Wednesday, August 29, 2012

Frame Pagi


Ada pagi biru, bersatu dengan rona keemasan yang ikut direkahkan oleh matahari. Menghadirkan burung yang terbangun. Kemudian membangunkan juga seisi mahluk hidup yang kebetulan berada di kota dan dunia yang sama tanpa terkecuali. Ada embun pagi yang menetes diantara daun dan dahan pohon kemudian sedikit demi sedikit menghilang diantara panasnya suhu udara. Ada sepasang pria dan wanita yang tertidur berpelukan sepanjang malam seakan takut tertelan kesendirian. Ada perempuan yang sedang terduduk lesu menyadari bahwa bumi telah berganti hari. Ada pria yang menyerah kepada mimpi dengan tidak meninggalkan inci demi inci kubikel gedung dan mengabaikan pagi.

Pagi tumbuh menetaskan berbagai harapan yang mampu untuk setiap orang impikan. Kita semua sepakat bahwa untuk menjalankan hidup perlu mimpi dan pengharapan namun bukan Cuma untuk diharap-harapkan kemudian malah tersembunyi di sudut jalan. Selalu ada doa akrab dan sederhana ikut menemani pagi. Hanya dua menit bersemedi, kita ikut menjumlah hari  dan mengetuk pintu jiwa sekencang-kencangnya. Pagi hanya berjalan mengikuti alurnya saja, yang perlu kita lakukan adalah berjalan bersamanya. Bukan membelakangi juga tidak mendahului.

Aku adalah perempuan yang kadang menghiraukan pagi. Aku tahu ketika pagi datang tapi Cuma sekedar tahu tanpa benar-benar dihayati. Selalu ada fragmen melankolis nada minor di pagi hari. Setiap hari hanya itu-itu saja yang mampu terbeli.

Siapa sih gue?

Cuma sekedar bertanya pada pagi, seolah pagi punya banyak jawaban seperti sebuah jawaban lewat internet yang gampang dicari. Namun pagi pun tidak segera menjawab. Ia hanya diam dan bergerak bersama udara khas pagi. Ada banyak rasa yang Cuma bisa dinikmati sendiri dan membiarkannya tetap tumbuh sehat dalam diri.

Aku Cuma ingin pagi lebih bersahabat dengan mimpi yang sengaja aku siapkan di malam hari.
Aku ingin cerita di pagi hari yang lebih nyaman untuk aku ceritakan dikemudian hari. Ada banyak warna pagi yang tidak pernah tersembunyi. Tapi ada warna hati kita terrefleksi di  satu pagi yang mampu membuat terang siapa saja dan layak untuk dicemburui.

Aku jatuh cinta hari ini, dan pagi menceritakannya lewat angin yang berkamuflasi menjadi kembang api.
Aku jatuh cinta padamu yang terlihat di pagi hari, dan bisa aku temui kemudian pada malam hari.
Bukan Cuma jatuh cinta pada foto-fotomu yang bisa di rekayasa. Aku jatuh cinta di pagi hari yang mampu membuatku teriak kegirangan. Karena pagi ada untuk nafas kembali melega


No comments:

Post a Comment

Lembayung Laut Biru

                                                          Ada nama yang tidak sekadar dipanggil -- ia diseru. Dipanggil bukan hanya oleh sua...