Hey kamu..
Yang sedang terpekur di dalam kamar berdinding gelap
Entah sedang sendiri,atau bercengkrama dengan pikiranmu sendiri..
Aku tergerak untuk menulis satu atau dua lembar surat kepadamu,
Bisa jadi akan ku kirim lewat e-mail mu atau lewat pos kilat langsung sampai di depan gerbang rumahmu..
Atau mungkin aku akan mengirimnya sekreatif mungkin lewat kamu sendiri yang sedang terlelap bersama malam dan suara jangkrik yang mengayunkanmu pada mimpi.
Aku beranikan diri untuk menyampaikannya pada kamu,
Entah akan seberani apa ketika akhirnya aku memutuskan untuk tetap mengirimkannya padamu.
Tapi tanganku tetap bergerak untuk menuliskannya pada kamu, sang rahasia..
Sama rahasianya seperti lirik lagu kinanti.
Lagu Kinanti yang sedang kudengar tadi menambah rasa haru biru, semoga rindu ini terselesaikan,sampai kepada akhir lagu ini juga surat yang sedang kutulis kepada kamu yang misteri :
Hai, Apakabar?
Semoga kamu baik-baik saja, Jangan berpikir negatif ya! Surat ini bukan surat cinta. Ini hanya sekedar surat basa-basi, semacam surat curhat yang tidak pernah bisa aku sampaikan secara langsung jika kita bertemu. Ketika membaca ini, kamu boleh berhenti dikalimat manapun sesukamu. Atau mungkin tidak ingin membacanya pun tidak apa-apa. yang paling penting adalah ketika aku melega dengan apa yang ingin aku sampaikan.
Aku berpikir. Mungkin kita memang sebenarnya sudah mengenal sebelum kita benar-benar mengenal satu sama lain. Dan kali ini aku sedang mengintip masa lalu. Apakah di masa lalu itu kita pernah menciptakan satu momentum yang belum kita ketahui? Semisal ketika aku berjalan di sudut kota, kamu pun sedang berjalan disudut yang sama. Hanya saja kita adalah sesuatu yang masih rahasia. Tak terketahui bahkan oleh hati kita sendiri.
Ataukah seharusnya kita bisa saling menyapa,namun kita malah menyanyi dalam musik diam. Atau ketika kita bertatapan ada rasa malu-malu yang melayangkan jiwa kita sendiri-sendiri.
kamu tahu,
Mungkin kita memang masih rahasia. Namun aku punya sebuah mimpi yang tak terbantahkan. Meskipun aku belum tahu urutan mimpi itu akan kemudian menjelma menjadi nyata, namun mimpi itu mempersatukan kita secara tak kasat mata. Seperti kesamaan antara kamu dan hidup yang tidak selalu berkolerasi dalam kesenangan, seperti kita yang masih dirahasiakan oleh takdir kita sendiri. namun kerahasiaan kita tetap terpikirkan oleh Tuhan. Maka ketika mimpi itu mengetuk begitu keras, aku pikir kita akan satu tujuan, berdetak dengan jantungmu di setiap ujung langkahmu bersamaan. Sepenanggungan, karena rindu yang tiba-tiba ini tidak mungkin aku tanggung sendirian.
Aku menulis surat ini karena aku punya harapan,bahkan ketika kamu belum mengerti akan harapanmu sendiri. Meskipun mungkin nanti harapan itu tidak berkembang oleh karena fakta yang terlalu akurat untuk kita, Namun tidak sedikitpun aku berhenti untuk punya harapan terhadapmu. Untuk kita menjadi satu.
Mungkin ini adalah kalimat terakhirku padamu. Dengan gagah berani aku ungkapkan bahwa aku ingin mencintaimu dengan cara istimewa yang bisa aku pikirkan. Dengan kata-kata yang akan menemanimu seperti seorang sahabat, karena cara terbaik untuk tetap berada dekat denganmu adalah dengan menjadi seorang sahabat. Hingga aku tidak perlu menjelma menjadi apapun, tetap menjadi aku yang ada di dekatmu, di malam dan siangmu, dicerah dan mendungmu, atau ketika hujan berupa gerimis manis, kamu akan selalu tahu dimana aku berada.
Aku percaya bahwa kita memang sedang dalam perencanaan. Kita belum tahu, apakah rencana itu hanya sekedar menjadi blue-print atau memang kemudian benar-benar nyata. Namun kita pasti akan berkaitan,dengan dua tangan yang saling menggenggam,serta kaki yang berjalan beriringan.
Sabarlah kamu disana..
Sebentar lagi aku akan datang..
Ku sudahi menuliskan surat untuk kamu yang tak bernama,tak bertanda.
Ku lipat dan ku masukan kedalam botol..
Biar gelombang laut yang akan menemukanmu disana bersama surat dalam botolku.
Dan semoga lagu-lagu yang kumainkan ketika menulis surat ini,
Hinggap pula di udara, hingga kamu dapat menghirupnya dan merasakan kehadiranku yang tanpa nama.
Pelita Kemuning, Kita dikala diusainya senja Semilir meniup sukma Semoga tersalingkan rasa, meluruhkan gulita Kelabu segera berganti
KINANTI Inspired by ; Katjie&piering : Kinanti
No comments:
Post a Comment