Saturday, May 18, 2013

Sebuah Cerita Untuk Anakku (Nanti)



Hari ini dimulai dengan wangi petrichor di udara bercampur uap kopi yang mengepul diantaranya membuat seolah-olah semua itu adalah kesatuan sempurna yang tidak dapat dipisahkan.  

Hari ini hujan.
.
.
.

Bahkan seperti hari kemarin dan hari sebelumnya lagi.
Kota ini memang tidak pernah kehabisan stok hujan, seolah-olah adalah pabriknya yang selalu jadi kambing hitam sebagai si pembuat masalah kebanjiran di kota lain. 

Dan aku tepat berada disana, menjadi salah satu bagian kecil manusia yang ikut berpartisipasi menghadirkan satu cerita dari milyaran cerita yang ada di bumi.

Ku rapikan pakaian, merapikan ikatan rambutku dan mulai menghirup dalam-dalam udara lembab nan khas. 
Orang hilir mudik berlari bergegas mengeluarkan payung atau penahan hujan lainnya seperti hujan adalah sesuatu yang mengerikan. 

Aku tidak! 

Aku menikmatinya. 

Aku membiarkan hujan ikut serta merayakan kehidupanku dengan melumat habis setiap inci tubuhku hingga kedinginan. 

Ada banyak cerita yang aku simpan yang tidak sabar ingin aku bagikan. Bahkan dititik terpahit dari sebuah cerita tetap layak untuk dibagikan. 

Aku tersenyum. 

Aku yang sedang duduk sendirian disatu kedai kopi sambil menyapu pandangan disudut jendela dimana orang-orang sibuk menghindari hujan. 

Ada secangkir chamomile tea di hadapan. Tidak biasa memang untuk aku si pecinta kopi yang tidak pernah absen minum kopi di setiap kesempatan. Namun seperti kataku, hari ini istimewa dan aku sedang merayakannya bersama hujan. Takut lama kelamaan wangi teh ku dicicipi udara lebih banyak, segera ku sesap untuk menghangatkan.

Duk!

Ada gerak halus di perut.
Bukan cacing-cacing yang minta makan. Bukan juga gejala maag yang biasanya sering aku derita.
Ini sesuatu yang lain. Ada kehidupan kecil di sana. Di rahimku. Ia bergerak, memeluk erat kehidupannya lewat hela nafas dan detak jantung dalam tubuhku.


Duk!

Kembali ia bergerak. Seperti menyampaikan pesan bahwa aku tidak sendirian. Ada dia di sini, di dalam rahim dan ikut mendengarkan. Ikut merasakan dinginnya hujan lewat perantara kulitku. Bahkan di malam-malam di mana aku terpaksa sendirian. Dia bergerak menemani agar aku tidak kesepian.

Aku tersenyum, membelai perutku berharap ia yang bergelung hangat di dalam sana tergetar oleh sentuhan.
 
 Aku berkata dalam hati 

‘hai anakku. Mari sini ikut perayaan besar untuk kehidupanmu. Di mulai hari ini, kamu diperkenankan hadir oleh Tuhan untuk menemani Ayah dan Ibu.  Ibu di sini sedang merasakan lagi kebahagiaan yang akan ibu simpan di dokumentasi rasa. Ibu menunggumu hadir tanpa resah, dan berharap kamu sesehat yang dibayangkan. Ibu menggigil oleh rindu ingin mencium pipimu, dagumu, bibirmu, meski rupamu saja ibu belum tahu. Tidak perlu memerlukan jarak untuk sampai di hati ibu, karena kamu sudah mendapatkannya, bahkan sebelum kamu ada. Karena jarak terjauh bukan puluhan kilometer, dan kamu sudah berhasil melompat berjuta-juta kilometer tanpa perlu usaha untuk sampai di hati ibu. Terima kasih kamu memberi ibu kesempatan untuk melihatmu lebih jelas tanpa takut pandangan ikut kabur karena jarak yang tidak teraba. Sekarang kamu ada, dan ibu bisa rasa. Terima kasih”.
Duk!
Ia bergerak lagi dan kali ini gerakkannya lebih keras terasa seperti ingin menyampaikan sinyal kepadaku dengan jelas untuk menjawab kata-kataku tadi. Jika ia bisa mengirimkan bahasa telepatinya mungkin ini yang ingin ia sampaikan
‘ Ibu. Ayah. Aku disini. Terima kasih kepada Tuhan aku diciptakan untuk menemani kalian sampai aku besar nanti. Terima kasih kepada Ayah dan Ibu untuk memberiku kesempatan tetap hidup meski bentuk dunia saja rasa-rasanya masih seperti mimpi gulali. Aku sudah merasa bahwa aku istimewa dan aku menunggu-nunggu untuk mengenal kalian dengan sangat baik. Dan kalian adalah wangi pertama yang akan aku cium diinderaku. Aku tahu bahwa mataku tidak perlu bekerja berkali lipat untuk mencari sosok kalian, karena kalian selalu ada. Terima kasih. Dari anakmu yang tidak sabar menunggu.

Ahh…Imajinasiku berlari kesegala arah, bukan tanpa tujuan. Imajinasi ini masa depan. Dan aku akan ingat hari ini dimana mimpi-mimpi yang terkemas di dalam koper memori akan aku buka dan ku serahkan sebagai cerita untuk anakku saat ia lahir nanti sekaligus menyegarkan kembali mimpi-mimpi itu yang akan selalu membuat hidup menjadi layak dijalani.

Aku akan ingat hari ini dimana hidupku meski bukan hidup yang baru, kali ini memang masih mengenai perjalanan namun dengan cerita yang baru menjadi IBU.

Aku akan ingat hari ini, dimulai dari titik nol hingga titik terbaru. Menikmati setiap proses, skema destini, berjalan beriringan tanpa takut diburu waktu.

Anakku, apa harapanmu nanti? Beritahu kepada Ayah dan Ibu, dan semoga semesta berkonspirasi mengantarkan maumu.

Hujan reda. 

Menciptakan genangan air dimana-mana. Kini semua orang sibuk melipat payung atau jas hujan mereka dan kembali beraktivitas seperti biasa. Aku tetap duduk dan menikmati momen hari ini sebagai sesuatu yang tidak pernah terlupa sampai nanti aku menua. Hai anakku! Momen ini akan Ibu awetkan dalam sebentuk kapsul berikut dengan percakapan kita lewat hati dan latar belakang hujan yang sama-sama kita icipi. Sehingga kita bisa melompati waktu dan menikmati momen ini kapan pun kita mau. Kita bisa berbincang-bincang, kamu bisa menangis sekerasmu, marah sepuasmu dan yakin Ayah dan Ibu tetap berada di tempat yang sama. Di hatimu. 
Kamu perlu tahu, Aku bahagia punya kamu.

Tidak lama setelah hujan mereda sesosok lelaki datang menghampiri. Ia melambaikan tangan sambil tersenyum. Ia mendekat kemudian melingkarkan tangannya dibahuku. Baju dan badannya basah  karena kehujanan. Ia mengajak aku pergi ketempat yang akan kamu kenal sebagai rumahmu. 

Anakku, perkenalkan. 

Inilah ayahmu. 




No comments:

Post a Comment

Lembayung Laut Biru

                                                          Ada nama yang tidak sekadar dipanggil -- ia diseru. Dipanggil bukan hanya oleh sua...