Hari
ini dimulai dengan wangi petrichor di udara bercampur uap kopi yang mengepul diantaranya
membuat seolah-olah semua itu adalah kesatuan sempurna yang tidak dapat
dipisahkan.
Hari ini hujan.
.
.
.
Bahkan
seperti hari kemarin dan hari sebelumnya lagi.
Kota ini memang tidak pernah
kehabisan stok hujan, seolah-olah adalah pabriknya yang selalu jadi kambing
hitam sebagai si pembuat masalah kebanjiran di kota lain.
Dan aku tepat berada
disana, menjadi salah satu bagian kecil manusia yang ikut berpartisipasi menghadirkan
satu cerita dari milyaran cerita yang ada di bumi.
Ku
rapikan pakaian, merapikan ikatan rambutku dan mulai menghirup dalam-dalam
udara lembab nan khas.
Orang hilir mudik berlari bergegas mengeluarkan payung
atau penahan hujan lainnya seperti hujan adalah sesuatu yang mengerikan.
Aku
tidak!
Aku menikmatinya.
Aku membiarkan hujan ikut serta merayakan kehidupanku
dengan melumat habis setiap inci tubuhku hingga kedinginan.
Ada banyak cerita
yang aku simpan yang tidak sabar ingin aku bagikan. Bahkan dititik terpahit
dari sebuah cerita tetap layak untuk dibagikan.
Aku tersenyum.
Aku yang sedang
duduk sendirian disatu kedai kopi sambil menyapu pandangan disudut jendela
dimana orang-orang sibuk menghindari hujan.
Ada secangkir chamomile tea di hadapan. Tidak biasa memang untuk aku si pecinta
kopi yang tidak pernah absen minum kopi di setiap kesempatan. Namun seperti
kataku, hari ini istimewa dan aku sedang merayakannya bersama hujan. Takut lama
kelamaan wangi teh ku dicicipi udara lebih banyak, segera ku sesap untuk
menghangatkan.
Duk!
Ada
gerak halus di perut.
Bukan
cacing-cacing yang minta makan. Bukan juga gejala maag yang biasanya sering aku
derita.
Ini sesuatu yang lain. Ada kehidupan kecil di sana. Di rahimku. Ia bergerak, memeluk erat kehidupannya lewat hela nafas dan detak jantung dalam tubuhku.
Ini sesuatu yang lain. Ada kehidupan kecil di sana. Di rahimku. Ia bergerak, memeluk erat kehidupannya lewat hela nafas dan detak jantung dalam tubuhku.
Duk!
Kembali
ia bergerak. Seperti menyampaikan pesan bahwa aku tidak sendirian. Ada dia di
sini, di dalam rahim dan ikut mendengarkan. Ikut merasakan dinginnya hujan
lewat perantara kulitku. Bahkan di malam-malam di mana aku terpaksa sendirian.
Dia bergerak menemani agar aku tidak kesepian.
Aku
tersenyum, membelai perutku berharap ia yang bergelung hangat di dalam sana
tergetar oleh sentuhan.
Aku berkata dalam hati
‘hai anakku. Mari sini
ikut perayaan besar untuk kehidupanmu. Di mulai hari ini, kamu diperkenankan hadir
oleh Tuhan untuk menemani Ayah dan Ibu.
Ibu di sini sedang merasakan lagi kebahagiaan yang akan ibu simpan di
dokumentasi rasa. Ibu menunggumu hadir tanpa resah, dan berharap kamu sesehat
yang dibayangkan. Ibu menggigil oleh rindu ingin mencium pipimu, dagumu,
bibirmu, meski rupamu saja ibu belum tahu. Tidak perlu memerlukan jarak untuk
sampai di hati ibu, karena kamu sudah mendapatkannya, bahkan sebelum kamu ada.
Karena jarak terjauh bukan puluhan kilometer, dan kamu sudah berhasil melompat
berjuta-juta kilometer tanpa perlu usaha untuk sampai di hati ibu. Terima kasih
kamu memberi ibu kesempatan untuk melihatmu lebih jelas tanpa takut pandangan
ikut kabur karena jarak yang tidak teraba. Sekarang kamu ada, dan ibu bisa
rasa. Terima kasih”.
Duk!
Ia
bergerak lagi dan kali ini gerakkannya lebih keras terasa seperti ingin
menyampaikan sinyal kepadaku dengan jelas untuk menjawab kata-kataku tadi. Jika
ia bisa mengirimkan bahasa telepatinya mungkin ini yang ingin ia sampaikan
‘ Ibu. Ayah. Aku
disini. Terima kasih kepada Tuhan aku diciptakan untuk menemani kalian sampai
aku besar nanti. Terima kasih kepada Ayah dan Ibu untuk memberiku kesempatan
tetap hidup meski bentuk dunia saja rasa-rasanya masih seperti mimpi gulali.
Aku sudah merasa bahwa aku istimewa dan aku menunggu-nunggu untuk mengenal
kalian dengan sangat baik. Dan kalian adalah wangi pertama yang akan aku cium
diinderaku. Aku tahu bahwa mataku tidak perlu bekerja berkali lipat untuk mencari
sosok kalian, karena kalian selalu ada. Terima kasih. Dari anakmu yang tidak
sabar menunggu.
Ahh…Imajinasiku
berlari kesegala arah, bukan tanpa tujuan. Imajinasi ini masa depan. Dan aku
akan ingat hari ini dimana mimpi-mimpi yang terkemas di dalam koper memori akan
aku buka dan ku serahkan sebagai cerita untuk anakku saat ia lahir nanti
sekaligus menyegarkan kembali mimpi-mimpi itu yang akan selalu membuat hidup
menjadi layak dijalani.
Aku akan ingat hari ini dimana hidupku meski
bukan hidup yang baru, kali ini memang masih mengenai perjalanan namun dengan
cerita yang baru menjadi IBU.
Aku
akan ingat hari ini, dimulai dari titik nol hingga titik terbaru. Menikmati
setiap proses, skema destini, berjalan beriringan tanpa takut diburu waktu.
Anakku,
apa harapanmu nanti? Beritahu kepada Ayah dan Ibu, dan semoga semesta
berkonspirasi mengantarkan maumu.
Hujan
reda.
Menciptakan genangan air dimana-mana. Kini semua orang sibuk melipat payung
atau jas hujan mereka dan kembali beraktivitas seperti biasa. Aku tetap duduk
dan menikmati momen hari ini sebagai sesuatu yang tidak pernah terlupa sampai
nanti aku menua. Hai anakku! Momen ini akan Ibu awetkan dalam sebentuk kapsul
berikut dengan percakapan kita lewat hati dan latar belakang hujan yang
sama-sama kita icipi. Sehingga kita bisa melompati waktu dan menikmati momen
ini kapan pun kita mau. Kita bisa berbincang-bincang, kamu bisa menangis
sekerasmu, marah sepuasmu dan yakin Ayah dan Ibu tetap berada di tempat yang
sama. Di hatimu.
Kamu perlu tahu, Aku bahagia punya kamu.
Tidak
lama setelah hujan mereda sesosok lelaki datang menghampiri. Ia melambaikan
tangan sambil tersenyum. Ia mendekat kemudian melingkarkan tangannya dibahuku.
Baju dan badannya basah karena
kehujanan. Ia mengajak aku pergi ketempat yang akan kamu kenal sebagai rumahmu.
Anakku, perkenalkan.
Inilah ayahmu.


No comments:
Post a Comment