Selalu ada pelangi bahkan ketika senja.
Seperti aku yang mengharap-harapkan pelangi dikala senja sesudah hujan. Mengharap-harapkan adanya keindahan bahkan waktu sunyi. Bahkan dikala sendiri, bahkan dikala bahagia,dan bahkan-bahkan lainnya untuk menyelingi hentakan rasa yang tidak kunjung diam.
Selalu ada sesuatu dibalik pelangi, bukan Cuma warna yang bergelayutan diujung awan. Namun benar-benar ada sebuah tempat yang menunggu untuk dikunjungi. Sebuah tempat yang berujung pada tempat-tempat lain yang mungkin bisa kita sebutkan sebagai sebuah rumah. Bukan Cuma rumah yang ada perabotan, berpintu dan berjendela lebar, ada ruang makan,kamar mandi dan ruang-ruang serbaguna lainnya. Karena ruang Cuma sebuah ruang, mereka mati! Namun bukan berarti tidak bisa dihidupkan. Kita bisa menghidupkannya cukup dengan menjentikan jari.
Satu kali kita pernah membahas ini. Mengenai rasa asing yang pernah sama-sama kita hindari. Perasaan beku yang pernah sama-sama ingin kita lepaskan. Mengenai rasa-rasa yang bergelung erat didalam diri kita. Satu persatu kita peluk erat dengan semua rasa itu tanpa benar-benar tahu apa yang kita rasa.
Kamu melanjutkan bagianmu. Maju kedepan kearah yang sudah kamu ciptakan. Dan aku mundur kebelakang untuk menyelesaikan bagianku yang sempat tertunda. Satu persamaan dari kita adalah kita sama-sama sedang mencoba menuntaskan banyak hal yang kita rasa itu penting. Selalu kembali kepada sang rasa. Seperti poros dunia yang berputar disegala arah namun akan selalu kembali kepada satu titik asal pada akhirnya.
Dalam sebuah persamaan pasti terselip satu perbedaan yang paling mendasar. Dan yang berbeda adalah kita tidak mengerti peran apa yang harus kita jalankan. Jika saja kita bisa bicara seperti seorang sahabat mungkin kita bisa mengerti harus melakukan apa agar peran kita bisa memerankan diri kita dengan sebaik-baiknya. Semakin kita diam,semakin besar pula perbedaan kita.
Saat ini aku menikmati rasa diam. Lewat diam aku mengerti ada ragam rasa yang tidak ternilai dan menunggu untuk kita mau menengok yang tidak hanya sekedarnya saja. Ada hentakan-hentakan keras yang melukai sehingga rasa tersebut malah tidak kita indahkan. Hentakan dalam hati itu semakin keras. Dan semakin lama pula aku mendiamkan rasa.
Sekali lagi, selalu ada suatu tempat di dasar pelangi, yang selalu ada. Bukan untuk saling melukai, atau berimajinasi mengenai tempat-tempat indah. Namun sebuah tempat yang menerima keberadaan dengan seutuhnya tanpa ada penolakan. Bukan tempat yang Cuma tempat biasa, namun tempat yang berisi banyak cerita,inspirasi, dan cinta. Membuat kita hidup sehidup-hidupnya. Membuat kita menghirup udara sebebas-bebasnya. Membuat kita mampu mewujudkan mimpi sejelas-jelasnya. Dan kamu perlu tahu, aku cukup bahagia dengan itu. Bukan dengan tempat beruangan luas. Namun tempat yang cukup untuk aku bernafas, hidup, bermimpi tanpa takut semua itu akan habis dimakan masa. Sebuah perjalanan makna yang diciptakan oleh kita sendiri, dan sekali lagi aku percaya bahwa ada sebuah tempat diujung pelangi sana. Pada saatnya kita akan tiba. Pada saatnya nanti
No comments:
Post a Comment