tidak dilayar ponselku.
tidak disitus jejaringku
tidak dimana-mana..
Entahlah dimana nama itu bersembunyi.
mungkin sekarang dia sedang bermain-main di pantai, mengejar ombak, berenang-renang dengan riang, memancing ikan. atau berjemur, merasakan matahari yang menghangat.
Mungkin juga sekarang dia sedang berlarian mengejar cintanya yang hilang, berdiskusi seru dengan seseorang yang baru hingga larut malam sambil menyesap kopi kesukaannya. kemudian tidur bersama sambil berpelukan.
Mungkin juga sekarang dia tetap sendirian, duduk ditepian taman sambil merenung mengilhami dan menguatkan diri sendiri. mengisi kembali hati yang entah kemana perginya.
Yang aku paham nama itu tidak dimana-mana.
Hilang!
Ada kekosongan yang tidak bisa dijelaskan. Hidupku tetap berjalan dengan normal dan biasa-biasa saja.
Aku masih bisa melakukan semua aktifitas dengan normal, seperti makan, tidur, minum, bekerja, mengejar kereta, bergegas pulang dan lain-lainnya.
Tapi aktifitas itu dikerjakan sekedarnya saja, seperti aku memiliki semacam tombol yang berfungsi sesuai dengan mestinya sebagai bentuk kewajiban dan keharusan, tanpa perlu berpikir apa-apa setelahnya. Tubuhku seperti melaksanakan berbagai hal sesuai program seperti mesin.
Jam weker ku tetap berbunyi dengan semestinya. Jam tidurku tetap seperti biasanya.
Yang berbeda adalah nama itu tidak dimana-mana.
Nama itu tidak lagi menyemangati ketika hidup sedang sibuk.
Nama itu tidak lagi menawarkan malam ketika aku kelelahan.
Nama itu tidak lagi menyediakan pundak untukku beristirahat.
Nama itu tidak ada dimana-mana.
Mungkin nama itu sudah lupa dengan adanya namaku.
Namun, ada ruang tersendiri yang tidak terjelaskan ketika setiap aku mulai mengingat nama itu, seperti ada sesuatu yang meninju hatiku.
dan kemudian semua berantakan.
Ketika nama itu tidak dimana-mana
seperti ada tombol pause yang menghentikan segala fungsi dalam diri. dan segala suara seperti dibuat mute. Hanya ada keheningan. Lagu sunyi. tanpa suara riuh.Semua berhenti seketika, tapi hanya hidupku saja, sedangkan yang lainnya masih normal-normal saja. Hujan juga masih tetap jatuh diatas atap kita. Genangan air pun masih menggenang sama di trotoar.
Cuma hidupku yang sekiranya terhenti.
Debar yang sekiranya ada, tiba-tiba tersamar hampir berhenti.
ahh.. nama itu hilang.
seperti gagasan aku tentang hidup, tiba-tiba rumit ketika seharusnya mampu disederhanakan.
nama itu hilang,
seperti udara yang terbakar.
nama itu tidak dimana-mana.
dan aku pun berhenti mengingat.
nama itu tidak dimana-mana
dan aku pun berhenti mengejar
nama itu tidak dimana-mana
dan aku pun berhenti berlari,mencari dan mengejar keberadaannya.
No comments:
Post a Comment