Wednesday, August 15, 2012

Tidak Sama


Kita tahu bahwa semua umat manusia yang diciptakan Tuhan adalah berbeda. Semuanya memiliki karakteristik masing-masing yang berbeda, meskipun terdapat beberapa persamaan namun bisa kita pastikan akan menemukan apa yang beda diantara itu semua. Perbedaan paling mendasar selain jenis kelamin, agama, dan karakter adalah pola berpikir. Kita memiliki cara berpikir sendiri-sendiri untuk menyelesaikan masalah dengan cara yang berbeda pula. Ada yang merasa benar, ada juga yang merasa dirinya yang salah. Selain itu pula, cara menjalani hidup bisa dijadikan satu acuan perbedaan lainnya.

Saya disini tidak sedang mengotak perbedaan begitu pun perbedaan lainnya antara saya dan orang lain. Tulisan ini hanya sekedar sharing mengenai perbedaan-perbedaan yang kadang bisa jadi masalah besar. Jauh sebelum sekarang dimana masalah yang saya hadapi lebih kompleks, saya telah menikmati keadaan berpolemik yang menitik beratkan mengenai perbedaan dan bagaimana menjadi orang yang berbeda terkadang sangat menyulitkan. Saya terlahir sama seperti bayi lainnya,normal, sehat, gemuk dan tidak kurang satu apapun. Saya memiliki dua orang kakak, satu perempuan dan satu lagi laki-laki. Kami semua memang berbeda dan perbedaan tersebut dapat sangat mengganggu diantara saya dan kakak-kakak saya. Kakak saya yang perempuan adalah anak yang ceria, populer, dan disukai banyak orang. Terkadang orang-orang yang kebetulan bertemu dengan kami berdua akan mulai membandingkan, Selain itu orang tua terutama ibu saya pun sering membandingkan saya dan kakak perempuan saya terlebih jika saya melakukan satu kesalahan atau melakukan hal-hal yang tidak disukai olehnya. Kakak perempuan saya adalah figure perfect orangtua saya dan saya adalah the ugly duckling didalam keluarga. Kakak laki-laki saya pintar,dan cakap dalam segala hal, berbanding terbalik dengan saya yang sedikit lamban, tidak begitu cakap dan tidak terlalu rapi dalam segala aspek. Saya sering sekali mendapati diri saya dibandingkan dengan kedua kakak saya itu baik oleh orangtua,nenek dan kakek, atau hampir semua orang yang kami kenal. Mungkin maksud mereka adalah untuk memberikan motivasi agar saya bisa maju. Namun alih-alih termotivasi saya malah menjadi anak yang tertutup dan tidak percaya diri. Sehingga perasaan menjadi paling berbeda diantara kedua kakak saya terasa sampai kedalam hati. Cara menghabiskan waktu diantara kami pun sangat jelas berbeda ketika mereka asik bermain dengan teman mereka masing-masing, saya lebih suka menghabiskan waktu sendirian bermain dengan anak kucing sambil mengajaknya mengobrol seakan anak kucing itu bisa membalas balik perkataan saya. Hal tersebut mungkin salah satu dampak negatif  ketika saya sering dilibatkan dalam perbandingan perfect dan unperfect dari kedua kakak saya. Dan karakteristik tersebut tadi begitu membentuk saya karena pengaruh paling besar terhadap pembentukan karakterisasi seseorang adalah lewat lingkungan keluarga.

Selain dirumah perbedaan lainnya saya dapatkan dimulai pada masa saya sekolah dasar, cap berbeda dari yang lain telah teremban didalam diri saya diusia sekecil itu. Saya dinyatakan tandakutip berbeda yang konotasinya bagi sebagian orang berarti saya itu aneh. Sebagai seorang anak usia 7 tahun yang senang membaca buku-buku sastra seperti W.S Rendra atau Chairil Anwar dan cerita-cerita detektif seperti Sherlock Holmes dan novel petualangan lainnya mungkin tidak aneh, namun yang berbeda adalah saya lebih memilih untuk membaca buku-buku tersebut dibandingkan bermain dengan teman sebaya. Sehingga tidak heran saya tidak begitu banyak memiliki teman, terlebih di sekolah dasar. Jika kamu tahu seperti apa ketika itu, kamu akan melihat seorang anak kecil yang sering menyendiri duduk dipojokan kelas sambil membaca buku dan hal yang masih terasa baru bagi saya yang terkadang terasa miris adalah seringnya saya menjadi objek bullying karena perbedaan yang mendasar itu yang mereka nyatakan sebagai keanehan. Selain itu masih teringat dengan jelas oleh saya, jika saya sedang stres berat atau sedang merasa kesal dan sedih, terkadang kamu akan menemukan saya sedang berbicara sendiri sambil menghadap kecermin, seolah-olah ada dua orang disitu sedang berdiskusi seru. Saking seringnya saya begitu, ibu saya pernah konsultasi dengan seorang psikiater mungkin karena beliau khawatir dan takut kalau-kalau saya ini ada apa-apa.

Terselip persamaan antara saya dengan anak-anak seusia saya ketika itu adalah saya suka sekali berkhayal dan berimajinasi bahkan mungkin lebih sering lagi. Bagi saya berkhayal adalah salah satu penghiburan terbesar ketika terlalu lelah dijadikan objek ketidaksamaan dalam kehidupan sosial saya sehingga terkadang saya bisa begitu sangat kesepian dan berkhayal adalah jalan keluar mengasyikan tanpa perlu mengeluarkan uang. Seperti anak-anak lainnya yang selalu berdekatan dengan imajinasi seru dikepala mereka,saya pun menjadi salah satunya. Lamunan dan imajinasi saya bukan mengenai ingin menjadi superhero seperti sailor moon, atau jadi princess cantik. Saya biasanya menuntaskan lamunan-lamunan saya jika sedang duduk diatas pohon jambu air didepan rumah atau duduk diatas atap rumah, sambil menengadah menatap awan biasanya saya berimajinasi bahwa diujung awan yang saya lihat ketika itu memiliki tempat-tempat baru yang belum pernah saya kunjungi. Diujung awan yang saya lihat pasti ada orang-orang baru yang akan saya kenal nanti. Dan diujung awan itu selalu ada rumah-rumah dengan teras indah yang menunggu saya untuk ditempati kemudian.

Selain cap aneh saya juga mendapatkan cap-cap lainnya yang menempel didada saya seolah ID Card. Saya di cap nakal. Kenakalan adalah salah satu eksistensi seorang anak kecil dan ada beberapa kenakalan-kenakalan yang bisa ditolerir dan tidak bisa ditolerir, namun saya tidak tahu kenakalan yang manakah yang tertempel itu. Satu hari saya pernah tidak sengaja menggoret panjang sebuah mobil mercedes benz berwarna biru yang terparkir didepan rumah tetangga saya ketika sedang bermain sepeda namun karena belum terlalu mahir, sepeda yang saya kendarai oleng dan akhirnya mobil biru itu tergoret panjang dari depan hingga kebelakang. Beruntung mereka cuma mengaggap saya seorang anak kampung nakal sehingga hal tersebut tidak dipermasalahkan. Pernah juga ketika saya sedang suka-sukanya pada serial jepang google five dan serial tersebut hanya dimiliki oleh tetangga yang tinggal satu rumah disebelah rumah saya. Dan kemudian lagi-lagi saya tidak sengaja membuat tape pemutar video milik tetangga saya itu rusak karena berkali-kali saya memencet tombol yang entah apa itu sehingga akhirnya gadget itu pun rusak. Ayah dan ibu saya dimintai untuk memperbaiki tape video itu dan tuntas sudah predikat saya sebagai anak aneh, penyendiri dan nakal.

Hal lainnya yang mewarnai rentetan status sosial dimasa kecil saya yaitu saya dicap bodoh oleh guru-guru disekolah. Dahulu saya pernah menjadi murid berprestasi, namun  karena satu dan lain hal saya menjadi malas sekolah, malas belajar dan akhirnya prestasi saya pun dipertaruhkan. Padahal jika mengingat-ingat kembali, mengapa saya benci bersekolah adalah karena pernah ketika saya mendapatkan tugas menuliskan puisi oleh guru, entah karena apa guru saya menganggap puisi yang saya tuliskan adalah hasil contekan dalam sebuah majalah. Dampaknya sungguh besar sekali bagi saya karena saya pikir meskipun saya berusaha pun tidak akan menghasilkan apa-apa. Dan prestasi saya pun anjlok, semangat bersekolah tidak saya miliki sehingga karena terlalu stres akhirnya saya pun jatuh sakit dan didiagnosis memiliki gejala liver. Dan menghabiskan waktu 1 bulan untuk kembali beraktivitas. Predikat-predikat baik yang diberikan baik oleh orangtua, guru dan teman-teman saya begitu besar dampaknya sehingga saya meyakini bahwa saya memanglah anak yang bodoh, aneh, penyendiri dan nakal yang membuat saya lebih pemurung dan pendiam dan saya tidak mau untuk membuka diri karena tidak pernah ada orang yang mau bicara untuk mendengarkan apa harapan dan keinginan saya ketika itu. Dan Pelarian saya dimasa sulit itu adalah dengan membaca buku-buku sebanyak mungkin, melamun selama mungkin, menulis diary sepanjang mungkin, dan itu membuat saya lega.

Perbedaan adalah sesuatu yang wajar, namun bisa menjadi masalah bagi sebagian orang jika orang tersebut mengaggap perbedaan adalah kesalahan dan aneh. Perbedaan seharusnya disikapi dengan penerimaan utuh karena pada dasarnya manusia memiliki cela ketidaksempurnaan dalam diri mereka. Jika kita mengalami diskriminasi sejak dini, dipastikan ada dampak tersendiri yang tidak dapat kita bayangkan. Anak adalah manusia yang bisa berpikir sendiri meskipun harus kita arahkan. Hanya jangan membangkitkan ekspektasi bahwa anak tersebut harus lebih dari kapasitas si anak. Mungkin maksud kita baik, dan ingin sama dengan anak-anak yang kita lihat namun kembali lagi, setiap anak memiliki perbedaan signifikan yang tidak dapat kita abaikan. Hal yang saya alami ketika kecil dulu adalah dampak dari diskriminasi yang saya dapatkan,sehingga saya menjadi anak nakal dan bodoh juga penyendiri. Dalam segi emosional saya waktu kecil sangat tidak seimbang, dan hal tersebut adalah contoh penanganan yang salah oleh orang dewasa disekitar saya. Adakalanya kita harus saling mendengarkan karena perbedaan berarti keragaman. Dan keragaman adalah hal yang baik sehingga kita bisa saling berbagi agar harmonisasi kehidupan pun tercipta. Hal tersebut tidak saya dapatkan malah ditekan oleh otoritas orang dewasa disekitar saya yang membuat diri saya tidak dapat berkembang baik secara emosional juga inteligensi. Saya tidak menyalahkan karena apa yang saya alami adalah pembelajaran luar biasa bagi saya saat ini, sebab itulah saya memilih menjadi seorang guru bukan karena saya ingin membalaskan dendam masa kecil terhadap anak-anak yang saya ajar, namun yang saya inginkan justru lewat sekolah saya bisa merubah tatanan pengajaran pada umumnya. Menanamkan sedini mungkin sebuah komunikasi dua arah bagi si anak sehingga si anak memiliki kesempatan untuk mengembangkan diri dan mandiri, belajar dari kesempatan dan kesalahan yang mereka perbuat lebih baik dari pada menekan anak-anak tersebut dengan ekspektasi tinggi yang belum tentu akan kita dapatkan. Biarlah mereka belajar dari kesalahan-kesalahan mereka dan hal itu akan membentuk pribadi mereka yang lebih baik.

Namun begitu, sebagai pandangan saya yang sudah mendewasa mempunyai keinginan agar si anak lebih baik dari kita adalah hal yang sangat-sangat lumrah. Akan tetapi jika si anak tidak menyukai akan hal yang kita inginkan, bukan malah memberikan cap-cap tertentu yang mungkin akan berdampak buruk baginya. Hal yang lebih baik adalah anak-anak tersebut diberikan satu pembangun bukan selalu dengan pujian namun diberikan pandangan-pandangan kedepan agar mereka mengerti. Meskipun tubuh mereka masik kanak-kanak, namun bukan berarti mereka tidak mengerti. Lewat pengalaman saya, anak-anak mampu menangkap presepsi jauh lebih cepat dan akan mereka terapkan pada akhirnya. Dan begitulah.. komunikasi adalah jalannya. Terkadang kita harus menjadi orang dewasa sekaligus sahabat dimomen kemudian. Bukan mau membuat mereka bingung hanya mereka perlu mendapatkan keduanya agar bisa saling bicara, juga saling mendengar tanpa ada nado diktator yang membuat si anak tidak nyaman.

Dari yang telah saya alami dimasa-masa dini, tidak kemudian membuat saya menjadi seseorang berpribadi istimewa, namun jika melihat kebelakang saya merasa beruntung karena saya sudah belajar tentang kehidupan dan makna diri lebih dulu dibanding teman-teman seusia saya. Saya sudah tahu bagaimana menyadarkan ketidakmampuan dan menyandarkan keinginan sebagai satu motivasi untuk keluar dari situasi buruk.

Mungkin tulisan saya ini sangat membosankan dan solusi yang saya jabarkan pun tidak mencakupi. Saya tidak mencoba untuk menggurui namun ini semua sekedar sharing dengan harapan setelahnya adalah menanamkan perspektif bawha perbedaan adalah keindahan, bahwa setiap orang memiliki perbedaan dan perbedaan bukanlah keanehan justru satu keunikan yang cuma kita miliki sebagai keistimewaan kita dibandingkan dengan yang lain. Dimulai dari sekarang, lihatlah sekitarmu. Berkelilinglah dan lihat!! Kalian pun berbeda, dan menjadi berbeda bukanlah dosa!


No comments:

Post a Comment

Lembayung Laut Biru

                                                          Ada nama yang tidak sekadar dipanggil -- ia diseru. Dipanggil bukan hanya oleh sua...