan yang melegakan. Memang manusia membutuhkan penderitaan untuk menemukan wajah Tuhannya. 

Rumi bilang, "Kekasih adalah cermin saat jiwa dalam penderitaan.''

Kita sering mengira sakit adalah cobaan atau ujian, jarang sekali melihatnya sebagai cinta. Padahal sebenarnya bisa jadi sakit yang dikirim ini adalah rasa rindu Allah yang tiba-tiba, membakar kita yang selama ini berpaling dariNya. 

Allah ingin kita dekat, ingin kita mengingatNya, ingin mendekap kita dalam kasih sayang Nya yang lembut dan agung. Dalam pengertian ini, seperti kata Rumi, cinta adalah derita dengan tiba-tiba. 


Banyak orang menyangka kita hanya hidup sekali. Padahal sesungguhnya kita hidup setiap hari, setelah simulasi mati dalam tidur setiap malam. Mati yang betulannya nanti yang sekali, mudah-mudahan bisa kita siapkan diri sebaik mungkin untuk menghadapinya. Tapi sekarang kita hidup, semoga bisa kita jalani sebaik mungkin, menebar, menanam dan menyemai kebaikan sebanyak mungkin dan mensyukurı hal-hal kecil. Belajar mencintai lebih dalam. 

Belajar melihat segala sesuatu dari sudut pandang yang berbeda-beda. Dibanding penderitaan yang dialami, hikmah yang saya dapatkan dari sakit ini jauh lebih besar. Saya merasa terlahir kembali menjadi individu yang baru.


Dan untuk semua orang yang selalu ada di samping saya, yang dengan cara kalian masing-masing terus memberikan semangat.. 


Terima kasih.


You know who you are.


07032026


Ilustration song : Frigile - Sting




No comments:

Post a Comment

Lembayung Laut Biru

                                                          Ada nama yang tidak sekadar dipanggil -- ia diseru. Dipanggil bukan hanya oleh sua...