Saturday, August 11, 2012

Lost in Life

Pernahkah kamu merasakan hal yang sama?

Seperti ketika ingin bersendawa untuk mengenyahkan luka. Atau mimpi yang seperti nyata.
Menyalakan lagu-lagu untuk dirimu sendiri seperti sebuah soundtrack hidup.
Atau seperti ingin meraih cakrawala namun sedetik kemudian tersadar ketika genggaman mengepal dalam kekosongan.

Barangkali ada beberapa luka yang tidak bisa hilang. Mungkin akan sembuh pada nantinya, namun tidak benar-benar hilang. Karena lewat luka-luka itu, kita dipertemukan dengan diri kita sendiri. Berteriak kepada dunia bahwa kita ada, bukan sekedar eksistensi imajiner belaka.

Setiap luka menghadirkan kepasrahan untuk menyerah.
Menyerah dalam kelelahan.
Karena berserah dalam penyerahan diri bukan berarti kekalahan.
Sama seperti mata kita yang ingin terpejam jika mengantuk.
atau tubuh kita yang ingin dipijat karena pegal.
Semua orang pernah merasa kelelahan. ingin menyerah, ingin berhenti melakukan sesuatu yang memberatkan, ingin melepaskan beban, ingin menghempaskan diri di udara atau membenamkan tubuh dalam tanah sedalam-dalamnya. Ingin menghilang. ingin berada diketerasingan.

Ada paradoksal disetiap momen hidup yang kita lewati, membuat kita berperang dengan diri kita sendiri. Berjuang mempertahankan diri dari kekalahan yang membuat hidup tidak menjadikan kita seperti hidup.

Lalu pada saatnya kita tertidur karena kelelahan, kita menyimpan luka-luka itu dalam mimpi dan ketika terbangun, dada kita mengemban rasa sakit, nafas memberat. Ada jerit yang menggumpal yang membuat kita tercekat.

Ada saat-saat kita harus mengakrabi hati kita masing-masing. bukan untuk menyingkirkan luka dan kelelahan, bahwa kita harus berteman dengan diri sendiri untuk saling menyembuhkan. Sehingga luka tidak melahirkan ketakutan.

Sehingga meski kita sibuk sendiri-sendiri, namun tidak merasa ditinggalkan.

Kita menikmati senja,sore dan jingga dalam kesederhanaan. Dan seperti itu pula juga kita menikmati luka, bukan dengan sendirian. Namun bersama dengan diri kita sendiri. Menikmati nafas demi nafas, bercengkrama dengan ruang demi ruang dari hati milik kita. Karena kita cuma manusia, yang gampang terluka. Seperti selembar daun yang satu persatu terjatuh. namun akan hidup kembali.

No comments:

Post a Comment

Lembayung Laut Biru

                                                          Ada nama yang tidak sekadar dipanggil -- ia diseru. Dipanggil bukan hanya oleh sua...