Wednesday, December 10, 2014

You are the universe



Aku pernah menuliskan ini sebelumnya. Beberapa tahun lalu, jika dikalkulasikan dengan hitungan waktu kira-kira 1.555.200 detik yang lalu, silahkan hitung sendiri jika mau. Namun jika aku berniat hitung lagi, entah sudah beribu-ribu kalinya dari waktu waktu tersebut hanya bisa aku isi tentang kamu. Dan dari waktu-waktu itu juga lah, aku menciptakan semestaku sendiri. Semesta yang mungkin Cuma kamu isinya. Aku memang egois jika menyangkut kamu, hehe...

Aku sudah hafal betul kebiasaanmu, caramu melipat baju, caramu menyisir rambut, aku juga tahu berapa ketukan kamu akan mengambil nafas, dan yang paling aku hafal adalah disaat-saat kamu patah hati. Kamu akan mengajakku berjalan berkilo-kilometer keatas bukit pohon pinus, seperti kali ini. Menghabiskan siang sampai melihat matahari sembunyi dan langit menyemburatkan pipinya yang berwarna jingga. Membiarkan rambut kita terpilin oleh angin, dan udara dingin memeluk tubuh kita dengan erat, dan kita duduk kian merapat. Ini adalah rumah rahasia, katamu. Tempat berbagi rahasia, Cuma aku dan kamu yang tahu. Kemudian seperti ember bocor, kamu tidak henti-hentinya mengoceh tentang segala hal. Tentang rasa kehilangan, mengutuk perempuan yang menolakmu mentah-mentah, atau kadang kamu hanya akan diam dengan jeda yang rapat dan aku akan tersenyum memerhatikanmu.

Belakangan ini kita sering berbicara, seringnya sih kamu yang banyak bicara, seperti kali ini kamu membuka koper memori mu tentang satu masa yang kamu rindukan. Tentang teman-teman, tentang tidur dikosan yang berdesakkan, dan yang terakhir tentang dia yang membuatmu menunggu hampir 3 tahun. Aku tersenyum lagi. Aku biarkan kamu bercerita, setidaknya sampai rasa sakitmu hilang. Jangan khawatir aku tidak akan kemana-kemana meski ingin sekali terjun dari atas bukit atau naik ke atas puncak pohon pinus dan berteriak sekencang-kencangnya sampai kamu mengerti bahwa cinta tumbuh, berkembang, lalu mati. Selalu begitu siklusnya. Bahkan para pemuja cinta yang mengaggungkan cinta abadi pun pasti merasakan akhir perjalanan cinta. Dan cintaku buat kamu juga sudah mengalami tumbuh, mati, tumbuh lagi, mati lagi, entah untuk ke berapa kalinya. Dan yang ini mungkin hampir sekarat entah akan reinkarnasi kembali atau tidak. Mungkin semesta juga lah yang akan memastikan dimana kita akan berada, mungkin ya mungkin juga tidak. Seperti menyusuri jejak yang sama mulai dari langkah pertama sampai pada pusat yang sama pula. Seperti lingkaran semesta yang terus berputar dan akan berputar pada sudut yang itu-itu juga. Kita seperti bertukar energi kemudian saling membalut luka masing-masing.



“tidak ada yang abadi kecuali kenangan, itupun jika kamu tidak terserang lupa ingatan. Karena akhirnya salah satunya akan hilang dan yang bisa kita ingat Cuma kenangan itu, jika kita mau mengingatnya tentu saja. Seperti ekstraksi kenangan dalam tablet hisap abadi, untuk kemudian kamu emut tablet itu sepanjang masa. Namun jika sudah sembuh, belum tentu kita mau mengemutnya kembali karena belum tentu ekstraksi kenangan itu akan semanis gula-gula.” Kataku.
“Jadi, untuk apa memulai sesuatu yang pasti akan berakhir?” tanyamu sambil mengerutkan kening.
“Mungkin karena senang berpetualang atau untuk menambah koleksi kenangan seperti koleksi filateli dan kamu ada dibagian yang mana? Karena pertanyaan atau jawaban yang kita cari hanyalah renik dari hidup yang sesungguhnya, dan akan menguap lenyap ketika kita terserang lupa sesuai dengan kemampuan manusia yang gampang lupa, atau mungkin lupa diri hehe?’ aku asal saja menjawab karena sejujurnya aku pun mempertanyakan hal yang sama, ini sih agar kamu diam dulu dari ocehanmu. Beberapa detik kemudian kamu diam dan memaknai setiap kalimat tadi. Kamu rangkul bahuku dan menjawab
“Dan jika perkiraanmu benar, bagaimana kalau ternyata kamu adalah akhir dari pencarianku?” Entah itu adalah pertanyaan atau pernyataan yang sialnya terdengar sangat jelas olehku.
“Kalau suatu saat salah satu dari kita mati atau hilang bagaimana? Bukannya itu juga bisa berarti berakhirnya pencarian?’ Tanyaku lagi
“kalau begitu semesta yang tentukan. Namun tidak kah kamu sadar, kamu selalu ada bersamaku. Tertawa dan tidak kehabisan bahan cerita, makan es krim ketika bosan. Bukankah ini yang diinginkan semesta, Aku ada kalau kamu ada”. Katamu berseru sambil tersenyum.
“Jika semesta ingin aku hilang? Apakah aku tetap bisa menjadi semesta?”
Kamu diam kali ini.
“Semoga tidak. Namun setidaknya cuma akan ada satu semesta yang sudah aku ciptakan walaupun Tuhan menciptakannya lewat milayaran cahaya lebih luas, dan lebih dalam dari yang aku sanggup capai”. Jawabmu

Kemudian kamu rangkul bahuku, Kamu mendekat pada wajahku. Sedikit lebih dekat dan lebih dekat lagi. Aku bahkan bisa menghitung titik-titik kecil diwajahmu, melihat jelas butiran keringat menempel ketat di alismu. Dan kemudian semua terlihat samar. Angin yang bertiup biasa saja seolah berdesir kencang sekali. Alihalih merasa kedinginan tubuhku malah terasa panas. Mukaku pun sepertinya sudah berubah merah seketika.

Bahagia selamanya adalah kata yang Cuma bisa dianalogikan dalam dongeng cinderella, namun sebut saja ini adalah bahagia selamanya versi kita. Anggap saja kita telah menciptakan semesta kita sendiri, dan tak ada kata yang mampu aku tuturkan. Tidak ada bahagia selamanya yang bisa aku janjikan namun dimulai dari detik pertama semesta kita tercipta, aku siap menjadi teman berjalan di setiap tanjakan, turunan, belokan atau tikungan, hingga menemukan jalan tanpa rintangan. Saling membantu membaca rambu. Saling meminjamkan bahu ketika kita sama-sama kelelahan. Mungkin ini semesta kita, Bagaimana mungkin Tuhan menciptakan semesta setelah kita mati karena nyatanya, semesta itu ada disini. Bersamamu.

Kalau begitu...

Mari kita rapal mantra ini bersama-sama....


You are the universe


No comments:

Post a Comment

Lembayung Laut Biru

                                                          Ada nama yang tidak sekadar dipanggil -- ia diseru. Dipanggil bukan hanya oleh sua...