Kita
tahu bahwa semua umat manusia yang diciptakan Tuhan adalah berbeda. Semuanya
memiliki karakteristik masing-masing yang berbeda, meskipun terdapat beberapa
persamaan namun bisa kita pastikan akan menemukan apa yang beda diantara itu
semua. Perbedaan paling mendasar selain jenis kelamin, agama, dan karakter
adalah pola berpikir. Kita memiliki cara berpikir sendiri-sendiri untuk
menyelesaikan masalah dengan cara yang berbeda pula. Ada yang merasa benar, ada
juga yang merasa dirinya yang salah. Selain itu pula, cara menjalani hidup bisa
dijadikan satu acuan perbedaan lainnya.
Saya
disini tidak sedang mengotak perbedaan begitu pun perbedaan lainnya antara saya
dan orang lain. Tulisan ini hanya sekedar sharing mengenai perbedaan-perbedaan
yang kadang bisa jadi masalah besar. Jauh sebelum sekarang dimana masalah yang
saya hadapi lebih kompleks, saya telah menikmati keadaan berpolemik yang
menitik beratkan mengenai perbedaan dan bagaimana menjadi orang yang berbeda
terkadang sangat menyulitkan. Saya terlahir sama seperti bayi lainnya,normal,
sehat, gemuk dan tidak kurang satu apapun. Saya memiliki dua orang kakak, satu
perempuan dan satu lagi laki-laki. Kami semua memang berbeda dan perbedaan
tersebut dapat sangat mengganggu diantara saya dan kakak-kakak saya. Kakak saya
yang perempuan adalah anak yang ceria, populer, dan disukai banyak orang.
Terkadang orang-orang yang kebetulan bertemu dengan kami berdua akan mulai
membandingkan, Selain itu orang tua terutama ibu saya pun sering membandingkan
saya dan kakak perempuan saya terlebih jika saya melakukan satu kesalahan atau
melakukan hal-hal yang tidak disukai olehnya. Kakak perempuan saya adalah
figure perfect orangtua saya dan saya adalah the ugly duckling didalam
keluarga. Kakak laki-laki saya pintar,dan cakap dalam segala hal, berbanding
terbalik dengan saya yang sedikit lamban, tidak begitu cakap dan tidak terlalu
rapi dalam segala aspek. Saya sering sekali mendapati diri saya dibandingkan
dengan kedua kakak saya itu baik oleh orangtua,nenek dan kakek, atau hampir
semua orang yang kami kenal. Mungkin maksud mereka adalah untuk memberikan
motivasi agar saya bisa maju. Namun alih-alih termotivasi saya malah menjadi
anak yang tertutup dan tidak percaya diri. Sehingga perasaan menjadi paling
berbeda diantara kedua kakak saya terasa sampai kedalam hati. Cara menghabiskan
waktu diantara kami pun sangat jelas berbeda ketika mereka asik bermain dengan
teman mereka masing-masing, saya lebih suka menghabiskan waktu sendirian
bermain dengan anak kucing sambil mengajaknya mengobrol seakan anak kucing itu
bisa membalas balik perkataan saya. Hal tersebut mungkin salah satu dampak
negatif ketika saya sering dilibatkan
dalam perbandingan perfect dan unperfect dari kedua kakak saya. Dan karakteristik
tersebut tadi begitu membentuk saya karena pengaruh paling besar terhadap
pembentukan karakterisasi seseorang adalah lewat lingkungan keluarga.
Selain
dirumah perbedaan lainnya saya dapatkan dimulai pada masa saya sekolah dasar,
cap berbeda dari yang lain telah teremban didalam diri saya diusia sekecil itu.
Saya dinyatakan tandakutip berbeda yang konotasinya bagi sebagian orang
berarti saya itu aneh. Sebagai seorang anak usia 7 tahun yang senang membaca
buku-buku sastra seperti W.S Rendra atau Chairil Anwar dan cerita-cerita
detektif seperti Sherlock Holmes dan novel petualangan lainnya mungkin tidak
aneh, namun yang berbeda adalah saya lebih memilih untuk membaca buku-buku
tersebut dibandingkan bermain dengan teman sebaya. Sehingga tidak heran saya
tidak begitu banyak memiliki teman, terlebih di sekolah dasar. Jika kamu tahu
seperti apa ketika itu, kamu akan melihat seorang anak kecil yang sering
menyendiri duduk dipojokan kelas sambil membaca buku dan hal yang masih terasa
baru bagi saya yang terkadang terasa miris adalah seringnya saya menjadi objek
bullying karena perbedaan yang mendasar itu yang mereka nyatakan sebagai
keanehan. Selain itu masih teringat dengan jelas oleh saya, jika saya sedang
stres berat atau sedang merasa kesal dan sedih, terkadang kamu akan menemukan
saya sedang berbicara sendiri sambil menghadap kecermin, seolah-olah ada dua
orang disitu sedang berdiskusi seru. Saking seringnya saya begitu, ibu saya
pernah konsultasi dengan seorang psikiater mungkin karena beliau khawatir dan
takut kalau-kalau saya ini ada apa-apa.
Terselip
persamaan antara saya dengan anak-anak seusia saya ketika itu adalah saya suka
sekali berkhayal dan berimajinasi bahkan mungkin lebih sering lagi. Bagi saya
berkhayal adalah salah satu penghiburan terbesar ketika terlalu lelah dijadikan
objek ketidaksamaan dalam kehidupan sosial saya sehingga terkadang saya bisa
begitu sangat kesepian dan berkhayal adalah jalan keluar mengasyikan tanpa
perlu mengeluarkan uang. Seperti anak-anak lainnya yang selalu berdekatan
dengan imajinasi seru dikepala mereka,saya pun menjadi salah satunya. Lamunan
dan imajinasi saya bukan mengenai ingin menjadi superhero seperti sailor moon,
atau jadi princess cantik. Saya biasanya menuntaskan lamunan-lamunan saya jika
sedang duduk diatas pohon jambu air didepan rumah atau duduk diatas atap rumah,
sambil menengadah menatap awan biasanya saya berimajinasi bahwa diujung awan
yang saya lihat ketika itu memiliki tempat-tempat baru yang belum pernah saya
kunjungi. Diujung awan yang saya lihat pasti ada orang-orang baru yang akan
saya kenal nanti. Dan diujung awan itu selalu ada rumah-rumah dengan teras
indah yang menunggu saya untuk ditempati kemudian.
Selain
cap aneh saya juga mendapatkan cap-cap lainnya yang menempel didada saya seolah
ID Card. Saya di cap nakal. Kenakalan adalah salah satu eksistensi seorang anak
kecil dan ada beberapa kenakalan-kenakalan yang bisa ditolerir dan tidak bisa
ditolerir, namun saya tidak tahu kenakalan yang manakah yang tertempel itu.
Satu hari saya pernah tidak sengaja menggoret panjang sebuah mobil mercedes
benz berwarna biru yang terparkir didepan rumah tetangga saya ketika sedang
bermain sepeda namun karena belum terlalu mahir, sepeda yang saya kendarai
oleng dan akhirnya mobil biru itu tergoret panjang dari depan hingga
kebelakang. Beruntung mereka cuma mengaggap saya seorang anak kampung nakal
sehingga hal tersebut tidak dipermasalahkan. Pernah juga ketika saya sedang
suka-sukanya pada serial jepang google five dan serial tersebut hanya dimiliki
oleh tetangga yang tinggal satu rumah disebelah rumah saya. Dan kemudian
lagi-lagi saya tidak sengaja membuat tape pemutar video milik tetangga saya itu
rusak karena berkali-kali saya memencet tombol yang entah apa itu sehingga
akhirnya gadget itu pun rusak. Ayah dan ibu saya dimintai untuk memperbaiki
tape video itu dan tuntas sudah predikat saya sebagai anak aneh, penyendiri dan
nakal.
Hal
lainnya yang mewarnai rentetan status sosial dimasa kecil saya yaitu saya dicap
bodoh oleh guru-guru disekolah. Dahulu saya pernah menjadi murid berprestasi,
namun karena satu dan lain hal saya
menjadi malas sekolah, malas belajar dan akhirnya prestasi saya pun
dipertaruhkan. Padahal jika mengingat-ingat kembali, mengapa saya benci
bersekolah adalah karena pernah ketika saya mendapatkan tugas menuliskan puisi
oleh guru, entah karena apa guru saya menganggap puisi yang saya tuliskan
adalah hasil contekan dalam sebuah majalah. Dampaknya sungguh besar sekali bagi
saya karena saya pikir meskipun saya berusaha pun tidak akan menghasilkan
apa-apa. Dan prestasi saya pun anjlok, semangat bersekolah tidak saya miliki
sehingga karena terlalu stres akhirnya saya pun jatuh sakit dan didiagnosis
memiliki gejala liver. Dan menghabiskan waktu 1 bulan untuk kembali
beraktivitas. Predikat-predikat baik yang diberikan baik oleh orangtua, guru
dan teman-teman saya begitu besar dampaknya sehingga saya meyakini bahwa saya
memanglah anak yang bodoh, aneh, penyendiri dan nakal yang membuat saya lebih
pemurung dan pendiam dan saya tidak mau untuk membuka diri karena tidak pernah
ada orang yang mau bicara untuk mendengarkan apa harapan dan keinginan saya
ketika itu. Dan Pelarian saya dimasa sulit itu adalah dengan membaca buku-buku
sebanyak mungkin, melamun selama mungkin, menulis diary sepanjang mungkin, dan
itu membuat saya lega.
Perbedaan
adalah sesuatu yang wajar, namun bisa menjadi masalah bagi sebagian orang jika
orang tersebut mengaggap perbedaan adalah kesalahan dan aneh. Perbedaan
seharusnya disikapi dengan penerimaan utuh karena pada dasarnya manusia
memiliki cela ketidaksempurnaan dalam diri mereka. Jika kita mengalami
diskriminasi sejak dini, dipastikan ada dampak tersendiri yang tidak dapat kita
bayangkan. Anak adalah manusia yang bisa berpikir sendiri meskipun harus kita
arahkan. Hanya jangan membangkitkan ekspektasi bahwa anak tersebut harus lebih
dari kapasitas si anak. Mungkin maksud kita baik, dan ingin sama dengan
anak-anak yang kita lihat namun kembali lagi, setiap anak memiliki perbedaan
signifikan yang tidak dapat kita abaikan. Hal yang saya alami ketika kecil dulu
adalah dampak dari diskriminasi yang saya dapatkan,sehingga saya menjadi anak
nakal dan bodoh juga penyendiri. Dalam segi emosional saya waktu kecil sangat
tidak seimbang, dan hal tersebut adalah contoh penanganan yang salah oleh orang
dewasa disekitar saya. Adakalanya kita harus saling mendengarkan karena
perbedaan berarti keragaman. Dan keragaman adalah hal yang baik sehingga kita
bisa saling berbagi agar harmonisasi kehidupan pun tercipta. Hal tersebut tidak
saya dapatkan malah ditekan oleh otoritas orang dewasa disekitar saya yang
membuat diri saya tidak dapat berkembang baik secara emosional juga
inteligensi. Saya tidak menyalahkan karena apa yang saya alami adalah
pembelajaran luar biasa bagi saya saat ini, sebab itulah saya memilih menjadi
seorang guru bukan karena saya ingin membalaskan dendam masa kecil terhadap
anak-anak yang saya ajar, namun yang saya inginkan justru lewat sekolah saya
bisa merubah tatanan pengajaran pada umumnya. Menanamkan sedini mungkin sebuah
komunikasi dua arah bagi si anak sehingga si anak memiliki kesempatan untuk
mengembangkan diri dan mandiri, belajar dari kesempatan dan kesalahan yang
mereka perbuat lebih baik dari pada menekan anak-anak tersebut dengan
ekspektasi tinggi yang belum tentu akan kita dapatkan. Biarlah mereka belajar
dari kesalahan-kesalahan mereka dan hal itu akan membentuk pribadi mereka yang
lebih baik.
Namun
begitu, sebagai pandangan saya yang sudah mendewasa mempunyai keinginan agar si
anak lebih baik dari kita adalah hal yang sangat-sangat lumrah. Akan tetapi jika
si anak tidak menyukai akan hal yang kita inginkan, bukan malah memberikan
cap-cap tertentu yang mungkin akan berdampak buruk baginya. Hal yang lebih baik
adalah anak-anak tersebut diberikan satu pembangun bukan selalu dengan pujian
namun diberikan pandangan-pandangan kedepan agar mereka mengerti. Meskipun
tubuh mereka masik kanak-kanak, namun bukan berarti mereka tidak mengerti.
Lewat pengalaman saya, anak-anak mampu menangkap presepsi jauh lebih cepat dan
akan mereka terapkan pada akhirnya. Dan begitulah.. komunikasi adalah jalannya.
Terkadang kita harus menjadi orang dewasa sekaligus sahabat dimomen kemudian.
Bukan mau membuat mereka bingung hanya mereka perlu mendapatkan keduanya agar
bisa saling bicara, juga saling mendengar tanpa ada nado diktator yang membuat
si anak tidak nyaman.
Dari
yang telah saya alami dimasa-masa dini, tidak kemudian membuat saya menjadi
seseorang berpribadi istimewa, namun jika melihat kebelakang saya merasa
beruntung karena saya sudah belajar tentang kehidupan dan makna diri lebih dulu
dibanding teman-teman seusia saya. Saya sudah tahu bagaimana menyadarkan
ketidakmampuan dan menyandarkan keinginan sebagai satu motivasi untuk keluar
dari situasi buruk.
Mungkin
tulisan saya ini sangat membosankan dan solusi yang saya jabarkan pun tidak
mencakupi. Saya tidak mencoba untuk menggurui namun ini semua sekedar sharing
dengan harapan setelahnya adalah menanamkan perspektif bawha perbedaan adalah
keindahan, bahwa setiap orang memiliki perbedaan dan perbedaan bukanlah
keanehan justru satu keunikan yang cuma kita miliki sebagai keistimewaan kita
dibandingkan dengan yang lain. Dimulai dari sekarang, lihatlah sekitarmu.
Berkelilinglah dan lihat!! Kalian pun berbeda, dan menjadi berbeda bukanlah
dosa!
No comments:
Post a Comment