Saturday, May 18, 2013

Dialog Malam



Selamat malam.

Kira-kira jam berapa sekarang di tempatmu?

Jam 1.00 dini hari di tempatku 

dan seperti malam-malam kemarin, aku belum terlelap sekejap pun meski ingin sekali. Meski ingin sekali sesekali bermimpi tentangmu, bermimpi saling bersentuhan. Mimpi kita berlari-lari ditaman seperti seorang pemain film india yang kita berdua suka. Mimpi bersama-sama menggandeng mimpi lain yang ingin sekali terwujudkan. Meski tidur adalah salah satu jalan untuk menyandarkan mimpi-mimpi itu tadi, aku urungkan niatku untuk terlelap malam ini.

Ada hal yang ingin aku lakukan bahkan sebelum malam kembali gelap menjadikan hari makin malam.
 
\Aku ingin sekali menyapamu lagi, seperti pagi tadi atau siang tadi.
Namun aku takut..
Aku takut untuk menyapamu duluan ketika malam. 
Mungkin karena aku malu-malu, dan takut kamu enggan menjawab sapaanku. 
Aku selalu mengurungkan niat untuk mengirimu pesan-pesan malam yang entah sampai kapan akan tersampaikan. Mungkin kamu sudah lebih dulu bermimpi tentang hal-hal yang ingin kamu impikan. 
Mungkin kamu sudah lebih dulu menemukan jiwamu yang sudah kamu bentuk sedemikian rupa dan tak malu-malu lagi untuk kamu siarkan bahwa kamu telah menelanjangi mimpimu itu tanpa ragu sedikit pun.

Aku di sini cuma duduk duduk saja. 
Mencoba bersahabat dengan kelam dan jangkrik malam. Sambil sesekali bersenda gurau dengan angan-angan yang Cuma angan-angan saja tanpa punya kemampuan untuk direalisasikan. 

Aku di sini mengingat lagi momen yang sebelumnya yang tidak pernah ku munculkan ke permukaan. Entah mengapa kali ini aku menyerah. Aku biarkan pikiran ini melayang-layang di udara. 

Mungkin akhirnya malah sampai ke-kamu juga. 

Aku ingat, kamu bukan orang biasa-biasa saja seperti orang lain mengenal kamu. 

Aku suka mengingatmu dalam hal-hal sederhana. Mengingatmu dengan cara sederhana. Seperti waktu kita jalan kaki berduaan malam-malam. Sedikit gerimis, ngobrol kesana-kemari. Membicarakan kebodohan masa lalu, mentertawakan semua kekonyolan yang begitu familiar. Minum kopi berduan dibalkon sambil membicarakan hujan. Membicarakan buku favorit kita dengan begitu seru. Membicarakan betapa aku ingin menjadi Hermione Granger dan kamu yang ingin menjadi Eragon. 

Sederhana bukan?  

 Sesuatu yang sederhana bisa jadi istimewa bergantung diri kita sendiri kan? Selain itu dari cara-cara sederhana bisa membagikan kebahagiaan tersendiri yang tidak instan, itu teoriku. Hihi.

Aku senyum-senyum sendiri sekarang.
Kalau kamu lihat, pasti aku lari-lari karena malu.

Aku suka malam-malam begini cuma dengan berkhayal sepuasnya tanpa terinterupsi oleh ketukan pintu. 

Seperti halnya kita yang tidak pernah lelah berbicara tentang mimpi. 

Malam ini aku sedikit melankolis, bisa jadi karena disetiap malam akan ada cerita yang selalu membumbung bersama perasaan. 
Di sadari ataupun tidak akan selalu ada perasaan ‘butterfly in your stomach’. 
Sebelum perasaan-perasaan itu jatuh, walau belum bisa juga aku bilang perasaan ini sudah kokoh setidaknya aku masih mampu untuk membuatnya berdiri setegak-tegaknya. 
Karena perasaan seperti ini sebaiknya tetap berdiri semampunya karena kita tidak pernah tahu kapan cinta itu akan jatuh. Sedangkan kupu-kupu yang aku biarkan bebas berkeliaran di dinding perutku hingga aku kegelian mulai ku nikmati pelan-pelan. 
Aku menikmati pemandangan kupu-kupu itu dikala waktu malam tidak juga membuat aku tertidur karena sayapnya mengepak terlalu kencang. Ada banyak rasa yang ditawarkan malam. Ada setangkup rindu yang bisa aku bagikan sebanyak-banyaknya.

Aku sudah bicara apa saja tadi? 

Sepertinya kamu sudah mulai terlelap. 

Akan aku simpan kataku yang lainnya di malam berikutnya. Aku tidak mau menghabiskan semua hanya dalam waktu semalam. 
Akan aku cicil sedikit demi sedikit agar tidak habis. 
Agar nanti tidak perlu lagi berkompromi dengan pagi karena kehabisan stok rasa di malam hari hingga kita bisa berharap menemukan cinta di titik embun pertama esok hari. 
Hingga kita bisa menemukan titik baru untuk membuat garis panjang supaya kita bersentuhan. Dan perasaan itu bisa menghangat dengan sendirinya. 

Bukan kah cinta datang karena terbiasa? Hehe.. 

tapi kali ini sepertinya perasaan ini menjadi lebih impulsif. Sesuatu yang spontan bisa sangat mengesankan. Jadi kita nikmati saja semuanya satu persatu. 

Jangan terburu-buru. 

Biarkan ia melaju pelan, namun pasti sampai ditujuan. 

Ditujuan kita pada akhirnya.

Selamat malam.

Selamat tidur.

Ini aku

Berkata Rindu kepadamu.





No comments:

Post a Comment

Lembayung Laut Biru

                                                          Ada nama yang tidak sekadar dipanggil -- ia diseru. Dipanggil bukan hanya oleh sua...